Selasa, 27 Desember 2016

Wilayah dan Pertumbuhan Negara Berbangsa Tunggal

Sebagan besar orang yang hidup di bumi saat ini tinggal di dalam negara berbangsa tunggal. Akan tetapi, hal ini merupakan suatu fenomena baru dalam sejarah masa kini. Jauh berbeda dengan masa lalu, ketika benua-benua berada di bawah kekuasaan kepala suku, raja, kaisar, dan sultan yang masing-masing berbeda –para penguasa yang lalim yang memerintah dengan paksaan dan teokrasi dijaga kesatuannya oleh agama. Kelompok-kelompok etnis memberikan pengakuan atas wilayah mereka dan demikian hingga abad ke-16, manusia hidup menetap dengan batasan territorial tersebut dan tertata melalui hak kepengurusan tanah. Sebagai mana ketahui, negara-negara yang berbangsa tunggal baru mulai membeku selama abad ke-19. Dimulai dengan Pejanjian (1648), mulai disusunlah standar untuk menetap pembatasan wilayah domestik dan mengenali bangsa-bangsa yang merdeka. Setelah itu, kekaisaran-kekaisaran lama –Kekaisaran Rusia, Kekaisaran Austro-Hungaria, Kekaisaran Inggris- mulai runtuh, dan mulai muncul negara-negara berbangsa tunggal. Oleh sebab itu, di sini nasionalisme merupakan hal baru dan merupakan sebuah fenomena modern. Sesudah itu, negara-negara berbangsa tunggal yang modern menjadi jantung sistem peperangan yang merupakan bencana besar yang dibangun atas dasar nasionalisme pada abad ke-20 Istilah negara dan bangsa terdengar seperti dua hal yang bertentangan.

Teori Kosmos dan Evolusi

Untuk memahami dunia tempat kita tinggal ini, kita harus mengetahui sedikit mengenai masa lalu kita; dan ini merupakan sebuah kisah sejarah yang sangat merendahkan hati kita. Sebagaimana diajarkan kepada anak-anak sekolah, Planet Bumi berusia kurang lebih 4,5 miliar tahun di sebuah jagat raya yang umurnnya telah mencapai sekitar 15 miliar tahun; dan berada di salah satu miliaran galaksi (berdasarkan data dari Hubble space Telescope pada tahun 1999, diperkirakan ada 125 miliar galaksi di jagat raya ini, dan baru-baru ini, dengan kamera terbaru, telah ditemukan sekitar 3000 galaksi: begitu banyak). Tak ada kehidupan sama sekali dalam kurun waktu yang lama di bumi ini, dan masa itu, miliaran tahun sebelum dinosaurus menjadi penguasa di bumi ini -dan kemudian musnah. Enam puluh lima juta tahun yang lalu primata muncul, diikuti dengan kera-kera besar kurang lebih 12 juta tahun lalu. Dengan mempelajari catatan fosil, tampak bahwa dasar-dasar kebudayaan seperti api, perkakas, senjata, tempat tinggal sederhana, dan pakaian sederhana. Terdapat mulai muncul pada sekitar dua juta tahun yang lalu tanda-tanda bahwa setelah zaman es besar berakhir, populasi manusia di bumi mungkin sekitar 5 juta jiwa, tetapi pada 500 SM sudah mencapai sekitar 100 juta jiwa. Peradaban-peradaban besar masa lalu (mencakup Mesir, Cina, Arab, dan Mesoamerican) baru dimulai 5.000 tahun lalu. Peradaban peradaban besar kian datang dan pergi, tidak ada yang bertahan lama dalam rencana besar di balik semua ini. Dari situ kemudian berkembanglah masyarakat nomaden, agrikultural, dan masyarakat feodal. Namun dunia industri, seperti yang kita ketahui, baru dimulai 300 tahun lalu. Sosiologi kontemporer mempelajari bagian-bagian kecil dari sejarah masyarakat ini. Jadi, di ini kita memiliki sejarah dunia dalam hampir tidak ada sampai 20 jalur. Dan tentu saja, jutaan orang tidak akan sependapat dengan cerita ini orang-orang yang suka membuat kreasi" contohnya, masih ingin orang memercayai bahwa sejarah bumi itu jauh lebih sederhana: diciptakan oleh Tuhan dalam beberapa hari, atau tidak lebih dari seribu tahun. Hal ini memang sungguh merendahkan hati kita dan semua nya sangat penting untuk diingat saat kita sedang mengadakan pengamatan mengenai masyarakat zaman sekarang. Jika kita mengeluarkan pernyataan besar atas masa sekarang, kita harus selalu ingat pernyataan-pernyataan yang jauh lebih besar mengenai masa lalu kita. Namun demikian, sosiologi sendiri lahir pada masa-masa sekarang ini. Sosiologi sendiri merupakan sebuah hasil perubahan yang terjadi pada abad ke-19 -yaitu yang sering disebut dengan "Great Transformation" atau Perubahan Besar Revolusi Industri, Revolusi Prancis, Revolusi Amerika- dan perpindahan-perpindahan besar dalam kondisi kehidupan sebagai mana manusia berpindah dari desa ke kota, ke dalam kehidupan pabrik dan kapitalisme, dan bermigrasi dalam jumlah besar ke seluruh penjuru dunia. Di sini, di dunia yang modern ini, di sudut kemiskinan kota dan sistem penggolongan masyarakat baru ini lah, sosiologi terlahir. Dan sekarang sosiologi mencoba menelusuri munculnya bermacam-macam jalan hingga sampai pada yang kita sebut dengan "modernitas yang berlipat ganda" (sebagai contoh, bentuk yang berbeda-beda yang ada dalam dunia modern).


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers


Sosiologi Setelah Perang Dunia 2

Dalam masa setelah Perang Dunia II, muncul sebuah zaman baru "sosiologi profesional" yang bertujuan untuk membawa kematangan dan untuk jangka waktu yang pendek muncul juga semacam consensus akhir sosiologi" (yang menyatakan mengenai batas akhir ide-ide politik). Hal ini khususnya terkait dengan karya teoretikus fungsionalis seperti Kingsley Davis Robert King Merton, dan Talcott Parsons. Sungguh, pada tengahan abad ke-20 tidak ada sosiolog yang lebih dikenal daripada Talcott Parsons (902-1979). Seperti halnya semua sosiolog, gagasan-gagasannya mengalami perubahan seiring tetapi pada tahun 1951 ia menerbitkan The Social system Karyanya ini berisi mengenai penelitian untuk mengembangkan penjelasan luar biasa mengenai peran tatanan sosial, dan disana ia menguraikan prasyarat berfungsinya masyarakat melalui sederet kotak dan tipologi terperinci. Menurut Parsons, semua kelompok masyarakat harus menjalankan beberapa fungsi utama: mereka harus beradaptasi (to Adapt), meraih tujuan mereka (Goals), menyatu (Integrated), dan mempertahankan diri (Latency) -sebuah rumusan yang sering disingkat menjadi AGIL. Pelukisan sistematis yang sangat abstrak atas kebutuhan sosial tertentu ini yang harus dipenuhi oleh setiap kelompok masyarakat untuk dapat menjaga kehidupan sosial agar tetap stabil, menghasilkan sebuah tipologi dan daftar yang mendekati seratus kotak –sebuah peta sistem sosial dan fungsi-fungsi terkait, dari sistem biologis sampai sistem dunia. Karyanya dapat diterapkan pada banyak lingkup kehidupan sosial-bagaimana sekolah berjalan, rumah sakit beroperasi, dan penjara berfungsi sebagai sistem? Mereka semua dapat dilihat sebagai sistem yang berusaha mencapai tujuan tertentu, menyosialisasikan anggotanya pada kebudayaan mereka, serta beradaptasi sepanjang jalan.

Sosiologi Pada Masa Perang

Abad ke-20 yang pendek ini menghadapi masalah-masalah baru.ketakutan atas dua perang dunia, dua revolusi dunia (Cina dan Rusia -bersamaan dengan yang lain), kedatangan masa-masa kerusakan yang diakibatkan oleh penjajahan di masa lalu, dan kehancuran serta kesengsaraan yang diakibatkan oleh kezaliman industrialisasi pendahulu. Kondisi sosial yang berbeda lalu mulai mengarahkan pada analisis yang berbeda. Di Jerman, fasisme semakin merangkak naik, kemudian diamati oleh sekelompok pemikir yang mengembangkan teori kritis dan kemudian dikenal sebagai Frankfurt School (sesuai markas mereka). Theodor Adorno (1903-1969), Herbert Marcuse (1989-1979), Marie Jahoda (1907-2001), Eric Fromm (1900-1980), Walter Benjamin (1892-1940), dan Max Horkheimer (1895-1973) telah meninggalkan warisan penting berupa kritik-kritik sosial dan kebudayaan. Perhatian utama mereka adalah pada penerapan gagasan-gagasan Marxis secara luas (dan juga Freud) ke dalam kebudayaan seperti halnya mereka meneliti kemunculan masyarakat besar, teknologi dan birokrasi yang terus mengalami perkembangan, serta pertumbuhan "Industri Kebudayaan" sebagaimana disebutkan oleh Adorno -sering kali mengatur dan meremehkan hidup kita. Karl Mannheim (1993-1947) yang mengembangkan sosiolog pengetahuan, dan Norbert Elias (1897-1990) dengan teorinya yang dikenal dengan "proses peradaban" juga beberapa kali ikut bermarkas di Frankfurt. Akan tetapi, mereka semua pada akhirnya melarikan diri dari Nazi. Sebagian besar dari mereka mencari tempat tinggal di Amerika Serikat dan California (Adorno dan Marcuse) atau New York (di New School), atau Inggris (Elias dan Mannheim). Karya tulis mereka -sering kali sulit dimengerti- menjadi krusial dalam terbentuknya analisis kontemporer mengenai kebudayaan (mungkin sekarang perkembangan yang paling signifikan dari kedudukan tadi dapat dijumpai dalam buku Jürgen Habermas). Selama periode tersebut, sosiologi lebih banyak dan agak menghilang di bawah Stanilisme dan Maoisme -dua benua luas bagi mereka yang tidak dapat menerima keadaan sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu.


