Sebagan
besar orang yang hidup di bumi saat ini tinggal di dalam negara berbangsa
tunggal. Akan tetapi, hal ini merupakan suatu fenomena baru dalam sejarah masa
kini. Jauh berbeda dengan masa lalu, ketika benua-benua berada di bawah
kekuasaan kepala suku, raja, kaisar, dan sultan yang masing-masing berbeda –para
penguasa yang lalim yang memerintah dengan paksaan dan teokrasi dijaga
kesatuannya oleh agama. Kelompok-kelompok etnis memberikan pengakuan atas
wilayah mereka dan demikian hingga abad ke-16, manusia hidup menetap dengan
batasan territorial tersebut dan tertata melalui hak kepengurusan tanah.
Sebagai mana ketahui, negara-negara yang berbangsa tunggal baru mulai membeku
selama abad ke-19. Dimulai dengan Pejanjian (1648), mulai disusunlah standar
untuk menetap pembatasan wilayah domestik dan mengenali bangsa-bangsa yang merdeka.
Setelah itu, kekaisaran-kekaisaran lama –Kekaisaran Rusia, Kekaisaran
Austro-Hungaria, Kekaisaran Inggris- mulai runtuh, dan mulai muncul
negara-negara berbangsa tunggal. Oleh sebab itu, di sini nasionalisme merupakan
hal baru dan merupakan sebuah fenomena modern. Sesudah itu, negara-negara
berbangsa tunggal yang modern menjadi jantung sistem peperangan yang merupakan
bencana besar yang dibangun atas dasar nasionalisme pada abad ke-20 Istilah
negara dan bangsa terdengar seperti dua hal yang bertentangan.
Selasa, 27 Desember 2016
Teori Kosmos dan Evolusi
Untuk
memahami dunia tempat kita tinggal ini, kita harus
mengetahui sedikit mengenai masa lalu kita; dan ini
merupakan sebuah kisah sejarah yang sangat merendahkan hati kita. Sebagaimana
diajarkan kepada anak-anak sekolah, Planet Bumi berusia kurang lebih 4,5 miliar
tahun di sebuah jagat raya yang umurnnya telah mencapai sekitar 15 miliar
tahun; dan berada di salah satu miliaran galaksi (berdasarkan data dari Hubble
space Telescope pada tahun 1999, diperkirakan ada 125 miliar galaksi di jagat
raya ini, dan baru-baru ini, dengan kamera terbaru, telah ditemukan sekitar
3000 galaksi: begitu banyak). Tak ada kehidupan sama sekali dalam kurun waktu
yang lama di bumi ini, dan masa itu, miliaran tahun sebelum dinosaurus menjadi
penguasa di bumi ini -dan kemudian musnah. Enam puluh lima juta tahun yang lalu
primata muncul, diikuti dengan kera-kera besar kurang lebih 12 juta tahun lalu.
Dengan mempelajari catatan fosil, tampak bahwa dasar-dasar kebudayaan seperti
api, perkakas, senjata, tempat tinggal sederhana, dan pakaian sederhana.
Terdapat mulai muncul pada sekitar dua juta tahun yang lalu tanda-tanda bahwa
setelah zaman es besar berakhir, populasi manusia di bumi mungkin sekitar 5
juta jiwa, tetapi pada 500 SM sudah mencapai sekitar 100 juta jiwa.
Peradaban-peradaban besar masa lalu (mencakup Mesir, Cina, Arab, dan
Mesoamerican) baru dimulai 5.000 tahun lalu. Peradaban peradaban besar kian
datang dan pergi, tidak ada yang bertahan lama dalam rencana besar di balik
semua ini. Dari situ kemudian berkembanglah masyarakat nomaden, agrikultural,
dan masyarakat feodal. Namun dunia industri, seperti yang kita ketahui, baru
dimulai 300 tahun lalu. Sosiologi kontemporer mempelajari bagian-bagian kecil
dari sejarah masyarakat ini. Jadi, di ini kita memiliki sejarah dunia dalam
hampir tidak ada sampai 20 jalur. Dan tentu saja, jutaan orang tidak akan
sependapat dengan cerita ini orang-orang yang suka membuat kreasi"
contohnya, masih ingin orang memercayai bahwa sejarah bumi itu jauh lebih
sederhana: diciptakan oleh Tuhan dalam beberapa hari, atau tidak lebih dari
seribu tahun. Hal ini memang sungguh merendahkan hati kita dan semua nya sangat
penting untuk diingat saat kita sedang mengadakan pengamatan mengenai
masyarakat zaman sekarang. Jika kita mengeluarkan pernyataan besar atas masa
sekarang, kita harus selalu ingat pernyataan-pernyataan yang jauh lebih besar
mengenai masa lalu kita. Namun demikian, sosiologi sendiri lahir pada masa-masa
sekarang ini. Sosiologi sendiri merupakan sebuah hasil perubahan yang terjadi
pada abad ke-19 -yaitu yang sering disebut dengan "Great
Transformation" atau Perubahan Besar Revolusi Industri, Revolusi Prancis,
Revolusi Amerika- dan perpindahan-perpindahan besar dalam kondisi kehidupan
sebagai mana manusia berpindah dari desa ke kota, ke dalam kehidupan pabrik dan
kapitalisme, dan bermigrasi dalam jumlah besar ke seluruh penjuru dunia. Di
sini, di dunia yang modern ini, di sudut kemiskinan kota dan sistem
penggolongan masyarakat baru ini lah, sosiologi terlahir. Dan sekarang
sosiologi mencoba menelusuri munculnya bermacam-macam jalan hingga sampai pada
yang kita sebut dengan "modernitas yang berlipat ganda" (sebagai
contoh, bentuk yang berbeda-beda yang ada dalam dunia modern).
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Sosiologi Setelah Perang Dunia 2
Dalam
masa setelah Perang Dunia II, muncul sebuah zaman baru "sosiologi
profesional" yang bertujuan untuk membawa kematangan dan untuk jangka
waktu yang pendek muncul juga semacam consensus akhir sosiologi" (yang
menyatakan mengenai batas akhir ide-ide politik). Hal ini khususnya terkait dengan
karya teoretikus fungsionalis seperti Kingsley Davis Robert King Merton, dan
Talcott Parsons. Sungguh, pada tengahan abad ke-20 tidak ada sosiolog yang
lebih dikenal daripada Talcott Parsons (902-1979). Seperti halnya semua sosiolog,
gagasan-gagasannya mengalami perubahan seiring tetapi pada tahun 1951 ia
menerbitkan The Social system Karyanya ini berisi mengenai penelitian untuk
mengembangkan penjelasan luar biasa mengenai peran tatanan sosial, dan disana
ia menguraikan prasyarat berfungsinya masyarakat melalui sederet kotak dan
tipologi terperinci. Menurut Parsons, semua kelompok masyarakat harus
menjalankan beberapa fungsi utama: mereka harus beradaptasi (to Adapt), meraih
tujuan mereka (Goals), menyatu (Integrated), dan mempertahankan diri (Latency) -sebuah
rumusan yang sering disingkat menjadi AGIL. Pelukisan sistematis yang sangat
abstrak atas kebutuhan sosial tertentu ini yang harus dipenuhi oleh setiap
kelompok masyarakat untuk dapat menjaga kehidupan sosial agar tetap stabil,
menghasilkan sebuah tipologi dan daftar yang mendekati seratus kotak –sebuah peta
sistem sosial dan fungsi-fungsi terkait, dari sistem biologis sampai sistem
dunia. Karyanya dapat diterapkan pada banyak lingkup kehidupan sosial-bagaimana
sekolah berjalan, rumah sakit beroperasi, dan penjara berfungsi sebagai sistem?
Mereka semua dapat dilihat sebagai sistem yang berusaha mencapai tujuan
tertentu, menyosialisasikan anggotanya pada kebudayaan mereka, serta
beradaptasi sepanjang jalan.