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers



Sosiologi Awal Abad 20

Apa pun aliran yang ada di dalamnya, sejak abad ke-20 sosiologi dan secara cepat menjadi disiplin ilmu akademis yang "pasti Albion small (854-1926) mendirikan Departemen sosiologi di Universitas Chicago pada tahun 1892 dan bertahan menjadi institusi penting sampai pertengahan tahun 1930-an ketika mendapat saingan dari Pitirim Sorokin yang mendirikan Departemen Sosiologi di Universitas Harvard pada tahun 1931. Durkheim mendirikan Departemen Sosiologi pertama di Eropa di Universitas Bordeaux pada tahun 1895 yang memperkenalkan The Rules of sociological Method sebagai sebuah manifesto yang menyatakan bahwa sosiologi adalah hal yang harus dijalankan. Di Inggris Raya, sosiologi sebagai sebuah mata pelajaran mulai diajarkan di London School of Economics pada tahun 1907 ketika L. T. Hobhouse (1864-1929) menjadi Profesor sosiologi pertamanya. London tetap menjadi pusatnya -memang karena satu-satunya tempat (jauh dari Liverpool University) sampai pertengahan abad ke-20. Di Jerman, tempat pertama untuk sosiologi dibentuk pada tahun 1918 dan 1923, Institusi Penelitian Sosial yang berpengaruh pun didirikan. Pada tahun 1919, Departemen Sosiologi India yang pertama didirikan di Bombay (Mumbai). Namun demikian, di sejumlah negara di seluruh dunia, sosiologi sulit dikembangkan pada sepanjang abad ke-20 dan di beberapa negara sosiologi ada yang dilarang.

Sosialisasi dan Diri

Seorang bayi yang baru lahir, penuh dengan hasrat-hasrat jasmaniah, bayi merupakan manusia yang murni -tetapi belum memiliki sifat sosial. Sebagaimana diketahui oleh orang tua yang baik tentunya, bahwa butuh waktu untuk melatih seorang serta membantunya memahami masyarakat dengan benar. Bayi, Proses ini dinamakan sosialisasi utama atau awal melakukan dengan cara yang berbeda-beda dalam kebudayaan dan sejarah yang berbeda pular anak-anak diasuh oleh inang, pengasuh anak, kelompok-kelompok yang hidup bersama dan keluarga keluarga besar, oleh orang tua tunggal, panti asuhan, dan sebagainya. Ada banyak perbedaan kebiasaan dalam membesarkan anak, dan banyak penelitian menghasilkan grafik yang menunjukkan bagaimana anak-anak mulai membentuk bahasa mereka, rasa percaya pada diri sendiri serta kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat untuk menjadi baik atau buruk. Yang teriihat jelas adalah bahwa jika mereka dibiarkan sendirian tanpa pengaruh-pengaruh normative dari orang lain, mereka tidak akan dapat berkembang. Banyak penelitian yang dilakukan pada anak-anak liar yang dibiarkan terisolasi dan kemudian mereka didapati tidak dapat berfungsi sebagai makhluk sosial (contoh dapat diperoleh di website Feral Children).

Ringkasan Sketsa Historis Sosiologi Tahun-tahun Kemudian

Kita mulai dengan sejarah awal teori sosiologi Amerika yang ditandai oleh liberalismenya oleh perhatiannya terhadap Darwinisme sosial dan pengaruh Herbert Spencer. Dalam hal ini dibahas karya dua orang teoretisi sosiologi awal, Sumner dan Ward. Tetapi keduanya tidak meninggalkan kesan abadi dalam teori sosiologi Amerika. Sebaliknya aliran Chicago seperti yang terwujud dalam karya teoretisi seperti Small, Park, Thom. as, Cooley, dan terutama Mead, meninggalkan tanda yang kuat dalam teori sosial terutama dalam interaksionisme simbolik.  Sementara aliran Chicago masih berkuasa, sebuah bentuk lain teori sosiologi mu lai tumbuh di Harvard. Pitirim Sorokin memainkan peran penting dalam mendirikan sosiologi di Harvard, tetapi Parsons-lah yang memimpin Harvard ke posisi unggul dalam teori sosiologi Amerika menggantikan interaksionisme simbolik Chicago, Peran Parsons tak hanya penting dalam melegitimasi "teori besar" di Amerika dalam memperkenalkan teoretisi Eropa kepada khalayak Amerika, tetapi juga dalam peranannya mengembangkan teori aksi, dan yang lebih penting lagi, fungsionalism struktural. Pada 1940-an dan 1950-an fungsionalisme struktural semakin mengemuka karena adanya disintegrasi di dalam aliran Chicago yang dimulai tahun 1930-an dan berpuncak pada 1950-an.

Sejarah Singkat Mengenai Sosiologi Barat

Seiring pertumbuhan skala masyarakat dan perkembangan pemikiran ilmiah, maka tidaklah mengejutkan bahwa "sosiologi" muncul secara perlahan sebagai sebuah disiplin ilmu intelektual vang baru. Semenjak adanya "perubahan besar" pada awal abad ke-19, sosiologi semakin masuk ke dalam dunia Barat sebagai sebuah disiplin ilmu penelitian di perguruan tinggi, dan sekarang di di abad ke-21 sosiologi sudah dapat dijumpai di sebagian besar negara di dunia. Kompleksitas kehidupan global modern hampir-hampir menuntut kita untuk melakukan pemikiran yang serius (bahkan "akademis") mengenai masyarakat; dan mengenai pembagian tenaga kerja yang besar yang diakibatkan oleh dunia modern, banyak orang sekarang harus mengorbankan waktunya, keahliannya, dan energi intelektualnya untuk melakukan semua ini. Pada saat yang bersamaan, ingatlah selalu bahwa sosiologi itu berasal dari Barat: yang berarti bahwa seluruh isi sosiologi dipenuhi dengan asumsi dan nilai-nilai Barat. Ini, sebagaimana yang akan kita mengerti, adalah mengenai keharusan melakukan perubahan.


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers



Relativisme Pendidikan

Relativisme ini merupakan hasil dari kaum posmodernis yang berusaha memberontak tatanan yang sudah mapan, Situasi di posmodern sebagai sebuah penolakan terhadap paradigma-paradigma besar, lama, kokoh, dan tak tersentuh. Postmodernisme acapkali menolak apa pun yang selama ini tidak bisa ditolak sekalipun. Hasil dari ideologi besar ini adalah pendidikan yang mengacu pada konteks yang tumbuh di sekitarnya. Contoh:

Praktik Sosiologi

Untuk memahami dunia secara sosiologis, seperti halnya keterampilan yang lain: diperlukan sebuah latihan dan ini berarti mempelajari beberapa cara dari sebuah pekerjaan –pernyataan Howard Becker- dari teori lain yang telah ada sebelumnya. Sosiolog -seperti para peneliti dan artis- perlu mengolah keahlian secara khusus, imajinasi dan cara berpikir: menjadi kritis, mampu berdialog dan bercermin. Kita memerlukan biografi manusia yang kompleks dan bergerak dalam ruang dan waktu yang sempit, untuk memahami subjektivitas manusia dalam hubungan kekuasaan dan hubungan materiil di dunia; dan kita memerlukan suatu jarak yang aman-memiliki perbedaan nilai objektivitas yang cukup- sambil menjaga semangat pribadi. Beberapa bagian dari aktivitas sosiolog adalah seperti belajar piano, mempelajari sebuah bahasa atau alat-alat baru (mempelajari sebuah pengetahuan baru) dari seorang ahli biologi atau kimia. Ada beberapa keterampilan yang bertingkat-tingkat serta berbagai kesulitan dalam mempelajari sosiologi, pada awalnya ada beberapa hal serta beberapa keterampilan yang harus dipelajari. Tahap demi tahap, dan berbagai kompetensi harus dipelajari.

Perilaku-perilaku Sosial

Sebuah catatan paling terkenal mengenai perilaku sosial disajikan oleh Max Weber lebih dari satu abad yang lalu. Secara sederhana ia menyebutkan bahwa perilaku sosial menunjuk kepada kehidupan manusia saat mempertimbangkan makna diri mereka di mata orang lain. Hal ini berkaitan dengan yang disebut dengan "intersubjektivitas", ketika manusia mencoba memahami kehidupan sosial dengan memasuki pikiran orang lain yang berinteraksi dengan mereka. Charles Cooley juga melihat padahal ketika ia berkata, "Kita berada di dalam pikiran orang lain" Jadi, satu tugas sosiolog adalah menyelidiki beraneka ragam perilaku sosial, dengan realitas dan sifat masing-masing. Secara singkat, perilaku sosial dapat meliputi (daftar ini tidak mewakili keseluruhan):

Pancasila Sebagai Ideologi Kaum Terdidik

Dalam konteks keindonesiaan sekarang muncul dalam bentuk Pancasila. Pembahasan ini bertitik-tolak dari pentingnya pengembangan ideologi Pancasila sebagai aktualisasi pendidikan. Berdasarkan argumentasi tersebut maka dengan maksud menawarkan sebuah model pengembangan kebudayaan budaya Pancasila melalui analisis terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Kebudayaan. Pengembangan itu menggunakan perspektif antropologi yang didukung oleh metode hermeneutik dan konstruksi epistemologis yang dikembangkan oleh Immanuel Kant.

Pendidikan Dalam Konteks Terorisme

Peristiwa runtuhnya gedung WTC di Amerika pada 11/9/2001 menandai adanya sebuah masa yang dihantui dengan isu terorisme. Isu tersebut masuk di dalam praktik pendidikan secara tak terhindarkan. Masa itu telah memberikan banyak kebijakan-kebijakan yang terkait dengan terorisme. Selama itu pula praktik kultural di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pemikiran tentang terorisme. Pada 2010 sebuah organisasi nirlaba Lazuardi Birru mengadakan symposium "Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme" di Jakarta. Hasilnya, pemutusan mata rantai itu tidak bisa dilakukan dengan satu pendekatan. Dirumuskan, "Pemecahan permasalahan radikalisme dan terorisme memerlukan pendekatan yang komprehensif dan lintas sektoral. Bukan represif (hard approach) dari aparat keamanan saja, melainkan harus dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang persuasif dan humanis dari seluruh elemen bangsa. Sinergi para tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, tokoh agama, organisasi sosial kemasyarakatan, organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, lembaga masyarakat (LSM), media masssa dan masyarakat umum dalam setiap rencana aksi dan solusi dsangat diperlukan. Semua jadi percaya bahwa pemecahan masalah radikalisme di Indonesia tidak bisa secara sebagian. Pernyataan itu bisa dibaca bahwa radikalisme adalah masalah mutidimensi, sebuah krisis sosial budaya, ekonomi, dan politik secara berturut-turut.

Sosiologi Klasik Pada Abad ke-19

Abad ke-19 dan awal abad ke-20 menjumpai begitu banyak aktivitas intelektual seputar sifat dasar masyarakat –kebanyakan di antaranya saat ini telah terlupakan Uohn Scott, Social Theory (2006) merupakan sebuah buku pedoman yang menarik dengan karya-karya yang sudah hilang pada masa kini yang juga mencari kesinambungan antara saat ini dan selanjutnya). Dokumen-dokumen sejarah saat ini meninggalkan rasa di saat para laki-laki berjuang untuk menatap dunia demi memahami perubahan cepat sambil menghadapi kejutan yang dibawa oleh teori evolusioner. Mereka membandingkan masyarakat-masyarakat yang ada di dunia dan berusaha untuk mencari pemahaman mengenai dari mana asal muasal kita dan sedang berada di mana saat ini, mengingat teori evolusioner itu membawa pengaruh, tetapi juga mengejutkan. Teori ini menantang banyak pandangan ortodoks mengenai dunia -terutama dari sisi agama. Meskipun mereka semua berasal dari bangsa Barat, mereka memiliki pandangan sendiri-sendiri mengenai dunia ini secara luas.

Munculnya Ilmu Pengetahuan Modern

Dunia yang kita diami ini saat ini banyak terbentuk oleh ilmu pengetahuan dan penelitian, serta teknologi yang menyertainya. Pengetahuan Islam-Arab sempat sangat maju sampai pada Ilmu abad ke-13, dan ada juga sejarah perkembangan ilmu pengetahuan negara-negara lain termasuk Cina. Akan tetapi, selama empat ratus tahun belakangan ini atau lebih, ilmu pengetahuan modern telah berkembang di negara-negara Barat dengan begitu cepatnya perkembangbiakan besar pencapaian ilmu pengetahuan sejalan dengan legitimasinya yang besar sebagai sumber pengetahuan utama (dalam bidang hukum, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya), yang berarti bahwa sebagian besar ilmu pengetahuan membawa ciri khas dunia modern.

Mobilisasi Massa, Protes, dan Politik Kepentingan

Mobilisasi massa dan gerakan sosial mulai memberi pengaruh di negara-negara Barat selama akhir abad ke-18 -secara masif ditandai dengan Revolusi Prancis. Selama abad ke-19, mulai muncul suatu tatanan elemen yang dapat bertahan lama yang menyebar ke seluruh dunia (melalui penjajahan, migrasi, dan perdagangan) dengan lebih banyak kelompok dan populasi yang dapat disatukan dalam bentuk-bentuk tindakan politik baru. Charles Tilley (1929-2008) adalah seorang sosiolog yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menunjukkan peningkatan gerakan-gerakan sosial sejalan dengan berkembanganya kotak suara.

Masyarakat Dapat Dijelaskan Dengan Drama

Pada saat para sosiolog ingin memusatkan perhatian mereka pada kegiatan-kegiatan di dalam kehidupan sosial –bagaimana sebuah kehidupan dijalani- gambaran yang paling sering muncul adalah sebagaimana sebuah drama. Kehidupan sosial adalah sebuah teater: kita terlihat sedang menjalankan peran-peran sosial saat melalui hidup ini -kita menjadi pemerannya, memainkan bagian demi bagian, menggunakan dukungan, melatih lagi bagian yang harus kita mainkan, terkadang kita menyukai peran-peran kita, terkadang kita menjauhkan diri dari peran tersebut. Identitas menjadi topeng, sebagaimana pada akhirnya kita bertanya mengenai perbedaan-perbedaan di antara kenyataan sesungguhnya dengan apa yang tampak. Itulah gambaran dari seorang tokoh pemikir sosiologi yang ternama, Erving Goffman (1922-1982), seorang "sosiolog mikro" yang paling berpengaruh di abad ke-20. Seperti yang sudah kita ketahui, sosiologi mikro tidak begitu memerhatikan struktur struktur sosial skala besar seperti negara dan ekonomi, dan sebaliknya meneliti kehidupan sosial yang dihadapi seseorang dengan lebih dekat dengan skala kecil, dan langsung berhadapan.

Masyarakat Sebagai Konflik Kepentingan

Tidak seperti gambaran ikatan sosial atau organisme atau mesin yang memberikan banyak manfaat banyak orang melihat masyarakat sebagai sesuatu yang kurang ramah: seperti terjadinya peperangan dalam pertikaian politik antarkelompok yang berseberangan. Di sini perlu dipertanyakan mengenai perjuangan atau usaha manusia serta konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan sosial. Ya, sejarah masyarakat dengan mudah dapat dilihat seperti sejarah perang yang terkutuk. Dari perang Romawi dan Yunani hingga peperangan di seluruh dunia pada jaman sekarang ini (saat ini ada empat puluh titik permasalahan di dunia ini dari Afganistan sampai dengan Zimbabwe), tidak sulit untuk dapat melihat konflik dan huru-hara sosial yang begitu banyaknya seperti melihat benda-benda -sangat dinamis. Berkebalikan dengan gambaran ikatan sosial, sekarang kita berfokus pada perbedaan-perbedaan kita. Sekarang masyarakat dilihat dari peperangan atas konflik kepentingan.

Masyarakat Modern, Multikultural, dan Hibriditas

Sebuah ciri khas yang benar-benar menonjol dari dunia zaman sekarang adalah kesadaran yang semakin besar mengenai perbedaan-perbedaan yang dapat kita jumpai di dalamnya –ini merupakan sebuah dunia yang berdengung di tempat tujuh miliar orang di lebih dari 200 bangsa dengan bahasa dan nilai yang berbeda-beda sedang berjuang untuk memahami politik, agama, dan cara hidup yang berlainan. Ada sebuah suara hiruk-pikuk yang berusaha untuk dapat didengar dan gagasan multikuluralisme dapat membantu menangkapnya. Gagasan ini menyoroti mengenai perbedaan, antara kebudayaan-kebudayaan yang berbeda seperti India atau Zimbabwe, dan juga mengenali perbedaan luas di antara bahasa, agama, maupun gaya hidup di dalam sebuah negara. Indonesia dengan lebih dari 700 bahasa, Rusia dengan lebih dari 150 kebudayaan, dan Kanada dengan kelompok-kelompok migrasi level tertinggi. Kompleksitas perbedaan-perbedaan ini hanyalah sesuatu yang akan mulai kita perhatikan dengan serius di abad ke-21 ini.

Manusia Menurut Ilmu Sosiologi

Selanjutnya bagi kalangan sosiologi, manusia adalah makhluk hidup, dan kehidupannya tidaklah dapat dipisahkan dari hidup berkelompok. Sadar atau tidak sadar, manusia dari semenjak lahir sudah membutuhkan kelompok atau orang lain. Kehidupan sosial itu harus dipandang sebagai suatu tabiat kejiwaan yang lebih tinggi dan lebih sesuai yang telah tumbuh dari satuan biologi. Pandangan kaum sosiolog tentang manusia ini sejalan dengan pendapat Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan dalam teorinya, bahwa manusia adalah "zoon Politikon" yaitu makhluk sosial yang hanya menyukai hidup bergolongan, atau sedikitnya mencari teman untuk hidup bersama, lebih suka daripada hidup tersendiri.

Manusia Menurut Ilmu Antropologi

Bagi kalangan antropologi misalnya, melihat manusia berdasarkan teori evolusi. Menurutnya, bahwa semua makhluk termasuk manusia pada mulanya muncul dari satu sel yang amat sederhana, kemudian berproses dan berevolusi secara bertahap menuju taraf yang lebih sempurna, dan dalam proses evolusi tersebut terdapat hukum berjuang dan bertahan untuk hidup (The preservation of Favoured Rase in the strugle for Life, atau The of Species by Means of Natural Selection), yakni makhluk yang lemah dengan sendirinya akan hilang atau lenyap digantikan oleh makhluk yang lebih kuat. Dalam teori evolusi tersebut, asal usul manusia berasal dari benda-benda tidak bernyawa yang memiliki sel yang amat sederhana (anorganisme), kemudian berubah menjadi tumbuh-tumbuhan (vegetatif), selanjutnya menjadi binatang (sensitiva), kemudian menjadi makhluk yang mendekati manusia (homo sapiens, makhluk purbakala-primitif) dan terakhir menjadi manusia seperti sekarang. Proses perubahan atau evolusi tersebut terjadi dalam waktu yang berabad-abad lamanya." Teori evolusi ini diperkenalkan oleh Charles Darwin (1809-1882) yang dipengaruhi oleh Lamarck (1744-1829). Teori evolusi ini berpegang kepada suatu pendapat bahwa seluruh bentuk yang dilihat oleh manusia adalah hasil dari suatu proses evolusi yang dibentuk oleh alam luar dan juga berkat kekuatan mempertahankan diri dari pengaruh yang datang dari alam atau yang disebut sebagai the strugle for life Lamarck membayangkan perkembangan itu sebagai suatu perkembangan yang ditentukan oleh cara hidup dan keadaan dari luar yang lambat laun membuat bertumbuh alat-alat tubuh serta sifat-sifat yang khas.