Sosiologi Pada Masa Perang
Abad
ke-20 yang pendek ini menghadapi masalah-masalah baru.ketakutan atas dua perang
dunia, dua revolusi dunia (Cina dan Rusia -bersamaan dengan yang lain),
kedatangan masa-masa kerusakan yang diakibatkan oleh penjajahan di masa lalu,
dan kehancuran serta kesengsaraan yang diakibatkan oleh kezaliman industrialisasi
pendahulu. Kondisi sosial yang berbeda lalu mulai mengarahkan pada analisis
yang berbeda. Di Jerman, fasisme semakin merangkak naik, kemudian diamati oleh
sekelompok pemikir yang mengembangkan teori kritis dan kemudian dikenal sebagai
Frankfurt School (sesuai markas mereka). Theodor Adorno (1903-1969), Herbert
Marcuse (1989-1979), Marie Jahoda (1907-2001), Eric Fromm (1900-1980), Walter
Benjamin (1892-1940), dan Max Horkheimer (1895-1973) telah meninggalkan warisan
penting berupa kritik-kritik sosial dan kebudayaan. Perhatian utama mereka
adalah pada penerapan gagasan-gagasan Marxis secara luas (dan juga Freud) ke
dalam kebudayaan seperti halnya mereka meneliti kemunculan masyarakat besar, teknologi
dan birokrasi yang terus mengalami perkembangan, serta pertumbuhan
"Industri Kebudayaan" sebagaimana disebutkan oleh Adorno -sering kali
mengatur dan meremehkan hidup kita. Karl Mannheim (1993-1947) yang
mengembangkan sosiolog pengetahuan, dan Norbert Elias (1897-1990) dengan
teorinya yang dikenal dengan "proses peradaban" juga beberapa kali
ikut bermarkas di Frankfurt. Akan tetapi, mereka semua pada akhirnya melarikan
diri dari Nazi. Sebagian besar dari mereka mencari tempat tinggal di Amerika
Serikat dan California (Adorno dan Marcuse) atau New York (di New School), atau
Inggris (Elias dan Mannheim). Karya tulis mereka -sering kali sulit dimengerti-
menjadi krusial dalam terbentuknya analisis kontemporer mengenai kebudayaan
(mungkin sekarang perkembangan yang paling signifikan dari kedudukan tadi dapat
dijumpai dalam buku Jürgen Habermas). Selama periode tersebut, sosiologi lebih banyak
dan agak menghilang di bawah Stanilisme dan Maoisme -dua benua luas bagi mereka
yang tidak dapat menerima keadaan sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu.
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Sosiologi Awal Abad 20
Apa
pun aliran yang ada di dalamnya, sejak abad ke-20 sosiologi dan secara cepat
menjadi disiplin ilmu akademis yang "pasti Albion small (854-1926)
mendirikan Departemen sosiologi di Universitas Chicago pada tahun 1892 dan bertahan
menjadi institusi penting sampai pertengahan tahun 1930-an ketika mendapat
saingan dari Pitirim Sorokin yang mendirikan Departemen Sosiologi di
Universitas Harvard pada tahun 1931. Durkheim mendirikan Departemen Sosiologi pertama
di Eropa di Universitas Bordeaux pada tahun 1895 yang memperkenalkan The Rules
of sociological Method sebagai sebuah manifesto yang menyatakan bahwa sosiologi
adalah hal yang harus dijalankan. Di Inggris Raya, sosiologi sebagai sebuah mata
pelajaran mulai diajarkan di London School of Economics pada tahun 1907 ketika
L. T. Hobhouse (1864-1929) menjadi Profesor sosiologi pertamanya. London tetap
menjadi pusatnya -memang karena satu-satunya tempat (jauh dari Liverpool University)
sampai pertengahan abad ke-20. Di Jerman, tempat pertama untuk sosiologi dibentuk
pada tahun 1918 dan 1923, Institusi Penelitian Sosial yang berpengaruh pun
didirikan. Pada tahun 1919, Departemen Sosiologi India yang pertama didirikan di
Bombay (Mumbai). Namun demikian, di sejumlah negara di seluruh dunia, sosiologi
sulit dikembangkan pada sepanjang abad ke-20 dan di beberapa negara sosiologi
ada yang dilarang.
Sosialisasi dan Diri
Seorang
bayi yang baru lahir, penuh dengan hasrat-hasrat jasmaniah, bayi merupakan
manusia yang murni -tetapi belum memiliki sifat sosial. Sebagaimana diketahui
oleh orang tua yang baik tentunya, bahwa butuh waktu untuk melatih seorang serta
membantunya memahami masyarakat dengan benar. Bayi, Proses ini dinamakan
sosialisasi utama atau awal melakukan dengan cara yang berbeda-beda dalam
kebudayaan dan sejarah yang berbeda pular anak-anak diasuh oleh inang, pengasuh
anak, kelompok-kelompok yang hidup bersama dan keluarga keluarga besar, oleh
orang tua tunggal, panti asuhan, dan sebagainya. Ada banyak perbedaan kebiasaan
dalam membesarkan anak, dan banyak penelitian menghasilkan grafik yang
menunjukkan bagaimana anak-anak mulai membentuk bahasa mereka, rasa percaya
pada diri sendiri serta kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat untuk menjadi baik
atau buruk. Yang teriihat jelas adalah bahwa jika mereka dibiarkan sendirian
tanpa pengaruh-pengaruh normative dari orang lain, mereka tidak akan dapat
berkembang. Banyak penelitian yang dilakukan pada anak-anak liar yang dibiarkan
terisolasi dan kemudian mereka didapati tidak dapat berfungsi sebagai makhluk
sosial (contoh dapat diperoleh di website Feral Children).
Ringkasan Sketsa Historis Sosiologi Tahun-tahun Kemudian
Kita
mulai dengan sejarah awal teori sosiologi Amerika yang ditandai oleh
liberalismenya oleh perhatiannya terhadap Darwinisme sosial dan pengaruh
Herbert Spencer. Dalam hal ini dibahas karya dua orang teoretisi sosiologi
awal, Sumner dan Ward. Tetapi keduanya tidak meninggalkan kesan abadi dalam
teori sosiologi Amerika. Sebaliknya aliran Chicago seperti yang terwujud dalam
karya teoretisi seperti Small, Park, Thom. as, Cooley, dan terutama Mead,
meninggalkan tanda yang kuat dalam teori sosial terutama dalam interaksionisme
simbolik. Sementara aliran Chicago masih
berkuasa, sebuah bentuk lain teori sosiologi mu lai tumbuh di Harvard. Pitirim
Sorokin memainkan peran penting dalam mendirikan sosiologi di Harvard, tetapi
Parsons-lah yang memimpin Harvard ke posisi unggul dalam teori sosiologi
Amerika menggantikan interaksionisme simbolik Chicago, Peran Parsons tak hanya
penting dalam melegitimasi "teori besar" di Amerika dalam
memperkenalkan teoretisi Eropa kepada khalayak Amerika, tetapi juga dalam peranannya
mengembangkan teori aksi, dan yang lebih penting lagi, fungsionalism struktural.
Pada 1940-an dan 1950-an fungsionalisme struktural semakin mengemuka karena
adanya disintegrasi di dalam aliran Chicago yang dimulai tahun 1930-an dan
berpuncak pada 1950-an.
Sejarah Singkat Mengenai Sosiologi Barat
Seiring
pertumbuhan skala masyarakat dan perkembangan pemikiran ilmiah, maka tidaklah
mengejutkan bahwa "sosiologi" muncul secara perlahan sebagai sebuah
disiplin ilmu intelektual vang baru. Semenjak adanya "perubahan
besar" pada awal abad ke-19, sosiologi semakin masuk ke dalam dunia Barat
sebagai sebuah disiplin ilmu penelitian di perguruan tinggi, dan sekarang di di
abad ke-21 sosiologi sudah dapat dijumpai di sebagian besar negara di dunia.
Kompleksitas kehidupan global modern hampir-hampir menuntut kita untuk
melakukan pemikiran yang serius (bahkan "akademis") mengenai
masyarakat; dan mengenai pembagian tenaga kerja yang besar yang diakibatkan
oleh dunia modern, banyak orang sekarang harus mengorbankan waktunya, keahliannya,
dan energi intelektualnya untuk melakukan semua ini. Pada saat yang bersamaan,
ingatlah selalu bahwa sosiologi itu berasal dari Barat: yang berarti bahwa
seluruh isi sosiologi dipenuhi dengan asumsi dan nilai-nilai Barat. Ini,
sebagaimana yang akan kita mengerti, adalah mengenai keharusan melakukan perubahan.
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Relativisme Pendidikan
Relativisme
ini merupakan hasil dari kaum posmodernis yang berusaha memberontak tatanan
yang sudah mapan, Situasi di posmodern sebagai sebuah penolakan terhadap
paradigma-paradigma besar, lama, kokoh, dan tak tersentuh. Postmodernisme
acapkali menolak apa pun yang selama ini tidak bisa ditolak sekalipun. Hasil dari
ideologi besar ini adalah pendidikan yang mengacu pada konteks yang tumbuh di
sekitarnya. Contoh:
Praktik Sosiologi
Untuk
memahami dunia secara sosiologis, seperti halnya keterampilan yang lain:
diperlukan sebuah latihan dan ini berarti mempelajari beberapa cara dari sebuah
pekerjaan –pernyataan Howard Becker- dari teori lain yang telah ada sebelumnya.
Sosiolog -seperti para peneliti dan artis- perlu mengolah keahlian secara
khusus, imajinasi dan cara berpikir: menjadi kritis, mampu berdialog dan
bercermin. Kita memerlukan biografi manusia yang kompleks dan bergerak dalam
ruang dan waktu yang sempit, untuk memahami subjektivitas manusia dalam
hubungan kekuasaan dan hubungan materiil di dunia; dan kita memerlukan suatu
jarak yang aman-memiliki perbedaan nilai objektivitas yang cukup- sambil
menjaga semangat pribadi. Beberapa bagian dari aktivitas sosiolog adalah
seperti belajar piano, mempelajari sebuah bahasa atau alat-alat baru
(mempelajari sebuah pengetahuan baru) dari seorang ahli biologi atau kimia. Ada
beberapa keterampilan yang bertingkat-tingkat serta berbagai kesulitan dalam
mempelajari sosiologi, pada awalnya ada beberapa hal serta beberapa
keterampilan yang harus dipelajari. Tahap demi tahap, dan berbagai kompetensi
harus dipelajari.
Perilaku-perilaku Sosial
Sebuah
catatan paling terkenal mengenai perilaku sosial disajikan oleh Max Weber lebih
dari satu abad yang lalu. Secara sederhana ia menyebutkan bahwa perilaku sosial
menunjuk kepada kehidupan manusia saat mempertimbangkan makna diri mereka di
mata orang lain. Hal ini berkaitan dengan yang disebut dengan
"intersubjektivitas", ketika manusia mencoba memahami kehidupan
sosial dengan memasuki pikiran orang lain yang berinteraksi dengan mereka.
Charles Cooley juga melihat padahal ketika ia berkata, "Kita berada di
dalam pikiran orang lain" Jadi, satu tugas sosiolog adalah menyelidiki
beraneka ragam perilaku sosial, dengan realitas dan sifat masing-masing. Secara
singkat, perilaku sosial dapat meliputi (daftar ini tidak mewakili
keseluruhan):
Pancasila Sebagai Ideologi Kaum Terdidik
Dalam konteks keindonesiaan sekarang muncul dalam bentuk
Pancasila. Pembahasan ini bertitik-tolak dari pentingnya pengembangan ideologi
Pancasila sebagai aktualisasi pendidikan. Berdasarkan argumentasi tersebut maka
dengan maksud menawarkan sebuah model pengembangan kebudayaan budaya Pancasila
melalui analisis terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Kebudayaan.
Pengembangan itu menggunakan perspektif antropologi yang didukung oleh metode
hermeneutik dan konstruksi epistemologis yang dikembangkan oleh Immanuel Kant.
Pendidikan Dalam Konteks Terorisme
Peristiwa
runtuhnya gedung WTC di Amerika pada 11/9/2001 menandai adanya sebuah masa yang
dihantui dengan isu terorisme. Isu tersebut masuk di dalam praktik pendidikan
secara tak terhindarkan. Masa itu telah memberikan banyak kebijakan-kebijakan
yang terkait dengan terorisme. Selama itu pula praktik kultural di Indonesia
tidak bisa dilepaskan dari pemikiran tentang terorisme. Pada 2010 sebuah
organisasi nirlaba Lazuardi Birru mengadakan symposium "Memutus Mata
Rantai Radikalisme dan Terorisme" di Jakarta. Hasilnya, pemutusan mata
rantai itu tidak bisa dilakukan dengan satu pendekatan. Dirumuskan,
"Pemecahan permasalahan radikalisme dan terorisme memerlukan pendekatan
yang komprehensif dan lintas sektoral. Bukan represif (hard approach) dari
aparat keamanan saja, melainkan harus dilakukan dengan menggunakan cara-cara
yang persuasif dan humanis dari seluruh elemen bangsa. Sinergi para tokoh
masyarakat, tokoh pendidikan, tokoh agama, organisasi sosial kemasyarakatan,
organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, lembaga masyarakat (LSM), media
masssa dan masyarakat umum dalam setiap rencana aksi dan solusi dsangat
diperlukan. Semua jadi percaya bahwa pemecahan masalah radikalisme di Indonesia
tidak bisa secara sebagian. Pernyataan itu bisa dibaca bahwa radikalisme adalah
masalah mutidimensi, sebuah krisis sosial budaya, ekonomi, dan politik secara
berturut-turut.
Sosiologi Klasik Pada Abad ke-19
Abad
ke-19 dan awal abad ke-20 menjumpai begitu banyak aktivitas intelektual seputar
sifat dasar masyarakat –kebanyakan di antaranya saat ini telah terlupakan Uohn
Scott, Social Theory (2006) merupakan sebuah buku pedoman yang menarik dengan
karya-karya yang sudah hilang pada masa kini yang juga mencari kesinambungan
antara saat ini dan selanjutnya). Dokumen-dokumen sejarah saat ini meninggalkan
rasa di saat para laki-laki berjuang untuk menatap dunia demi memahami
perubahan cepat sambil menghadapi kejutan yang dibawa oleh teori evolusioner.
Mereka membandingkan masyarakat-masyarakat yang ada di dunia dan berusaha untuk
mencari pemahaman mengenai dari mana asal muasal kita dan sedang berada di mana
saat ini, mengingat teori evolusioner itu membawa pengaruh, tetapi juga
mengejutkan. Teori ini menantang banyak pandangan ortodoks mengenai dunia
-terutama dari sisi agama. Meskipun mereka semua berasal dari bangsa Barat,
mereka memiliki pandangan sendiri-sendiri mengenai dunia ini secara luas.
Munculnya Ilmu Pengetahuan Modern
Dunia
yang kita diami ini saat ini banyak terbentuk oleh ilmu pengetahuan dan
penelitian, serta teknologi yang menyertainya. Pengetahuan Islam-Arab sempat
sangat maju sampai pada Ilmu abad ke-13, dan ada juga sejarah perkembangan ilmu
pengetahuan negara-negara lain termasuk Cina. Akan tetapi, selama empat ratus
tahun belakangan ini atau lebih, ilmu pengetahuan modern telah berkembang di
negara-negara Barat dengan begitu cepatnya perkembangbiakan besar pencapaian
ilmu pengetahuan sejalan dengan legitimasinya yang besar sebagai sumber
pengetahuan utama (dalam bidang hukum, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya),
yang berarti bahwa sebagian besar ilmu pengetahuan membawa ciri khas dunia
modern.
Mobilisasi Massa, Protes, dan Politik Kepentingan
Mobilisasi
massa dan gerakan sosial mulai memberi pengaruh di negara-negara Barat selama
akhir abad ke-18 -secara masif ditandai dengan Revolusi Prancis. Selama abad
ke-19, mulai muncul suatu tatanan elemen yang dapat bertahan lama yang menyebar
ke seluruh dunia (melalui penjajahan, migrasi, dan perdagangan) dengan lebih
banyak kelompok dan populasi yang dapat disatukan dalam bentuk-bentuk tindakan
politik baru. Charles Tilley (1929-2008) adalah seorang sosiolog yang
menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menunjukkan peningkatan
gerakan-gerakan sosial sejalan dengan berkembanganya kotak suara.
Masyarakat Dapat Dijelaskan Dengan Drama
Pada
saat para sosiolog ingin memusatkan perhatian mereka pada kegiatan-kegiatan di
dalam kehidupan sosial –bagaimana sebuah kehidupan dijalani- gambaran yang
paling sering muncul adalah sebagaimana sebuah drama. Kehidupan sosial adalah
sebuah teater: kita terlihat sedang menjalankan peran-peran sosial saat melalui
hidup ini -kita menjadi pemerannya, memainkan bagian demi bagian, menggunakan
dukungan, melatih lagi bagian yang harus kita mainkan, terkadang kita menyukai
peran-peran kita, terkadang kita menjauhkan diri dari peran tersebut. Identitas
menjadi topeng, sebagaimana pada akhirnya kita bertanya mengenai
perbedaan-perbedaan di antara kenyataan sesungguhnya dengan apa yang tampak.
Itulah gambaran dari seorang tokoh pemikir sosiologi yang ternama, Erving
Goffman (1922-1982), seorang "sosiolog mikro" yang paling berpengaruh
di abad ke-20. Seperti yang sudah kita ketahui, sosiologi mikro tidak begitu
memerhatikan struktur struktur sosial skala besar seperti negara dan ekonomi,
dan sebaliknya meneliti kehidupan sosial yang dihadapi seseorang dengan lebih
dekat dengan skala kecil, dan langsung berhadapan.
Masyarakat Sebagai Konflik Kepentingan
Tidak
seperti gambaran ikatan sosial atau organisme atau mesin yang memberikan banyak
manfaat banyak orang melihat masyarakat sebagai sesuatu yang kurang ramah:
seperti terjadinya peperangan dalam pertikaian politik antarkelompok yang
berseberangan. Di sini perlu dipertanyakan mengenai perjuangan atau usaha
manusia serta konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan sosial. Ya, sejarah
masyarakat dengan mudah dapat dilihat seperti sejarah perang yang terkutuk.