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers


Dapatkah Lingkungan Ditopang?

Dalam skema besar dari segala hal, peradaban -juga spesies manusia- akan datang dan pergi. Akan tetapi, sebaliknya pada hitungan masa lalu di Planet Bumi ini (sebagaimana para ahli lingkungan terkemuka seperti James Lovelock menyebutnya dengan "Gaia"), hanya ada sedikit sekali atau bahkan sangat kecil kerusakan yang diakibatkan oleh tangan manusia, sekarang-ketika populasi meningkat (sejumlah 3 miliar sejak tiga puluh tahun lalu), planet ini berada dalam keadaan waspada. Pada permulaan abad ke-20, sosiologi dapat mengidentifikasi bagaimana aktivitas-aktivitas sosial dapat mengakibatkan kerusakan pada lingkungan. Kita dapat melihat bagaimana manusia bertindak secara kolektif untuk berburu binatang atau menangkap ikan, menebangi hutan dan menciptakan erosi tanah, mencemari air dan udara ketika mereka membuat limbah beracun. Inilah aktivitas-aktivitas sosial yang dapat mendorong perubahan iklim, pemanasan global, dan peningkatan cuaca yang dapat berpotensi menimbulkan bencana alam. Selanjutnya, masalah-masalah tersebut telah membuat beberapa sosiolog menyatakan bahwa dunia manusia belum pernah berada dalam risiko yang lebih besar sebelumnya: kita perlu meneliti bagaimana mungkin hubungan sosial kita dapat berakibat pada kerusakan lingkungan. Buku yang berjudul Risk Society (1992), yang ditulis oleh seorang sosiolog kenamaan Jerman, Ulrich Beck, memperkenalkan gagasan mengenai risk society atau masyarakat yang membawa risiko, dan merupakan sebuah buku pedoman penting untuk membahas masalah ini lebih dalam. Namun, beberapa sosiolog lainnya kini juga menyatakan bahwa isu tersebut kini menjadi isu penting dalam politik dunia kontemporer.


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers


Kesadaran Sejarah dalam Sudut Pandang Sosiologi

Kehidupan sosial selalu mempunyai masa lalu, masa sekarang, dan masa depan dan selalu dalam pergerakan. Apa pun yang Anda pelajari, perpindahan penduduk, musik, atau gerakan massa, para sosiolog akan berkeinginan untuk memahami sejarah mereka, cara mereka hidup secara dramatis di sini dan pada saat ini, dan akhirnya merasakan pergerakan mereka -bahkan kemungkinan keberadaan mereka (meskipun mereka bukan pakar masa depan-masa depan tidak pernah dapat diketahui). Mereka selalu sibuk. Sosiologi sedikit seperti ilmu sejarah kontemporer. Sosiologi memusatkan perhatiannya pada dunia ini secara terperinci –tetapi menyesuaikan dengan kehidupan masa kini. Namun, itu saja tak cukup. Segala hal yang berbau sosial memiliki masa lalu dan sosiologi harus mendalami sisi arkeologi dari segala hal yang berhubungan dengan dunia sosial itu. Lebih dari itu: masa lalu penuh dengan kemajemukan dan sampai sekarang kemajemukan itu masih ada -keberagaman itu menjadi momok yang tidak pernah berujung. Dan ilmu sejarah ini bersifat tegas dan mendetail.

Kehidupan Sosial dan Ruangnya Masing-masing

Seluruh kehidupan sosial mengalir bergerak bersamaan dan dengan tempat dan ruang. Ada sebuah ilmu geografi -dan geometri- mengenai masalah-masalah sosial. Tidak ada yang terjadi di luar aliran keadaan atau situasi; dan sosiologi selalu bertanya mengenai pembentukan, pengelolaan, dan dampak dari ruang-ruang ini. Kita telah menjumpai contohnya ketika kita mempelajari kebiasaan di jalanan dan pemetaan perkotaan sebelumnya. Lebih dari satu abad yang lalu, Charles Booth memetakan jalanan dan kehidupan miskin di London; sementara di Amerika Serikat, suatu tradisi sosiologi klasik -dikenal dengan sekolah ekologi Chicago- mendokumentasikan pentingnya area perkotaan bagi kehidupan kita, memunculkan perbedaan besar dengan tempat dan kehidupan yang dijalani di pemukiman pedesaan. Dokumentasi ini mempersoalkan tempat tinggal Anda yang hidup di perkotaan atau pinggiran desa -dan seperti yang kita ketahui sekarang semakin banyak orang yang tinggal di tempat "perkotaan global".

Imperialisme MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN ditegaskan melalui Keputusan presiden No 37 tahun 2014 tentang Komite Persiapan Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN. MEA akan berlaku pada Desember 2015. Idealitas MEA sebagaimana disepakati oleh para pemimpin ASEAN.

Pendidikan: Ideologi Jalan Ketiga

Sejumlah sistem pendidikan di Indonesia, baik di pendidikan tinggi, menengah dan dasar berusaha menempuh sebuah jalan ketiga yang mengatasi segala bentuk fundamentalisme yang terdapat dalam era posmodern. Pada satu sisi, mereka mendisiplinkan peserta didik dalam perilaku-perilaku religius tertentu adalah upaya internalisasi nilai-nilai agama di dalam tindakan sehari-harinya. Adapun pada sisi lain, mereka harus mampu mencapai kompetensi rasionalitas tertentu. Hal ini menjadi barang dagangan yang sangat laris pada masa kini. Mereka mempraktikan cium tangan para guru sebelum pelajaran model Barat dimulai. Contoh: sekolah-sekolah swasta yang selama ini menjamur dan dianggap sebagai penggabungan iman dan ilmu pengetahuan. Kelebihannya, praktik ini memberikan jalan keluar bagi kemelut fundamentalisme. Kekurangannya, praktik tersebut tak ubahnya sebuah menara gading yang tidak pernah menjadi kenyataan, Praktik di luar sekolah justru menjadi sebuah "pendidikan" yang paling nyata bagi peserta didik.

Hubungan Keimanan Kepada Tuhan dengan Pendidkan

Pemahaman terhadap keesaan Tuhan dengan segala sifat-Nya sebagaimana tersebut di atas, memiliki hubungan yang erat dalam rangka mengembangkan pemikiran pendidikan. Hubungan tersebut dapat dikemukakan dengan analisis sebagai berikut.

Globalisasi dari Desa ke Kota

Banyak orang di dunia yang saat ini masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil, di pedesaan, dan pulau-pulau terpencil, tetapi sejalan dengan peningkatan populasi yang berjalan cepat terjadilah perpindahan besar-besaran ke perkotaan. Pertumbuhan yang terjadi selama lima puluh tahun saja cukup mencengangkan, dari 732 juta di perkotaan pada tahun 1950 menjadi 3,5 miliar pada tahun 2005. Pada saat pertama kali muncul perkotaan -di Timur Tengah dan lainnya- hanya ada sekelompok kecil dari populasi dunia yang ada di dalamnya. Pada tahun 1700, London -kota terbesar di Eropa- secara mengejutkan memiliki jumlah penduduk yang mencapai setengah juta orang. Sekarang jumlahnya bertahan pada angka sekitar tujuh setengah juta jiwa (dan sekitar empat belas juta jiwa sebagai kota metropolitan). Kota ini merupakan kota utama di dunia untuk berbelanja- tetapi hanya menempati tingkatan ke-25 dari kota-kota di dunia.

Globalisasi dan Glokalisasi

Akhirnya, kita mengetahui bahwa teknologi modern dan komunikasi lewat media saat ini telah menghubungkan manusia dari belahan-belahan dunia yang berjauhan. Dalam masa yang cukup lama dalam sejarah, manusia harus menghabiskan waktu berbulan bulan -bahkan bertahun-tahun untuk menempuh perjalanan dari satu negara ke negara lainnya: saat ini caranya begitu instan. Di sini dan saat ini kita dapat hidup secara global. Interkoneksi dunia ini mengalami percepatan besar dan lebih mendalam. Inilah globalisasi: para sosiolog lebih suka mengatakan bahwa telah terjadi penyusutan waktu dan ruang. Tentu saja, ini bukan gagasan yang baru -perjalanan jauh ke seluruh dunia telah dilakukan selama berabad-abad. Akan tetapi, yang sangat terlihat disini adalah kecepatan dan daya tembus perubahan tersebut. Kita dapat menyaksikan berjalannya globalisasi di setiap tempat. Dari Bank Dunia dan PBB hingga Greenpeace dan Disney world, dari marathon internasional dan konser global hingga wisata umum dan internet, kita dapat menjumpai orang-orang bergerak dalam jaringan tanpa dibatasi oleh ruang komunitas. Manusia membentuk jaringan ke seluruh dunia, dan membuat wilayah lokal menjadi global, dan wilayah global menjadi lokal. Ya, banyak orang kini menjadi "warga global".

Fungsionalisme Struktural, Neofungsional, dan Teori Konflik

Hingga beberapa tahun yang lalu, fungsionalisme struktural adalah teori dominan dalam sosiologi. Teori konflik adalah penantang utamanya dan menjadi alternative menggantikan posisi dominan itu. Tetapi, perubahan dramatis bar" terjadi di tahun-tahun terakhir. Kedua teori itu telah ditaklukkan oleh kritikan hebat, sebaliknya serentetan teori alternatif telah berkembang dan semakin menarik perhatian dan mendapat pengikut yang banyak. Meski beberapa jenis fungsionalisme struktural masih ada, namun perhatian kita di sini hanya dipusatkan kepada fungsionalisme kemasyarakatan dan pada perhatiannya yang berskala luas, yakni perhatian pada antar hubungan di tingkat kemasyarakatan dan pengaruh imperatif dari struktur dan institusi sosial terhadap aktor. Fungsionalis struktural mengembangkan sederetan pemikiran mengenai sistem sosial, subsistem, antar hubungan subsistem dan sistem,keseimbangan, dan perubahan yang teratur.

Filsafat Pendidikan Islam

Pertama, filsafat pendidikan pada hakikatnya adalah penggunaan jasa pemikiran filsafat yang sistematik, radikal, universal, mendalam, spekulatif dan mendalam untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan: visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, pendidik, peserta didik, sarana prasarana, biaya, pengelolaan, kerja sama, lingkungan dan evaluasi.

Dunia Materiil

Dunia sosial manusia memang simbolis, penuh dengan kebudayaan, dan perspektival atau memunculkan banyak sudut pandang; dan sosiologi senantiasa diarahkan pada penelitian mengenai hal-hal tersebut. Tapi ini saja tidak cukup, karena kita juga hidup dalam dunia materiil yang secara kenyataan bersifat kasar 'bercakar dan bergigi merah", seperti yang diungkapkan oleh sastrawan Tennyson. Coba perhatikan kehidupan dan dunia sosial Anda sendiri. Anda secara fisik memiliki ikatan biologis dengan pemenuhan kebutuhan tertentu (seperti makanan, air tempat tinggal, keamanan, dan kesehatan). Anda hidup di atas daratan dalam sebuah jagat raya yang dipengaruhi oleh kekuatan kekuatan fisik besar- evolusi, lingkungan, dan ekonomi (termasuk "daratan" Anda, penduduk yang padat, "harta benda" dan "teknologi" yang Anda miliki yang berada di kisaran kekuatan hukum dan pemerintahan). Di sini, kemampuan Anda juga menunggu untuk digali atau tidak (untuk tumbuh dengan subur, mati, atau terkendali?). Inilah hal-hal yang pastinya tidak dapat Anda perkirakan. Mereka akan tetap ada dan terlepas dari pemaknaan yang kita berikan. Mereka itulah yang dapat kita sebut sebagai dunia sosial materiil. Ini merupakan "dunia yang dapat kita tendang", dunia yang nyata, yang ada di luar harapan kita, di luar alam pikiran dan kebudayaan kita. Kita menghadapinya setiap hari. Dua pemikir besar (dari sekian banyak tokoh pemikir lainnya) yang telah berperan penting dalam memahami dunia ini adalah Darwin dan Marx.

Dunia dan Jaringan yang Tersimulasi

Teknologi baru mulai muncul pada awal abad ke 19 dan telah membawa perubahan besar pada fungsi dunia saat Kamera muncul pada tahun 1839, dunia reproduksi visual baru dengan setting di dalam kereta adalah sesuatu yang mustahil sebelumnya dan mulai dapat tersebar ke mana-mana –dari camcorder hingga fotografi digital. Telepon ditemukan pada tahun 1876, menjadi jembatan antara jarak yang berjauhan dan semakin populer dengan jenis telepon genggam dan memberikan tatanan baru komunikasi antarmanusia. Fonografi hadir pada tahun 1887, mendahului Walkman dan iPod yang muncul seratus tahun berikutnya: sehingga sekarang kita dapat menikmati music sambil bepergian ke mana saja -musik membawa perbedaan yang jauh sekali dibandingkan dengan masa lalu yang sunyi.

Dunia Birokrasi dan Pengawasan

Masyarakat modern merupakan masyarakat organisasi yang menumbuhkan orang-orang organisasi", yang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam birokrasi hierarkis yang luas yang diatur oleh sistem peraturan, rasionalitas, dan tanggung jawab. Sebagaimana ditulis dan dijelaskan dalam karya terkenal Max Weber yang berisi gagasan mengenai Iron Cage atau Kandang Besi pada peralihan abad ke-19 (dan digambarkan dengan baik dalam novel-novel Franz Kafka), pada permulaan abad ke-21 gagasan ini telah berkembang menjadi cara membuat peraturan dalam pemerintah, agama, pendidikan, kesehatan, penelitian, lingkungan kerja, media- tidak ada yang tidak tersentuh olehnya. Ini adalah dunia "jaminan kualitas", "kesehatan dan keamanan", pemeriksaan keuangan, akuntabilitas, pengisian formulir" "budaya audit masyarakat pengawas", dan yang oleh George Ritzer disebut dengan The McDonaldization of society (1993)) yang menyebutkan bahwa peraturan yang menentukan jalannya rantai makanan McDonald's telah menata begitu banyak kehidupan sosial secara global: Kita membicarakan mengenai McDonaldisasi pendidikan, agama, olah raga, kesehatan, pekerjaan sosial, dan sebagainya. Meskipun membawa banyak masalah, tanpanya dunia tidak akan dapat bekerja: tempat-tempat perbelanjaan besar akan gulung tikar, kampus-kampus akan tutup, catatan kesehatan mungkin tidak ada lagi, dan perjalanan melalui udara mungkin akan menjadi bencana! Seperti biasanya, ada keunggulan juga ada kelemahan dan inilah tantangan bagi para sosiolog untuk menganalisis perubahan-perubahan ini.


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers


Darwin, Proses Kemunculan Kera dan Sebuah Planet Kera Besar

Sosiologi muncul pada saat teori Charles Darwin sedang mencuat (1809-1882). Selama abad ke-19 gagasannya mengenai evolusi dan kemunculan umat manusia berkembang dan sejak itu dimengerti sebagai sebuah penjelasan penting mengenai kehidupan manusia. Pada akhirnya, apa yang membedakan primata dengan penghuni-penghuni bumi lainnya adalah kecerdasannya, berdasarkan ukuran otaknya yang paling besar (relatif tergantung ukuran tubuhnya) dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Dan seperti halnya Darwin yang sibuk mempelajari dan membuat perbandingan di antara tumbuhan dan hewan yang berbeda-beda di muka bumi, para sosiolog, sejarawan, dan pakar antropologi pada masa itu sibuk membandingkan masyarakat pada masa lalu dan masa itu. Sebagian dari mereka menginginkan penghargaan atas masa lalu masyarakat mereka sendiri dan melihat kepada barang-barang peninggalan zaman kuno Yunani, Romawi, dan Bangsa-Bangsa Timur.

Cikal Bakal Sosiologi Barat yang Modern

Dunia modern Barat menggunakan bentuk kecerdasan mereka antara abad ke-15 dan 18, selama pencarian emansipasi dari dogmatisme religius dan absolutis dan terorisme melalui pencarian ilmu pengetahuan dan perjuangan "kebebasan dan hak asasi". Di sini kita dapat melihat sisa-sisa dari takhayul, ilmu sihir, agama, gereja, dan berbagai monarki dan aristokrasi. Di sini kita juga menemukan cerita horor dari sejarah panjang Penyelidikan Bangsa Spanyol, perburuan ilmu sihir, Peperangan Tiga Puluh Tahun dan Perang Sipil Inggris, serta terakhir revolusi Prancis dan Amerika -seiring dengan tumbuhnya perbudakan dan kemudian emansipasi akhir. Masa ini juga melihat kenaikan kapitalisme dagang dan kolonialisasi (juga penindasan) besar-besaran secara bertahap terhadap sebagian besar wilayah di dunia oleh bangsa di Eropa. Secara serempak, terlihat juga kemunculan gerakan-gerakan emansipasi secara bertahap yang menuntut akan kebebasan mereka atas nama kaum perempuan, budak, dan semua kaum minoritas lainnya. Pencerahan berkaitan dengan banyak pemikir, termasuk Diderot, Hobbes, Hogarth, Hume, Kant, Locke, Mozart, Newton, Pope, Rousseau, Voltaire, dan lainnya -memberikan pernyataan kepada dunia untuk berpikir secara rasional, ilmiah, dan progresif.

Cara Merasakan Sejarah yang Nyata

Jumlah umat manusia di Planet yang mencapai miliaran tidak semuanya dapat diteliti. Namun, apabila kita tidak mengindahkan kehidupan-kehidupan yang nyata dan sesungguhnya, kita akan tersesat dalam abstraksi terlepas dari dunia sosial. Para sosiolog tidak pernah dapat melupakan bahwa jaringan kehidupan manusia yang selalu berpindah-pindah merupakan dasar penelitian mereka. Oleh karena itu, apa pun yang mereka lakukan, mereka harus kembali secara teratur pada kehidupan yang nyata, mengamati pengalaman, dan mendengarkan apa yang seharusnya mereka katakan. Harus selalu ada perbaikan demi mencegah sosiologi dari penyimpangan yang terlalu jauh dari kehidupan sosial, sebagaimana dapat terjadi dengan mudahnya.

Cara Meneliti Hal Kebetulan, Mobilitas, dan Arus Kehidupan Sosial

Hal yang sangat berhubungan dengan masalah adalah kebutuhan untuk selalu memandang kehidupan sosial manusia dan sosiologi) sebagai sebuah proses: segala hal mengalami perubahan, hidup terus mengalir, dan tidak ada yang tetap. Apapun yang kita analisis, baik gangguan, pembunuhan, ataupun sistem kesehatan, semuanya berubah seiring dengan waktu Pasti sosiologi tidak pernah atau tetap. Sebuah komentar pada suatu waktu dapat diubah sesaat kemudian. Suatu kelompok yang terbentuk dalam satu jam dapat mengubah masa depan. Keadaan terus berubah. Sosiologi adalah kawah berbusa dari perubahan-perubahan yang tiada akhir. Tidak ada hal yang tetap. Setiap penemuan sosiologis dapat menjadi suatu hal yang sudah ketinggalan sesaat kemudian Semua "penemuan" hanya berlaku sebentar -mereka hanya bertahan tidak lama dari saat ditemukannya. Dalam hal ini, sosiologi selamanya ketinggalan seiring terus berubahnya dunia. Oleh karena itu, sering kali muncul tantangan besar: Apakah yang ada di tengah-tengah arus dan perubahan yang terus-menerus yang mungkin bersifat stabil dan berulang-ulang? Di manakah letak ketetapan dari semua perubahan yang tiada akhir ini?