Dari perang Romawi dan Yunani hingga peperangan di seluruh dunia pada jaman
sekarang ini (saat ini ada empat puluh titik permasalahan di dunia ini dari
Afganistan sampai dengan Zimbabwe), tidak sulit untuk dapat melihat konflik dan
huru-hara sosial yang begitu banyaknya seperti melihat benda-benda -sangat
dinamis. Berkebalikan dengan gambaran ikatan sosial, sekarang kita berfokus
pada perbedaan-perbedaan kita. Sekarang masyarakat dilihat dari peperangan atas
konflik kepentingan.
Masyarakat Modern, Multikultural, dan Hibriditas
Sebuah
ciri khas yang benar-benar menonjol dari dunia zaman sekarang adalah kesadaran
yang semakin besar mengenai perbedaan-perbedaan yang dapat kita jumpai di
dalamnya –ini merupakan sebuah dunia yang berdengung di tempat tujuh miliar
orang di lebih dari 200 bangsa dengan bahasa dan nilai yang berbeda-beda sedang
berjuang untuk memahami politik, agama, dan cara hidup yang berlainan. Ada
sebuah suara hiruk-pikuk yang berusaha untuk dapat didengar dan gagasan
multikuluralisme dapat membantu menangkapnya. Gagasan ini menyoroti mengenai
perbedaan, antara kebudayaan-kebudayaan yang berbeda seperti India atau
Zimbabwe, dan juga mengenali perbedaan luas di antara bahasa, agama, maupun
gaya hidup di dalam sebuah negara. Indonesia dengan lebih dari 700 bahasa, Rusia
dengan lebih dari 150 kebudayaan, dan Kanada dengan kelompok-kelompok migrasi
level tertinggi. Kompleksitas perbedaan-perbedaan ini hanyalah sesuatu yang
akan mulai kita perhatikan dengan serius di abad ke-21 ini.
Manusia Menurut Ilmu Sosiologi
Selanjutnya
bagi kalangan sosiologi, manusia adalah makhluk hidup, dan kehidupannya
tidaklah dapat dipisahkan dari hidup berkelompok. Sadar atau tidak sadar,
manusia dari semenjak lahir sudah membutuhkan kelompok atau orang lain.
Kehidupan sosial itu harus dipandang sebagai suatu tabiat kejiwaan yang lebih
tinggi dan lebih sesuai yang telah tumbuh dari satuan biologi. Pandangan kaum
sosiolog tentang manusia ini sejalan dengan pendapat Aristoteles (384-322 SM)
yang mengatakan dalam teorinya, bahwa manusia adalah "zoon Politikon"
yaitu makhluk sosial yang hanya menyukai hidup bergolongan, atau sedikitnya
mencari teman untuk hidup bersama, lebih suka daripada hidup tersendiri.
Manusia Menurut Ilmu Antropologi
Bagi
kalangan antropologi misalnya, melihat manusia berdasarkan teori evolusi.
Menurutnya, bahwa semua makhluk termasuk manusia pada mulanya muncul dari satu
sel yang amat sederhana, kemudian berproses dan berevolusi secara bertahap
menuju taraf yang lebih sempurna, dan dalam proses evolusi tersebut terdapat
hukum berjuang dan bertahan untuk hidup (The preservation of Favoured Rase in
the strugle for Life, atau The of Species by Means of Natural Selection), yakni
makhluk yang lemah dengan sendirinya akan hilang atau lenyap digantikan oleh
makhluk yang lebih kuat. Dalam teori evolusi tersebut, asal usul manusia
berasal dari benda-benda tidak bernyawa yang memiliki sel yang amat sederhana
(anorganisme), kemudian berubah menjadi tumbuh-tumbuhan (vegetatif), selanjutnya
menjadi binatang (sensitiva), kemudian menjadi makhluk yang mendekati manusia
(homo sapiens, makhluk purbakala-primitif) dan terakhir menjadi manusia seperti
sekarang. Proses perubahan atau evolusi tersebut terjadi dalam waktu yang
berabad-abad lamanya." Teori evolusi ini diperkenalkan oleh Charles Darwin
(1809-1882) yang dipengaruhi oleh Lamarck (1744-1829). Teori evolusi ini
berpegang kepada suatu pendapat bahwa seluruh bentuk yang dilihat oleh manusia
adalah hasil dari suatu proses evolusi yang dibentuk oleh alam luar dan juga
berkat kekuatan mempertahankan diri dari pengaruh yang datang dari alam atau
yang disebut sebagai the strugle for life Lamarck membayangkan perkembangan itu
sebagai suatu perkembangan yang ditentukan oleh cara hidup dan keadaan dari
luar yang lambat laun membuat bertumbuh alat-alat tubuh serta sifat-sifat yang
khas.
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Dapatkah Lingkungan Ditopang?
Dalam
skema besar dari segala hal, peradaban -juga spesies manusia- akan datang dan
pergi. Akan tetapi, sebaliknya pada hitungan masa lalu di Planet Bumi ini
(sebagaimana para ahli lingkungan terkemuka seperti James Lovelock menyebutnya
dengan "Gaia"), hanya ada sedikit sekali atau bahkan sangat kecil
kerusakan yang diakibatkan oleh tangan manusia, sekarang-ketika populasi
meningkat (sejumlah 3 miliar sejak tiga puluh tahun lalu), planet ini berada
dalam keadaan waspada. Pada permulaan abad ke-20, sosiologi dapat
mengidentifikasi bagaimana aktivitas-aktivitas sosial dapat mengakibatkan
kerusakan pada lingkungan. Kita dapat melihat bagaimana manusia bertindak
secara kolektif untuk berburu binatang atau menangkap ikan, menebangi hutan dan
menciptakan erosi tanah, mencemari air dan udara ketika mereka membuat limbah
beracun. Inilah aktivitas-aktivitas sosial yang dapat mendorong perubahan
iklim, pemanasan global, dan peningkatan cuaca yang dapat berpotensi
menimbulkan bencana alam. Selanjutnya, masalah-masalah tersebut telah membuat
beberapa sosiolog menyatakan bahwa dunia manusia belum pernah berada dalam
risiko yang lebih besar sebelumnya: kita perlu meneliti bagaimana mungkin
hubungan sosial kita dapat berakibat pada kerusakan lingkungan. Buku yang
berjudul Risk Society (1992), yang ditulis oleh seorang sosiolog kenamaan
Jerman, Ulrich Beck, memperkenalkan gagasan mengenai risk society atau
masyarakat yang membawa risiko, dan merupakan sebuah buku pedoman penting untuk
membahas masalah ini lebih dalam. Namun, beberapa sosiolog lainnya kini juga
menyatakan bahwa isu tersebut kini menjadi isu penting dalam politik dunia
kontemporer.
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Kesadaran Sejarah dalam Sudut Pandang Sosiologi
Kehidupan
sosial selalu mempunyai masa lalu, masa sekarang, dan masa depan dan selalu
dalam pergerakan. Apa pun yang Anda pelajari, perpindahan penduduk, musik, atau
gerakan massa, para sosiolog akan berkeinginan untuk memahami sejarah mereka,
cara mereka hidup secara dramatis di sini dan pada saat ini, dan akhirnya
merasakan pergerakan mereka -bahkan kemungkinan keberadaan mereka (meskipun
mereka bukan pakar masa depan-masa depan tidak pernah dapat diketahui). Mereka
selalu sibuk. Sosiologi sedikit seperti ilmu sejarah kontemporer. Sosiologi
memusatkan perhatiannya pada dunia ini secara terperinci –tetapi menyesuaikan
dengan kehidupan masa kini. Namun, itu saja tak cukup. Segala hal yang berbau
sosial memiliki masa lalu dan sosiologi harus mendalami sisi arkeologi dari
segala hal yang berhubungan dengan dunia sosial itu. Lebih dari itu: masa lalu
penuh dengan kemajemukan dan sampai sekarang kemajemukan itu masih ada
-keberagaman itu menjadi momok yang tidak pernah berujung. Dan ilmu sejarah ini
bersifat tegas dan mendetail.
Kehidupan Sosial dan Ruangnya Masing-masing
Seluruh
kehidupan sosial mengalir bergerak bersamaan dan dengan tempat dan ruang. Ada
sebuah ilmu geografi -dan geometri- mengenai masalah-masalah sosial. Tidak ada
yang terjadi di luar aliran keadaan atau situasi; dan sosiologi selalu bertanya
mengenai pembentukan, pengelolaan, dan dampak dari ruang-ruang ini. Kita telah
menjumpai contohnya ketika kita mempelajari kebiasaan di jalanan dan pemetaan
perkotaan sebelumnya. Lebih dari satu abad yang lalu, Charles Booth memetakan
jalanan dan kehidupan miskin di London; sementara di Amerika Serikat, suatu
tradisi sosiologi klasik -dikenal dengan sekolah ekologi Chicago-
mendokumentasikan pentingnya area perkotaan bagi kehidupan kita, memunculkan
perbedaan besar dengan tempat dan kehidupan yang dijalani di pemukiman
pedesaan. Dokumentasi ini mempersoalkan tempat tinggal Anda yang hidup di
perkotaan atau pinggiran desa -dan seperti yang kita ketahui sekarang semakin
banyak orang yang tinggal di tempat "perkotaan global".