Awal Sosiologi Modern

Sosiologi sebagai sebuah "disiplin ilmu" yang luas dan secara umum mengisahkan kemunculan pemikiran Pencerahan dan revolusi-revolusi besarpadaabadke-18 dan 19.Ini dapat dipandang sebagai sebuah disiplin ilmu yang membuktikan "kejutan dari yang baru". Kehidupan sosial tampaknya tidak pernah berada dalam kekacauan seperti demikian. Saat itu kehidupan sosial dihadapkan pada Revolusi Prancis, Revolusi Industri, negara-negara berbangsa tunggal yang baru bermunculan, kemerdekaan AS, dan pertumbuhan ide demokrasi, serta peningkatan populasi dunia dan kemunculan kota-kota baru serta pemukiman kumuh yang menyertainya. Sekarang kita sering berpikir bahwa kita sedang berada di masa perubahan sosial yang luar biasa: sebuah sejarah singkat menunjukkan bahwa perubahan ini telah ber langsung selama beberapa abad. Pastinya ada sesuatu yang masih mengambang di dunia Barat yang memandang sebuah dunia baru yang masih dalam proses terbentuknya, suatu masa perubahan yang cepat dan bahkan revolusioner. Tatanan lama memang dalam kemunduran yang serius: kehidupan tradisional mengalami kehancuran.

Agama Global

Ilmu pengetahuan dan akal sehat bukanlah satu-satunya sistem kepercayaan di dunia modern. Agama (dan spiritualitas) menjalankan peran pokok di semua kelompok masyarakat dan ada ribuan agama yang dianggap istimewa di seluruh belahan dunia ini, dengan tujuh agama besar di antaranya, seiring dengan keberadaan banyak orang yang tidak memercayainya. Agama Kristen dianut oleh kurang lebih dua miliar orang (terutama di Eropa dan Amerika); Islam dianut oleh sekitar satu setengah miliar orang (terutama di Asia, Afrika, dan negara-negara Arab); Hindu dianut oleh sekitar 900 juta orang dan Buddha memiliki penganut sejumlah 6% jumlah manusia, yaitu 376 juta orang. Agama Yahudi memiliki penganut yang relatif sedikit dengan hanya 14 juta penganut di seluruh dunia (enam juta berada di Amerika Serikat). Dua sistem kepercayaan berikutnya tidaklah sepenuhnya dapat dikatakan sebagai agama. Sebagian besar penduduk Cina telah oleh Konfusianisme (penyembahan terhadap leluhur) dan terakhir adalah komunisme -kepercayaan antiagama.

Posmodernisme Pendidikan

Reaksi atas konsep-konsep sebelumnya ini biasanya di dengan istilah konsep posmodern. Kata post" berarti setelah sedangkan "modern" artinya setelah. Kata "modern" itu sendiri mengacu pada keadaan setelah pencerahan. Jadi urutannya dalam waktu linear, setelah masa kegelapan di Eropa (The Dark Middle Age), Abad Pertengahan (50o-an), kemudian disusul dengan pasca pencerahan (160o-an) yang ditandai dengan Abad Reformasi di Jerman. Masa masa perubahan itu kemudian menandai adanya gerbang modern uang pada abad ke-17 dan dikukuhkan dengan adanya revolusiPrancis (1789). Setelah masa modern, lahirlah masa posmodern, yaitu sebuah masa yang kita alami sekarang ini.

Anarkisme Epistemologi Paul Karl Feyerabend

Pertama, pemikiran Feyerabend tentang anarkisme epistemologis dilatarbelakangi oleh setting sosio-historis dan sosio-kultural. Dominasi paradigma positivistik yang melihat bahwa sesuatu yang ilmiah adalah yang dapat diverifikasi melalui observasi, dan eksperimen di laboratorium sehingga memiliki nilai kebenaran yang tidak tergoyahkan. Semua yang ada di luar itu dinilai tidak ilmiah.

Berpikir dan Lingkungan Sosial

"Apakah lingkungan membentuk pikiran seseorang atau pikiran seseorang menentukan lingkungannya? Alasan dan fungsi penting dari berpikir pada manusia ialah agar dapat beradaptasi dengan  lingkungannya. Permasalahan serta kesenjangan antara apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang terjadi pada lingkungan sosial membuat manusia berpikir, Dorongan untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik juga membuat manusia berpikir. Sebagai makhluk sosial, manusia juga berpikir pada saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya. Lingkungan membuat manusia berpikir.

Mengenai Tujuan Filsafat Pendidikan

Tujuan filsafat pendidikan adalah menemukan makna dasar dari pendidikan itu sendiri. Tujuan filosofis atau hasil yang bisa dimanfaatkan adalah menemukan hakikat dari keberadaan tentang pendidikan. Untuk mencapai hakikat, dalam filsafat dikenal beberapa cara yang didasarkan pada gagasan tentang "mengetahui sesuatu Cara tersebut menghasilkan perangkat-perangkat untuk mengetahui yakni persepsi, nalar, dan intuisi. Rangkaian unsur-unsur untuk menemukan hakikat itu dinamakan dengan epistemologi.

Pembangunan Kembali Sebuah Pendidikan

Epistemologi selalu dimengerti sebagai upaya manusia melihat dirinya yang menghasilkan pengetahuan. Dari upaya itu, manusia kemudian merumuskan unsur-unsur mendasar yang dijadikan sebagai perangkat manusia untuk mengetahui. Unsur-unsur itu adalah persepsi, nalar, dan intuisi. Pembangunan struktur pengetahuan yang didasarkan pada kaidah-kaidah nalar, terbukti telah jatuh pada pemikiran yang bersifat saintisme. Dalam bahasa gampangnya, saintisme adalah "sok ilmiah".

Epistemologi Jurgen Habermas

Dengan pendasaran epistemologis yang berifat emansipatoris Habermas berusaha membangun suatu kerangka ilmu kritis. Habermas berusaha memberikan suatu pembedaan yang jelas antara ilmu-ilmu alam yang menggunakan kepentingan teknis dengan ilmu-ilmu sosio-hermeneutis yang lebih dominan pada kepentingan praksis, sehingga diajukanlah ilmu-ilmu kritis yang lebih ditekankan pada kepentingan kognitif emansipatoris. Suatu paradigma untuk membebaskan manusia dari kesadaran semu.

Epistemologi Mohammed Arkoun

Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Arkoun menyerukan investigasi multidisipliner terhadap proses yang membuat wahyu menjadi ortodoksi dalam Islam. Al-Quran adalah (1) wahyu yang disampaikan oleh Muhammad secara lisan kepada para sahabatnya, (2) seperangkat undang-undang yang berbeda di dalam kekuasaan Arab yang baru didirikan, (3) sebuah teks tertulis yang dibangun untuk mengikis perbedaan sekaligus mengukuhkan kekuasaan Arab, (4) dasar bagi kerangka hukum yang didesain untuk menyatukan praktik hukum yang multietnis dan multibahasa, dan (5) refleksi atas kebenaran universal yang diturunkan kepada bangsa Arab (Arkoun, 1988: 5-7). Bagi Arkoun, memahami Islam berarti memahami bagaimana dan mengapa konsep keempat dan kelima dari al-Qur'an itu akhirnya sangat dominan.

Sebuah Evolusi dari Filsafat Pendidikan Masa Depan

Filsafat pendidikan masa depan ditandai dengan adanya perubahan tatanan konsepsi filsafat itu sendiri. Ketika metafisika dikatakan telah mati misalnya, metafisika baru telah muncul. Demikian pula ketika dikatakan filsafat telah mati, maka akan timbul filsafat yang baru. Kematian filsafat adalah kematian konsep filsafat yang lampau. Filsafat tetap akan hidup!

Filsafat Pendidikan Islam Fazlur Rahman

Dalam beberapa aspek Rahman tidak sependapat dengan konsep-konsep ulama klasik dan abad pertengahan kendati ia tetap menghormati dan mengagumi tradisi yang sophisticated yang diwariskan oleh para Tetapi, sebagian ulama tetap meninggalkan aspek-aspek signifikan, terutama pemikiran kritis dan pembaruan. pada abad ke-20 dan memasuki abad ke-21 ini, tradisi intelektual sama sekali tanpa kedalaman hikmah, pemikiran konstruktif dan telaah kritis. Yang tersisa hanyalah terhentinya pertumbuhan dan tradisi hierarkis yang hanya akan mengakibatkan stagnasi. Dengan alasan tersebut untuk menghasilkan sistem pendidikan yang diharapkan, maka butuh pembaruan bersifat radikal, kritis-konstruktif, dan integral seperti yang ditawarkan yang oleh Rahman.

Filsafat Pengetahuan Mistik

Dalam perbincangan mengenai filsafat ilmu yang umumnya beredar, eksistensi pengetahuan mistik atau pengalaman-pengalaman spiritual masih sangat jarang. Pembahasan filsafat ilmu lazimnya masih bermain dalam wilayah empirikal dan rasional. Itulah mengapa secara global hanya dikenal dua metode, yaitu observasi (tajrib) dan metode logis (burhani) Kalaupun ada pembahasan mengenai wilayah keagamaan yang disinggung hanya aspek empirikal dan rasionalnya semata. Padahal dalam epistemologi Islam klasik telah dibicarakan tentang pengetahuan mistik, metode-metode untuk meraihnya, basis ontologis dan aspek aksiologis kemanfaatannya.

Filsafat Rasionalisme Islam: Epistemologi Burhani Abed Al-Jabari

Dalam merespons problematika modernitas, Fazlur Rahman pernah mengungkapkan kontribusi filsafat pada tataran intelektual: Bagaimana pun filsafat merupakan sebuah kebutuhan intelektual yang abadi (a perennial intellectual need) dan harus diizinkan untuk berkembang baik demi wacana filsafat sendiri maupun demi disiplin-disiplin lain; karena ia menanamkan semangat kritis-analitis yang sangat diperlukan dan melahirkan gagasan-gagasan baru yang menjadi alat intelektual yang penting bagi ilmu-ilmu lain, tak terkecuali bagi agama dan teologi. Karenanya, sebuah masyarakat yang mencampakkan kekayaan filsafatnya berarti membiarkan dirinya dalam bahaya kelaparan akan ide-ide segar, ia telah melakukan bunuh diri intelektual (intellectual suicide). Akan tetapi itu, bukan tolok ukur satu-satunya.

Fungsi Media Pembelajaran

Ada dua fungsi utama media pembelajaran yang perlu diketahui, yaitu sebagai berikut:
  1. Media Pembelajaran sebagai Alat Bantu dalam Pembelajaran
Pada dasarnya setiap materi ajar memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada materi ajar yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi di lain pihak ada materi ajar yang sangat memerlukan alat bantu berupa media pembelajaran. Media pembelajaran yang dimaksud, antara lain berupa globe, grafik, gambar, dan sebagainya. Materi ajar dengan tingkat kesukaran yang tinggi tentu sukar dipahami oleh peserta. Tanpa bantuan media, materi ajar menjadi sukar dicerna dan dipahami oleh setiap peserta. Hal ini akan semakin terasa apabila materi ajar tersebut abstrak dan rumit/ kompleks.

Gugatan Epistemologi Liberatif Ashgar Ali Engineer

Semua dogma teologi yang berkembang pada abad pertengahan, mulai dari periode Abbasiyah, Mu'tazilah dan Isma'iliyah dengan teologi rasionalnya, sekte Qaramithah cabang dari Ismaili dengan teologi revolusionernya, dan Khawarij dengan teologi anti kemapanannya, dianggap oleh mainstream ulama ortodoks sebagai bid'ah dan tidak memberikan pengaruh apa pun terhadap teologi Islam. Tetapi bagi Asghar, iran ini sangat membantu dalam mengembangkan proyek teologi pembebasannya. Teologi pembebasan menekankan pada kebebasan, persamaan (egalitarianism) dan keadilan distributif serta menolak keras penindasan, penganiayaan dan eksploitasi manusia oleh manusia. Teologi pembebasan dibedakan Asghar dengan teologi rasional yang pernah dikembangkan oleh Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh, dan lain-lain. Menurut pendapat Asghar, teologi pembebasan tidak membatasi diri pada dunia pemikiran murni dan spekulatif tetapi memperluas ruang lingkupnya sebagai instrumen yang paling kuat untuk membebaskan umat dari cengkeraman para penindas. Dengan semangat revolusioner, teologi pembebasan dapat mengilhami seseorang untuk menghadapi tirani, eksploitasi dan penganiayaan, agar kehidupan kaum lemah yang tertindas bisa berubah menjadi lebih baik.

Idealisme Pendidikan Pasca-renaisance

Pendidikan pasca-renaisance ditandai dengan situasi yang menuntut kebangkitan akal sehat dalam menangkap keimanan dan pengetahuan. Karena itu, kehadiran lslam dalam pandangan Hegel dianggap sebagai Revolusi Timur. Secara filosofis, konsep teologi (tauhid) dianggapnya memiliki orisinalitas dibandingkan dengan ideologi para pendahulunya, yakni Yahudi dan Kristen. Tuhan Yahudi hanya untuk orang Yahudi, sedangkan Tuhan Islam untuk seluruh umat manusia. Karena itu, kebebasan manusia diserahkan kepada Tuhan yang satu dan manusia mengabdi kepada-Nya. Inilah yang kemudian disebut Hegel sebagai fanatisme.

Tradisi Intelektual Pesantren

Muhammad Abdullah dalam Tradisi Intelektual lslam dalam Sastra Melayu dan Sastra Pesantren 1996" menuliskan tentang tradisi intelektual yang terjadi pada tahun 150o-an. Menurutnya, pada kurun waktu itu tradisi intelektual kalangan pesantren masih kurang memiliki pengaruh. Berdasarkan penelusuran sejarah, dia kemudian memberikan gambaran singkat tentang situasi intelektual masa itu. Dikatakan bahwa Nuruddin ar-Raniri dan Hamzah Fansuri melakukan dialog ilmiah dalam buku-bukunya. Ketika Hamzah Fansuri memberikan ajaran wahdat al-wujud, ar-Raniri langsung menanggapi dengan kitab bertajuk Asrar al Insan Fi Ma'rifati ar-Ruh wa ar-Rahman. Tulisan itu dianggap oleh Abdullah sebagai berikut: "Langkah ini merupakan langkah politik Sultan untuk melindungi kekuasaannya dari berbagai ajaran Hamzah Fansuri (1996:95)". Buku-buku yang ditulis pada masa itu tidak bisa dilepaskan dari kehendak penguasa. Abdur Rauf as-sinkili juga menyebutkan tarekat Syatariyah yang memiliki paham wahdat al-wujud. Abdur Rauf juga menulis Dagaiq al-Huruf Bayan Tajalli, Mirat at Tullab, dan hidayat al-Balighah.

Jenis-jenis Media Pembelajaran

Ada enam jenis dasar dari media pembelajaran menurut Heinich and Molenda (2005) (Dadang, 2009), yaitu sebagai berikut.
  1. Teks
Teks merupakan elemen dasar untuk menyampaikan informasi dalam berbagai jenis dan bentuk tulisan yang berupaya memberi daya tarik dalam penyampaian informasi.

Konstruksi Epistemologi Max Horkheimer

Masyarakat modern telah terkontaminasi oleh gerakan pencerahan abad ke-18 dengan konsep pengagungan rasio-nya. Berbasis pada rasio inilah, Max Horkheimer mulai menganalisis keadaan masyarakat pasca-industri dan mengkritiknya karena tidak sesuai dengan konsep rasionalitas Pencerahan itu sendiri. Akhirnya, dengan senjata Teori Kritis-nya ia membongkar kedok ideologis teori irrasionalitas masyarakat, termasuk juga kritik terhadap paham bebas nilai dari ilmu-ilmu. Tetapi filsafat pun tidak luput dari gempuran Max Horkheimer.

Media Pembelajaran Berbentuk Audio

Audio adalah jenis media yang berhubungan dengan pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif. Beberapa jenis media yang dapat digolongkan dalam media audio adalah sebagai berikut.

Media Pembelajaran Berbebntuk Visual

Media visual berfungsi menyalurkan pesan dari sumber penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan dalam simbol-simbol visual. Selain itu, fungsi media visual adalah menarik perhatian memperjelas sajian ide, menggambarkan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakanjika tidak divisualkan. Beberapa media yang termasuk media visual adalah sebagai berikut.

Paradigma Materialisme Dialektis dalam Epistemologi Karl Marx

Konsepsi epistemologi Marx terbentuk melalui penerapan paradigma materialisme dialektis yang mengintrodusir suatu pemahaman bahwa dunia selalu berada dalam proses perkembangan yang dialektis, yakni penerimaan dan penolakan. Dalam proses dialektis ini, terkandung unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan) saling bermediasi (memperantarai dan diperantarai). Kehidupan nyata selalu berada dalam keadaan saling berkontradiksi, bernegasi, dan bermediasi. Dialektika yang terjadi menurut Marx, tidak berada dalam idea (dialektika idea) melainkan terjadi dalam dunia nyata (dialektika materi) Pengetahuan manusia yang muncul dari proses dialektis adalah benar jika dipahami dengan kerangka hubungan antara setiap kejadian dalam dunia nyata.

Pendidikan Saat Masa Kolonial

Pendidikan kolonial adalah sebuah penyelenggaraan pendidikan yang menggunakan asas-asas kolonial, baik metafisika epistemologi, dan yang digunakan. Rentang waktu secara objektif adalah sejak abad ke-18 hingga abad ke-20. Kendati demikian, pendidikan kolonial baru terjadi pada pertengahan abad ke-19. Selama ini, Pemerintah Kolonial menganggap tanah jajahan yang perlu diperadabkan dengan huruf Latin dan epistemologi positif. Marilah kita lihat bagaimana filsafat pendidikan kolonial bermaksud mengikis habis konsep-konsep pendidikan prakolonial. Filosofis itu diambil dari pemikiran Tan Malaka yang memiliki hubungan erat dengan epistemologi populer pada masa itu, yakni Marxisme. Tidak ada konsep Marxisme yang begitu jelas bisa diterapkan dalam konteks Indonesa kecuali Tan Malaka.

Ringkasan Sketsa Historis Sosiologi Tahun Awal

Ringkasan sejarah awal teori sosiologi dalam dua bagian. Bagian pertama menerangkan berbagai kekuatan sosial yang terlibat dalam perkembangan teori sosiologi. Meski banyak faktor yang berperan, perhatian hanya dipusatkan pada perkara bagaimana revolusi politik, revolusi industri dan perkembangan kapitalisme sosialisme, urbanisme, perubahan agama, dan pertumbuhan ilmu pengetahuan sains memengaruhi teori sosiologi. Bagian kedua membahas pengaruh kekuatan intelektual terhadap pertumbuhan teori sosiologi di berbagai negara. Dimulai dari Prancis dan peran yang dimainkan era Pencerahan yang menekankan pada reaksi konservatif dan romantis terhadap pertumbuhan teori sosiologi itu. Dari jalinan teori-teori itulah sosiologi Prancis berkembang. Dalam konteks ini dibahas tokoh-tokoh utama di tahun-tahun awal perkembangan sosiologi Prancis Claude Henri Saint mon, Auguste Comte, dan Emile Durkheim. Selanjutnya beralih ke Jerman dan peran yang dimainkan Karl Marx dalam perkembangan sosiologi di negara itu.

Pendidikan Setelah Kolonialisme

Pendidikan yang diselenggarakan setelah penjajahan usai, Berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945 memberikan peluang bagi dunia untuk menentukan nasib sendiri. Melalui pendirian nasib sendiri itu akhirnya tidak selalu mengacu pada nasib sebagian besar bangsa, tetapi juga hanya menyentuh satu atau dua orang. Karena itu, filsafat pendidikan pascakolonial menghasilkan dilema tentang orientasi orientasi pendidikan yang mengarah pada masa sepan.