Imperialisme MEA
Masyarakat
Ekonomi ASEAN ditegaskan melalui Keputusan presiden No 37 tahun 2014 tentang
Komite Persiapan Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN. MEA akan berlaku pada
Desember 2015. Idealitas MEA sebagaimana disepakati oleh para pemimpin ASEAN.
Pendidikan: Ideologi Jalan Ketiga
Sejumlah
sistem pendidikan di Indonesia, baik di pendidikan tinggi, menengah dan dasar
berusaha menempuh sebuah jalan ketiga yang mengatasi segala bentuk
fundamentalisme yang terdapat dalam era posmodern. Pada satu sisi, mereka
mendisiplinkan peserta didik dalam perilaku-perilaku religius tertentu adalah
upaya internalisasi nilai-nilai agama di dalam tindakan sehari-harinya. Adapun
pada sisi lain, mereka harus mampu mencapai kompetensi rasionalitas tertentu.
Hal ini menjadi barang dagangan yang sangat laris pada masa kini. Mereka
mempraktikan cium tangan para guru sebelum pelajaran model Barat dimulai.
Contoh: sekolah-sekolah swasta yang selama ini menjamur dan dianggap sebagai
penggabungan iman dan ilmu pengetahuan. Kelebihannya, praktik ini memberikan jalan
keluar bagi kemelut fundamentalisme. Kekurangannya, praktik tersebut tak
ubahnya sebuah menara gading yang tidak pernah menjadi kenyataan, Praktik di
luar sekolah justru menjadi sebuah "pendidikan" yang paling nyata
bagi peserta didik.
Hubungan Keimanan Kepada Tuhan dengan Pendidkan
Pemahaman
terhadap keesaan Tuhan dengan segala sifat-Nya sebagaimana tersebut di atas,
memiliki hubungan yang erat dalam rangka mengembangkan pemikiran pendidikan.
Hubungan tersebut dapat dikemukakan dengan analisis sebagai berikut.
Globalisasi dari Desa ke Kota
Banyak
orang di dunia yang saat ini masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil, di
pedesaan, dan pulau-pulau terpencil, tetapi sejalan dengan peningkatan populasi
yang berjalan cepat terjadilah perpindahan besar-besaran ke perkotaan.
Pertumbuhan yang terjadi selama lima puluh tahun saja cukup mencengangkan, dari
732 juta di perkotaan pada tahun 1950 menjadi 3,5 miliar pada tahun 2005. Pada
saat pertama kali muncul perkotaan -di Timur Tengah dan lainnya- hanya ada
sekelompok kecil dari populasi dunia yang ada di dalamnya. Pada tahun 1700,
London -kota terbesar di Eropa- secara mengejutkan memiliki jumlah penduduk
yang mencapai setengah juta orang. Sekarang jumlahnya bertahan pada angka
sekitar tujuh setengah juta jiwa (dan sekitar empat belas juta jiwa sebagai
kota metropolitan). Kota ini merupakan kota utama di dunia untuk berbelanja-
tetapi hanya menempati tingkatan ke-25 dari kota-kota di dunia.
Globalisasi dan Glokalisasi
Akhirnya,
kita mengetahui bahwa teknologi modern dan komunikasi lewat media saat ini
telah menghubungkan manusia dari belahan-belahan dunia yang berjauhan. Dalam
masa yang cukup lama dalam sejarah, manusia harus menghabiskan waktu berbulan bulan
-bahkan bertahun-tahun untuk menempuh perjalanan dari satu negara ke negara
lainnya: saat ini caranya begitu instan. Di sini dan saat ini kita dapat hidup
secara global. Interkoneksi dunia ini mengalami percepatan besar dan lebih
mendalam. Inilah globalisasi: para sosiolog lebih suka mengatakan bahwa telah
terjadi penyusutan waktu dan ruang. Tentu saja, ini bukan gagasan yang baru
-perjalanan jauh ke seluruh dunia telah dilakukan selama berabad-abad. Akan
tetapi, yang sangat terlihat disini adalah kecepatan dan daya tembus perubahan
tersebut. Kita dapat menyaksikan berjalannya globalisasi di setiap tempat. Dari
Bank Dunia dan PBB hingga Greenpeace dan Disney world, dari marathon
internasional dan konser global hingga wisata umum dan internet, kita dapat
menjumpai orang-orang bergerak dalam jaringan tanpa dibatasi oleh ruang
komunitas. Manusia membentuk jaringan ke seluruh dunia, dan membuat wilayah
lokal menjadi global, dan wilayah global menjadi lokal. Ya, banyak orang kini
menjadi "warga global".
Fungsionalisme Struktural, Neofungsional, dan Teori Konflik
Hingga
beberapa tahun yang lalu, fungsionalisme struktural adalah teori dominan dalam
sosiologi. Teori konflik adalah penantang utamanya dan menjadi alternative menggantikan
posisi dominan itu. Tetapi, perubahan dramatis bar" terjadi di tahun-tahun
terakhir. Kedua teori itu telah ditaklukkan oleh kritikan hebat, sebaliknya serentetan
teori alternatif telah berkembang dan semakin menarik perhatian dan mendapat
pengikut yang banyak. Meski beberapa jenis fungsionalisme struktural masih ada,
namun perhatian kita di sini hanya dipusatkan kepada fungsionalisme
kemasyarakatan dan pada perhatiannya yang berskala luas, yakni perhatian pada
antar hubungan di tingkat kemasyarakatan dan pengaruh imperatif dari struktur
dan institusi sosial terhadap aktor. Fungsionalis struktural mengembangkan
sederetan pemikiran mengenai sistem sosial, subsistem, antar
hubungan subsistem dan sistem,keseimbangan, dan perubahan
yang teratur.
Filsafat Pendidikan Islam
Pertama,
filsafat pendidikan pada hakikatnya adalah penggunaan jasa pemikiran filsafat
yang sistematik, radikal, universal, mendalam, spekulatif dan mendalam untuk
memecahkan berbagai masalah pendidikan: visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar
mengajar, pendidik, peserta didik, sarana prasarana, biaya, pengelolaan, kerja
sama, lingkungan dan evaluasi.
Dunia Materiil
Dunia
sosial manusia memang simbolis, penuh dengan kebudayaan, dan perspektival atau
memunculkan banyak sudut pandang; dan sosiologi senantiasa diarahkan pada
penelitian mengenai hal-hal tersebut. Tapi ini saja tidak cukup, karena kita
juga hidup dalam dunia materiil yang secara kenyataan bersifat kasar 'bercakar
dan bergigi merah", seperti yang diungkapkan oleh sastrawan Tennyson. Coba
perhatikan kehidupan dan dunia sosial Anda sendiri. Anda secara fisik memiliki
ikatan biologis dengan pemenuhan kebutuhan tertentu (seperti makanan, air
tempat tinggal, keamanan, dan kesehatan). Anda hidup di atas daratan dalam
sebuah jagat raya yang dipengaruhi oleh kekuatan kekuatan fisik besar- evolusi,
lingkungan, dan ekonomi (termasuk "daratan" Anda, penduduk yang
padat, "harta benda" dan "teknologi" yang Anda miliki yang
berada di kisaran kekuatan hukum dan pemerintahan). Di sini, kemampuan Anda
juga menunggu untuk digali atau tidak (untuk tumbuh dengan subur, mati, atau
terkendali?). Inilah hal-hal yang pastinya tidak dapat Anda perkirakan. Mereka
akan tetap ada dan terlepas dari pemaknaan yang kita berikan. Mereka itulah
yang dapat kita sebut sebagai dunia sosial materiil. Ini merupakan "dunia
yang dapat kita tendang", dunia yang nyata, yang ada di luar harapan kita,
di luar alam pikiran dan kebudayaan kita. Kita menghadapinya setiap hari. Dua
pemikir besar (dari sekian banyak tokoh pemikir lainnya) yang telah berperan
penting dalam memahami dunia ini adalah Darwin dan Marx.
Dunia dan Jaringan yang Tersimulasi
Teknologi
baru mulai muncul pada awal abad ke 19 dan telah membawa perubahan besar pada
fungsi dunia saat Kamera muncul pada tahun 1839, dunia reproduksi visual baru
dengan setting di dalam kereta adalah sesuatu yang mustahil sebelumnya dan
mulai dapat tersebar ke mana-mana –dari camcorder hingga fotografi digital.