Pendidikan Berbasis Teknologi Virtual

Pendidikan mengalami perubahan realitas. Semula dari pendidikan yang bersifat riil atau empiris, menuju pendidikan yang bersifat virtual. Perkembangan teknologi memaksa penyelenggaraan pendidikan yang tidak hanya dilakukan di kelas, tetapi juga di luar kelas, bahkan pendidikan tanpa ruang Sebagaimana dipahami bahwa objek filsafat adalah bentuk bentuk keberadaan yang memiliki tingkatan, mulai dari benda mati sampai simbol. Tantang-tangtangan yang muncul pada hari-hari ini adalah hadirnya objek filsafat yang berbeda dengan masa-masa lalu Misalnya dalam konsep kosmologi yang mengangkat benda mati sebagai objek berpikir, maka akan didapati konsep-konsep alam semesta yang berubah. Penemuan tata surya baru dalam ilmu astronomi dugaan adanya makhluk asing dari tata surya yang berbeda serta luas alam semesta yang semakin membesar semua itu membawa pada imajinasi imajinasi terjauh tentang alam semesta. Adakah sebuah tempat yang dijadikan sebagai kehidupan bagi makhluk lain kecuali kita yang mendiami bumi?

Pengertian Media Pendidikan

Menurut Bovee (Dadang, 2009), media adalah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. Media merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berasal dari bahasa Latin yang secara berarti perantara atau pengantar. Media adalah pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Arie Sadiman, dkk., 2009: 6) Briggs (1970) dalam buku Arief Sadiman yang berjudul Media Pendidikan menyebutkan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Sementara itu, Gagne berpendapat bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar (Arief Sadiman, dkk., 2009: 6).Adapun pembelajaran menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, yaitu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dengan demikian, media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan ataupun informasi yang akan diberikan dalam suatu pembelajaran.
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses dalam belajar mengajar. Media pembelajaran dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan atau keterampilan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang lebih efektif. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia, dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran/pelatihan.
Menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran seperti buku, film video, dan sebagainya. Adapun menurut National Education Associaton 1969), media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk letak ataupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.



Referensi : Hasri, Basan dan Rusdiana. 2015. Manajemen Pendidikan dan Pelatihan. Bandung: CV Pustaka Setia

Pendidikan Sebelum Kolonialisme

Pendidikan prakolonial dimengerti sebagai sebuah penyelenggaraan pendidikan yang dibatasi oleh ruang waktu tertentu. Pembatasan ruang mengacu pada batas-batas politik yang terdapat di geografis tertentu sedangkan batasan waktu mengacu pada sebuah masa ketika praktik penjajahan belum dimulai. Geografis itu merujuk pada wilayah Nusantara sedangkan masa yang dimaksud mengacu pada abad ke-17, yakni sebelum Jan Peterson Coen melemparkan jangkar di pantai Sunda Kelapa. Kali ini akan dibahas tentang semangat pendidikan pada masa pra-kolonial dan sisa-sisanya pada masa sekarang. Masyarakat prakolonial memiliki model pemerintahan kerajaan.

Definisi Filsafat Pendidikan

Secara singkat, filsafat pendidikan dapat dimengerti sebagai kajian filosofis tentang asumsi-asumsi dasar, konsep, prinsip-prinsip hingga kategori di dalam pendidikan. Pendidikan dilihat bukan sekedar sebagai konsepsi apriori, tetapi sebagai langkah-langkah aposteriori yang melibatkan fakta-fakta empiris. Karena itu, filsafat pendidikan adalah sebuah upaya pemeriksaan yang menyeluruh terhadap hal-hal utama di dalam pendidikan. Sebagai contoh persoalan filosofis dalam pendidikan adalah pertanyaan berikut ini :

Selasa, 13 Desember 2016

Transformasi dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Tidak ada masyarakat yang stagnant pada titik tertentu sepanjang masa. Setiap masyarakat selalu berubah baik dari segi kultural maupun struktural. istilah-istilah untuk menginterprestasikan kondisi masyarakat yang selalu berubah seringkali disebut dengan Social change, cultural chage, sociocultural adaptation and adjusment, Istilah-istilah itu diartikan sebagai kondisi perubahan sebagai akibat penyesuaian diri dari anggota masyarakat secara penuh kesadaran. Perubahan di masyarakat selalu bersifat multidemensional mulai dari peruban sosial dan perubahanan kebudayaan. Perubahan sosial lebih bersifat khusus, karena perubahan ini ketika dikenal, dilakukan kemudian disebut sebagai perubahan kebudayaan. Sedangkan perubahan kebudayaan lebih bersifat umum, yang mencakup semua aspek kebudayaan yang ada pada masyarakat mulai dari sisi pengetahuan, perilaku sampai tekhnologi.

Konsep Diri

Konsep diri adalah pandangan seseorang tentang dirinya sendiri yang menyangkut apa yang ia ketahui dan rasakan tentang prilakunya, isi pikiran dan perasaannya, serta bagaimanan prilakunya tersebut berpengaruh terhadap orang lain. Di sini konsep diri yang dimaksud adalah bayangan seseorang tentang keadaan dirinya sendiri pada saat ini dan bukanlah bayangan ideal dari dirinya sendiri sebagaimana yang diharapkan atau yang disukai oleh individu bersangkutan. Konsep diri berkembang dari pengalaman seseorang tentang berbagai hal mengenai dirinya sejak kecil, terutama yang berkaitan dengan perlakuan orang lain terhadap dirinya.

Strategi Pengajaran IPS di Era Global

Wiriatmadja (2002:276), guru harus selalu memperbaharui keterampilannya profesionalnya. Diantara kemahiran guru yang selalu perlu ditingkatkan adalah kemampuan mengajarnya. Melalui pelatihan lokakarya, seminar, atau pertemuan-pertemuan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), dan lain-lain. Kemahiran-kemahiran itu dapat dapat diupayakan dan diperoleh dengan mendatangkan narasumber.

Materi IPS dalam Perubahan Global

Tujuan bidang studi IPS tidak berfokus pada penguasaan materi semata melainkan menitik beratkan pada penguasaan kecakapan proses, yang dapat ditunjukan dalam bentuk verbal (verbal performance), sikap (attitudedinal performance), dan perbuatan (physical performance), atau adanya integrasi antara afektif, kognitif, dan motorik. (Suderadjat,2003:47).

Problema Pembelajaran IPS

Sebenarnya kurikulum IPS 2004 sudah melihat kemungkinan (menganstisipasi), setidak-tidaknya untuk waktu sepuluh tahun kedepan dalam hal fenomena yang ada baik di tingkat masyarakat lokal, nasional, maupun global. Tetapi itu hanya kurikulum dalam bentuk ide dan dokumen, namun kurikulum dalam bentuk implementasi (proses), masih akan sangat dipengaruhi oleh bebrapa masalah, yaitu:

Penyesuaian Kurikulum IPS dengan Tuntutan Perubahan Global

Dalam standar kompetensi mata pelajaran  Pengetahuan Sosial Depdiknas (2003:5) dinyatakan “melalui mata pelajaran Pengetahuan Sosial, peserta didik diarahkan, dibimbing dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga negara dunia yang baik”.
Menjadi warga negara  dan warga negara dunia yang baik merupakan tantangan yang berat karena masyarakat global selalu mengalami perubahan yang besar setiap saat, untuk itulah pengetahuan sosial harus dirancang untuk membangun dan merefleksikan kemampuan peserta didik dalam kehidupan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus.

Pembelajaran IPS di Era Globalisasi

Globalisasi adalah suatu keadaan atau kondisi dimana isu dan masalah yang menyangkut berbagai bangsa dan negara atau bahkan seluruh dunia. Menurut Tye dalam bukunya yang berjudul “Global Education”: From Thought To Action, pemahan terhadap globalisasi merupakan proses belajar tentang masalah-masalah dan isu-isu yang melintasi batasan-batasan negara (nation) dan tentang sistem keterhubungan dalam lingkungan, budaya, ekonomi, politik, dan teknologi. Dan disamping itu, untuk memahami lebih mendalam diperlukan prespektif atau sudut pandang dan pendekatan terhadap kenyataan bahwa sementara para individu dan kelompok-kelompok memiliki kebutuhan dan keinginan-keinginan yang sama (Skell, 1995:136).

Persoalan Moral di Era Globalisasi

Secara historis globalisasi berarti meluasnya pengaruh suatu kebudayaan atau agama ke seluruh pejuru dunia. Namun, konsep dan istilah globalisasi yang digunakan sejak 1990-an, tidak dapat dipahami berdasarkan pengertian tersebut. Sebab dalam istilah globalisasi saat ini terkandung sejumlah perkembangan terbaru didunia yang ditandai oleh sejumlah besar tendensi sosioligi yang amat kuat, yang tidak dikenal pada masa-masa sebelumnya (Parsok, 2004).

Alih Teknologi Akibat Globalisasi

Salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki suatu Negara adalah kemampuan dalam penguasaan teknologi. Penerapan, pengembangan, dan penguasaan teknologi tidaklah mungkin dicapai dengan baik, tanpa didukung dengan budaya kreatif dan inofatif dari masyarakat. Laju penumbuhan IPTEK yang harus terus meningkat dari waktu ke waktu, hanya membrikan peluang bagi masyarakat yang dinamik untuk dapat mengejar dan mengikuti perkembangan IPTEK tersebut. Budaya kreatif dan inofatif merupakan ciri menonjol dan faktor yang menentukan dalam dinamika masyarakat untuk menerapkan, mengembangkan, dan menguasai teknologi. Tanpa hal tersebut pembangunan nasional tidak akan berjalan dengan laju yang cukup untuk dapat menempatkan diri sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.