Telepon ditemukan pada tahun 1876, menjadi jembatan antara jarak yang berjauhan
dan semakin populer dengan jenis telepon genggam dan memberikan tatanan baru
komunikasi antarmanusia. Fonografi hadir pada tahun 1887, mendahului Walkman
dan iPod yang muncul seratus tahun berikutnya: sehingga sekarang kita dapat
menikmati music sambil bepergian ke mana saja -musik membawa perbedaan yang jauh
sekali dibandingkan dengan masa lalu yang sunyi.
Dunia Birokrasi dan Pengawasan
Masyarakat
modern merupakan masyarakat organisasi yang menumbuhkan orang-orang
organisasi", yang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam birokrasi
hierarkis yang luas yang diatur oleh sistem peraturan, rasionalitas, dan
tanggung jawab. Sebagaimana ditulis dan dijelaskan dalam karya terkenal Max
Weber yang berisi gagasan mengenai Iron Cage atau Kandang Besi pada peralihan
abad ke-19 (dan digambarkan dengan baik dalam novel-novel Franz Kafka), pada
permulaan abad ke-21 gagasan ini telah berkembang menjadi cara membuat
peraturan dalam pemerintah, agama, pendidikan, kesehatan, penelitian,
lingkungan kerja, media- tidak ada yang tidak tersentuh olehnya. Ini adalah
dunia "jaminan kualitas", "kesehatan dan keamanan",
pemeriksaan keuangan, akuntabilitas, pengisian formulir" "budaya
audit masyarakat pengawas", dan yang oleh George Ritzer disebut dengan The
McDonaldization of society (1993)) yang menyebutkan bahwa peraturan yang
menentukan jalannya rantai makanan McDonald's telah menata begitu banyak
kehidupan sosial secara global: Kita membicarakan mengenai McDonaldisasi
pendidikan, agama, olah raga, kesehatan, pekerjaan sosial, dan sebagainya.
Meskipun membawa banyak masalah, tanpanya dunia tidak akan dapat bekerja:
tempat-tempat perbelanjaan besar akan gulung tikar, kampus-kampus akan tutup,
catatan kesehatan mungkin tidak ada lagi, dan perjalanan melalui udara mungkin
akan menjadi bencana! Seperti biasanya, ada keunggulan juga ada kelemahan dan
inilah tantangan bagi para sosiolog untuk menganalisis perubahan-perubahan ini.
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Darwin, Proses Kemunculan Kera dan Sebuah Planet Kera Besar
Sosiologi
muncul pada saat teori Charles Darwin sedang mencuat (1809-1882). Selama abad
ke-19 gagasannya mengenai evolusi dan kemunculan umat manusia berkembang dan
sejak itu dimengerti sebagai sebuah penjelasan penting mengenai kehidupan
manusia. Pada akhirnya, apa yang membedakan primata dengan penghuni-penghuni
bumi lainnya adalah kecerdasannya, berdasarkan ukuran otaknya yang paling besar
(relatif tergantung ukuran tubuhnya) dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya.
Dan seperti halnya Darwin yang sibuk mempelajari dan membuat perbandingan di
antara tumbuhan dan hewan yang berbeda-beda di muka bumi, para sosiolog,
sejarawan, dan pakar antropologi pada masa itu sibuk membandingkan masyarakat
pada masa lalu dan masa itu. Sebagian dari mereka menginginkan penghargaan atas
masa lalu masyarakat mereka sendiri dan melihat kepada barang-barang
peninggalan zaman kuno Yunani, Romawi, dan Bangsa-Bangsa Timur.
Cikal Bakal Sosiologi Barat yang Modern
Dunia
modern Barat menggunakan bentuk kecerdasan mereka antara abad ke-15 dan 18,
selama pencarian emansipasi dari dogmatisme religius dan absolutis dan
terorisme melalui pencarian ilmu pengetahuan dan perjuangan "kebebasan dan
hak asasi". Di sini kita dapat melihat sisa-sisa dari takhayul, ilmu
sihir, agama, gereja, dan berbagai monarki dan aristokrasi. Di sini kita juga
menemukan cerita horor dari sejarah panjang Penyelidikan Bangsa Spanyol,
perburuan ilmu sihir, Peperangan Tiga Puluh Tahun dan Perang Sipil Inggris,
serta terakhir revolusi Prancis dan Amerika -seiring dengan tumbuhnya
perbudakan dan kemudian emansipasi akhir. Masa ini juga melihat kenaikan
kapitalisme dagang dan kolonialisasi (juga penindasan) besar-besaran secara bertahap
terhadap sebagian besar wilayah di dunia oleh bangsa di Eropa. Secara serempak,
terlihat juga kemunculan gerakan-gerakan emansipasi secara bertahap yang
menuntut akan kebebasan mereka atas nama kaum perempuan, budak, dan semua kaum
minoritas lainnya. Pencerahan berkaitan dengan banyak pemikir, termasuk Diderot,
Hobbes, Hogarth, Hume, Kant, Locke, Mozart, Newton, Pope, Rousseau, Voltaire,
dan lainnya -memberikan pernyataan kepada dunia untuk berpikir secara rasional,
ilmiah, dan progresif.
Cara Merasakan Sejarah yang Nyata
Jumlah
umat manusia di Planet yang mencapai miliaran tidak semuanya dapat diteliti. Namun,
apabila kita tidak mengindahkan kehidupan-kehidupan yang nyata dan
sesungguhnya, kita akan tersesat dalam abstraksi terlepas dari dunia sosial.
Para sosiolog tidak pernah dapat melupakan bahwa jaringan kehidupan manusia
yang selalu berpindah-pindah merupakan dasar penelitian mereka. Oleh karena
itu, apa pun yang mereka lakukan, mereka harus kembali secara teratur pada
kehidupan yang nyata, mengamati pengalaman, dan mendengarkan apa yang
seharusnya mereka katakan. Harus selalu ada perbaikan demi mencegah sosiologi
dari penyimpangan yang terlalu jauh dari kehidupan sosial, sebagaimana dapat
terjadi dengan mudahnya.
Cara Meneliti Hal Kebetulan, Mobilitas, dan Arus Kehidupan Sosial
Hal
yang sangat berhubungan dengan masalah adalah kebutuhan untuk selalu memandang
kehidupan sosial manusia dan sosiologi) sebagai sebuah proses: segala hal
mengalami perubahan, hidup terus mengalir, dan tidak ada yang tetap. Apapun yang
kita analisis, baik gangguan, pembunuhan, ataupun sistem kesehatan, semuanya
berubah seiring dengan waktu Pasti sosiologi tidak pernah atau tetap. Sebuah
komentar pada suatu waktu dapat diubah sesaat kemudian. Suatu kelompok yang
terbentuk dalam satu jam dapat mengubah masa depan. Keadaan terus berubah.
Sosiologi adalah kawah berbusa dari perubahan-perubahan yang tiada akhir. Tidak
ada hal yang tetap. Setiap penemuan sosiologis dapat menjadi suatu hal yang
sudah ketinggalan sesaat kemudian Semua "penemuan" hanya berlaku sebentar
-mereka hanya bertahan tidak lama dari saat ditemukannya. Dalam hal ini,
sosiologi selamanya ketinggalan seiring terus berubahnya dunia. Oleh karena
itu, sering kali muncul tantangan besar: Apakah yang ada di tengah-tengah arus
dan perubahan yang terus-menerus yang mungkin bersifat stabil dan
berulang-ulang? Di manakah letak ketetapan dari semua perubahan yang tiada
akhir ini?
Awal Sosiologi Modern
Sosiologi
sebagai sebuah "disiplin ilmu" yang luas dan secara umum mengisahkan
kemunculan pemikiran Pencerahan dan revolusi-revolusi besarpadaabadke-18 dan
19.Ini dapat dipandang sebagai sebuah disiplin ilmu yang membuktikan
"kejutan dari yang baru". Kehidupan sosial tampaknya tidak pernah
berada dalam kekacauan seperti demikian. Saat itu kehidupan sosial dihadapkan
pada Revolusi Prancis, Revolusi Industri, negara-negara berbangsa tunggal yang
baru bermunculan, kemerdekaan AS, dan pertumbuhan ide demokrasi, serta
peningkatan populasi dunia dan kemunculan kota-kota baru serta pemukiman kumuh yang
menyertainya. Sekarang kita sering berpikir bahwa kita sedang berada di masa
perubahan sosial yang luar biasa: sebuah sejarah singkat menunjukkan bahwa perubahan
ini telah ber langsung selama beberapa abad. Pastinya ada sesuatu yang masih mengambang
di dunia Barat yang memandang sebuah dunia baru yang masih dalam proses
terbentuknya, suatu masa perubahan yang cepat dan bahkan revolusioner. Tatanan
lama memang dalam kemunduran yang serius: kehidupan tradisional mengalami
kehancuran.
Agama Global
Ilmu
pengetahuan dan akal sehat bukanlah satu-satunya sistem kepercayaan di dunia
modern. Agama (dan spiritualitas) menjalankan peran pokok di semua kelompok
masyarakat dan ada ribuan agama yang dianggap istimewa di seluruh belahan dunia
ini, dengan tujuh agama besar di antaranya, seiring dengan keberadaan banyak
orang yang tidak memercayainya. Agama Kristen dianut oleh kurang lebih dua
miliar orang (terutama di Eropa dan Amerika); Islam dianut oleh sekitar satu
setengah miliar orang (terutama di Asia, Afrika, dan negara-negara Arab); Hindu
dianut oleh sekitar 900 juta orang dan Buddha memiliki penganut sejumlah 6%
jumlah manusia, yaitu
376 juta orang. Agama Yahudi memiliki penganut yang relatif sedikit dengan
hanya 14 juta penganut di seluruh dunia (enam juta berada di Amerika Serikat).
Dua sistem kepercayaan berikutnya tidaklah sepenuhnya dapat dikatakan sebagai
agama. Sebagian besar penduduk Cina telah oleh Konfusianisme (penyembahan
terhadap leluhur) dan terakhir adalah komunisme -kepercayaan antiagama.
Posmodernisme Pendidikan
Reaksi
atas konsep-konsep sebelumnya ini biasanya di dengan istilah konsep posmodern.
Kata post" berarti setelah sedangkan "modern" artinya setelah.
Kata "modern" itu sendiri mengacu pada keadaan setelah pencerahan.
Jadi urutannya dalam waktu linear, setelah masa kegelapan di Eropa (The Dark
Middle Age), Abad Pertengahan (50o-an), kemudian disusul dengan pasca
pencerahan (160o-an) yang ditandai dengan Abad Reformasi di Jerman. Masa masa
perubahan itu kemudian menandai adanya gerbang modern uang pada abad ke-17 dan
dikukuhkan dengan adanya revolusiPrancis (1789). Setelah masa modern, lahirlah
masa posmodern, yaitu sebuah masa yang kita alami sekarang ini.
Anarkisme Epistemologi Paul Karl Feyerabend
Pertama,
pemikiran Feyerabend tentang anarkisme epistemologis dilatarbelakangi oleh
setting sosio-historis dan sosio-kultural. Dominasi paradigma positivistik yang
melihat bahwa sesuatu yang ilmiah adalah yang dapat diverifikasi melalui
observasi, dan eksperimen di laboratorium sehingga memiliki nilai kebenaran
yang tidak tergoyahkan. Semua yang ada di luar itu dinilai tidak ilmiah.
Berpikir dan Lingkungan Sosial
"Apakah
lingkungan membentuk pikiran seseorang atau pikiran seseorang menentukan
lingkungannya? Alasan dan fungsi penting dari berpikir pada manusia ialah agar
dapat beradaptasi dengan lingkungannya.
Permasalahan serta kesenjangan antara apa yang seharusnya terjadi dengan apa
yang terjadi pada lingkungan sosial membuat manusia berpikir, Dorongan untuk
menciptakan lingkungan yang lebih baik juga membuat manusia berpikir. Sebagai
makhluk sosial, manusia juga berpikir pada saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan
lingkungannya. Lingkungan membuat manusia berpikir.
Mengenai Tujuan Filsafat Pendidikan
Tujuan
filsafat pendidikan adalah menemukan makna dasar dari pendidikan itu sendiri.
Tujuan filosofis atau hasil yang bisa dimanfaatkan adalah menemukan hakikat
dari keberadaan tentang pendidikan. Untuk mencapai hakikat, dalam filsafat
dikenal beberapa cara yang didasarkan pada gagasan tentang "mengetahui
sesuatu Cara tersebut menghasilkan perangkat-perangkat untuk mengetahui yakni
persepsi, nalar, dan intuisi. Rangkaian unsur-unsur untuk menemukan hakikat itu
dinamakan dengan epistemologi.
Pembangunan Kembali Sebuah Pendidikan
Epistemologi
selalu dimengerti sebagai upaya manusia melihat dirinya yang menghasilkan
pengetahuan. Dari upaya itu, manusia kemudian merumuskan unsur-unsur mendasar
yang dijadikan sebagai perangkat manusia untuk mengetahui. Unsur-unsur itu
adalah persepsi, nalar, dan intuisi. Pembangunan struktur pengetahuan yang
didasarkan pada kaidah-kaidah nalar, terbukti telah jatuh pada pemikiran yang
bersifat saintisme. Dalam bahasa gampangnya, saintisme adalah "sok
ilmiah".
Epistemologi Jurgen Habermas
Dengan
pendasaran epistemologis yang berifat emansipatoris Habermas berusaha membangun
suatu kerangka ilmu kritis. Habermas berusaha memberikan suatu pembedaan yang
jelas antara ilmu-ilmu alam yang menggunakan kepentingan teknis dengan ilmu-ilmu
sosio-hermeneutis yang lebih dominan pada kepentingan praksis, sehingga
diajukanlah ilmu-ilmu kritis yang lebih ditekankan pada kepentingan kognitif
emansipatoris. Suatu paradigma untuk membebaskan manusia dari kesadaran semu.
Epistemologi Mohammed Arkoun
Secara
ringkas dapat dijelaskan bahwa Arkoun menyerukan investigasi multidisipliner
terhadap proses yang membuat wahyu menjadi ortodoksi dalam Islam. Al-Quran
adalah (1) wahyu yang disampaikan oleh Muhammad secara lisan kepada para
sahabatnya, (2) seperangkat undang-undang yang berbeda di dalam kekuasaan Arab
yang baru didirikan, (3) sebuah teks tertulis yang dibangun untuk mengikis
perbedaan sekaligus mengukuhkan kekuasaan Arab, (4) dasar bagi kerangka hukum
yang didesain untuk menyatukan praktik hukum yang multietnis dan multibahasa,
dan (5) refleksi atas kebenaran universal yang diturunkan kepada bangsa Arab
(Arkoun, 1988: 5-7). Bagi Arkoun, memahami Islam berarti memahami bagaimana dan
mengapa konsep keempat dan kelima dari al-Qur'an itu akhirnya sangat dominan.
Sebuah Evolusi dari Filsafat Pendidikan Masa Depan
Filsafat
pendidikan masa depan ditandai dengan adanya perubahan tatanan konsepsi
filsafat itu sendiri. Ketika metafisika dikatakan telah mati misalnya,
metafisika baru telah muncul. Demikian pula ketika dikatakan filsafat telah
mati, maka akan timbul filsafat yang baru. Kematian filsafat adalah kematian
konsep filsafat yang lampau. Filsafat tetap akan hidup!
Filsafat Pendidikan Islam Fazlur Rahman
Dalam
beberapa aspek Rahman tidak sependapat dengan konsep-konsep ulama klasik dan abad
pertengahan kendati ia tetap menghormati dan mengagumi tradisi yang
sophisticated yang diwariskan oleh para Tetapi, sebagian ulama tetap
meninggalkan aspek-aspek signifikan, terutama pemikiran kritis dan pembaruan. pada
abad ke-20 dan memasuki abad ke-21 ini, tradisi intelektual sama sekali tanpa
kedalaman hikmah, pemikiran konstruktif dan telaah kritis. Yang tersisa
hanyalah terhentinya pertumbuhan dan tradisi hierarkis yang hanya akan
mengakibatkan stagnasi. Dengan alasan tersebut untuk menghasilkan sistem
pendidikan yang diharapkan, maka butuh pembaruan bersifat radikal,
kritis-konstruktif, dan integral seperti yang ditawarkan yang oleh Rahman.
Filsafat Pengetahuan Mistik
Dalam
perbincangan mengenai filsafat ilmu yang umumnya beredar, eksistensi
pengetahuan mistik atau pengalaman-pengalaman spiritual masih sangat jarang.
Pembahasan filsafat ilmu lazimnya masih bermain dalam wilayah empirikal dan
rasional. Itulah mengapa secara global hanya dikenal dua metode, yaitu
observasi (tajrib) dan metode logis (burhani) Kalaupun ada pembahasan mengenai
wilayah keagamaan yang disinggung hanya aspek empirikal dan rasionalnya semata.
Padahal dalam epistemologi Islam klasik telah dibicarakan tentang pengetahuan
mistik, metode-metode untuk meraihnya, basis ontologis dan aspek aksiologis
kemanfaatannya.
Filsafat Rasionalisme Islam: Epistemologi Burhani Abed Al-Jabari
Dalam
merespons problematika modernitas, Fazlur Rahman pernah mengungkapkan
kontribusi filsafat pada tataran intelektual: Bagaimana pun filsafat merupakan
sebuah kebutuhan intelektual yang abadi (a perennial intellectual need) dan
harus diizinkan untuk berkembang baik demi wacana filsafat sendiri maupun demi
disiplin-disiplin lain; karena ia menanamkan semangat kritis-analitis yang
sangat diperlukan dan melahirkan gagasan-gagasan baru yang menjadi alat
intelektual yang penting bagi ilmu-ilmu lain, tak terkecuali bagi agama dan
teologi. Karenanya, sebuah masyarakat yang mencampakkan kekayaan filsafatnya
berarti membiarkan dirinya dalam bahaya kelaparan akan ide-ide segar, ia telah
melakukan bunuh diri intelektual (intellectual suicide). Akan tetapi itu, bukan
tolok ukur satu-satunya.
Fungsi Media Pembelajaran
Ada dua fungsi
utama media pembelajaran yang perlu diketahui, yaitu sebagai berikut:
- Media Pembelajaran sebagai Alat Bantu dalam Pembelajaran
Pada
dasarnya setiap materi ajar memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada
satu sisi ada materi ajar yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi di lain
pihak ada materi ajar yang sangat memerlukan alat bantu berupa media
pembelajaran. Media pembelajaran yang dimaksud, antara lain berupa globe,
grafik, gambar, dan sebagainya. Materi ajar dengan tingkat kesukaran yang
tinggi tentu sukar dipahami oleh peserta. Tanpa bantuan media, materi ajar
menjadi sukar dicerna dan dipahami oleh setiap peserta. Hal ini akan semakin terasa
apabila materi ajar tersebut abstrak dan rumit/ kompleks.
Gugatan Epistemologi Liberatif Ashgar Ali Engineer
Semua
dogma teologi yang berkembang pada abad pertengahan, mulai dari periode
Abbasiyah, Mu'tazilah dan Isma'iliyah dengan teologi rasionalnya, sekte
Qaramithah cabang dari Ismaili dengan teologi revolusionernya, dan Khawarij
dengan teologi anti kemapanannya, dianggap oleh mainstream ulama ortodoks
sebagai bid'ah dan tidak memberikan pengaruh apa pun terhadap teologi Islam.
Tetapi bagi Asghar, iran ini sangat membantu dalam mengembangkan proyek teologi
pembebasannya. Teologi pembebasan menekankan pada kebebasan, persamaan
(egalitarianism) dan keadilan distributif serta menolak keras penindasan,
penganiayaan dan eksploitasi manusia oleh manusia. Teologi pembebasan dibedakan
Asghar dengan teologi rasional yang pernah dikembangkan oleh Jamaluddin
Afghani, Muhammad Abduh, dan lain-lain. Menurut pendapat Asghar, teologi
pembebasan tidak membatasi diri pada dunia pemikiran murni dan spekulatif tetapi
memperluas ruang lingkupnya sebagai instrumen yang paling kuat untuk
membebaskan umat dari cengkeraman para penindas. Dengan semangat revolusioner,
teologi pembebasan dapat mengilhami seseorang untuk menghadapi tirani,
eksploitasi dan penganiayaan, agar kehidupan kaum lemah yang tertindas bisa
berubah menjadi lebih baik.
Idealisme Pendidikan Pasca-renaisance
Pendidikan
pasca-renaisance ditandai dengan situasi yang menuntut kebangkitan akal sehat
dalam menangkap keimanan dan pengetahuan. Karena itu, kehadiran lslam dalam
pandangan Hegel dianggap sebagai Revolusi Timur. Secara filosofis, konsep
teologi (tauhid) dianggapnya memiliki orisinalitas dibandingkan dengan ideologi
para pendahulunya, yakni Yahudi dan Kristen. Tuhan Yahudi hanya untuk orang
Yahudi, sedangkan Tuhan Islam untuk seluruh umat manusia. Karena itu, kebebasan
manusia diserahkan kepada Tuhan yang satu dan manusia mengabdi kepada-Nya.
Inilah yang kemudian disebut Hegel sebagai fanatisme.
Tradisi Intelektual Pesantren
Muhammad
Abdullah dalam Tradisi Intelektual lslam dalam Sastra Melayu dan Sastra
Pesantren 1996" menuliskan tentang tradisi intelektual yang terjadi pada
tahun 150o-an. Menurutnya, pada kurun waktu itu tradisi intelektual kalangan
pesantren masih kurang memiliki pengaruh. Berdasarkan penelusuran sejarah, dia kemudian
memberikan gambaran singkat tentang situasi intelektual masa itu. Dikatakan
bahwa Nuruddin ar-Raniri dan Hamzah Fansuri melakukan dialog ilmiah dalam
buku-bukunya. Ketika Hamzah Fansuri memberikan ajaran wahdat al-wujud,
ar-Raniri langsung menanggapi dengan kitab bertajuk Asrar al Insan Fi Ma'rifati
ar-Ruh wa ar-Rahman. Tulisan itu dianggap oleh Abdullah sebagai berikut: "Langkah
ini merupakan langkah politik Sultan untuk melindungi kekuasaannya dari
berbagai ajaran Hamzah Fansuri (1996:95)". Buku-buku yang ditulis pada
masa itu tidak bisa dilepaskan dari kehendak penguasa. Abdur Rauf as-sinkili
juga menyebutkan tarekat Syatariyah yang memiliki paham wahdat al-wujud. Abdur
Rauf juga menulis Dagaiq al-Huruf Bayan Tajalli, Mirat at Tullab, dan hidayat al-Balighah.
Jenis-jenis Media Pembelajaran
Ada enam jenis dasar dari media pembelajaran menurut
Heinich and Molenda (2005) (Dadang, 2009), yaitu sebagai berikut.
- Teks
Teks
merupakan elemen dasar untuk menyampaikan informasi dalam berbagai jenis dan
bentuk tulisan yang berupaya memberi daya tarik dalam penyampaian informasi.
Konstruksi Epistemologi Max Horkheimer
Masyarakat
modern telah terkontaminasi oleh gerakan pencerahan abad ke-18 dengan konsep
pengagungan rasio-nya. Berbasis pada rasio inilah, Max Horkheimer mulai
menganalisis keadaan masyarakat pasca-industri dan mengkritiknya karena tidak sesuai
dengan konsep rasionalitas Pencerahan itu sendiri. Akhirnya, dengan senjata
Teori Kritis-nya ia membongkar kedok ideologis teori irrasionalitas masyarakat,
termasuk juga kritik terhadap paham bebas nilai dari ilmu-ilmu. Tetapi filsafat
pun tidak luput dari gempuran Max Horkheimer.
Media Pembelajaran Berbentuk Audio
Audio adalah jenis media yang
berhubungan dengan pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam
lambang-lambang auditif. Beberapa jenis media yang dapat digolongkan dalam
media audio adalah sebagai berikut.
Media Pembelajaran Berbebntuk Visual
Media visual berfungsi menyalurkan
pesan dari sumber penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan dalam simbol-simbol
visual. Selain itu, fungsi media visual adalah menarik perhatian memperjelas
sajian ide, menggambarkan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat
dilupakanjika tidak divisualkan. Beberapa media yang termasuk media visual
adalah sebagai berikut.
Paradigma Materialisme Dialektis dalam Epistemologi Karl Marx
Konsepsi epistemologi Marx terbentuk melalui penerapan
paradigma materialisme dialektis yang mengintrodusir suatu pemahaman bahwa
dunia selalu berada dalam proses perkembangan yang dialektis, yakni penerimaan
dan penolakan. Dalam proses dialektis ini, terkandung unsur-unsur yang saling
bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan) saling bermediasi (memperantarai dan diperantarai).
Kehidupan nyata selalu berada dalam keadaan saling berkontradiksi, bernegasi,
dan bermediasi. Dialektika yang terjadi menurut Marx, tidak berada dalam idea
(dialektika idea) melainkan terjadi dalam dunia nyata (dialektika materi) Pengetahuan
manusia yang muncul dari proses dialektis adalah benar jika dipahami dengan
kerangka hubungan antara setiap kejadian dalam dunia nyata.
Pendidikan Saat Masa Kolonial
Pendidikan
kolonial adalah sebuah penyelenggaraan pendidikan yang menggunakan asas-asas kolonial, baik
metafisika epistemologi, dan yang digunakan. Rentang waktu secara objektif
adalah sejak abad ke-18 hingga abad ke-20. Kendati demikian, pendidikan kolonial
baru terjadi pada pertengahan abad ke-19. Selama ini, Pemerintah Kolonial menganggap tanah jajahan yang
perlu diperadabkan dengan huruf Latin dan epistemologi positif. Marilah kita
lihat bagaimana filsafat pendidikan kolonial bermaksud mengikis habis konsep-konsep
pendidikan prakolonial. Filosofis itu diambil dari pemikiran Tan Malaka yang memiliki
hubungan erat dengan epistemologi populer pada masa itu, yakni Marxisme. Tidak
ada konsep Marxisme yang begitu jelas bisa diterapkan dalam konteks Indonesa kecuali Tan Malaka.
Ringkasan Sketsa Historis Sosiologi Tahun Awal
Ringkasan
sejarah awal teori sosiologi dalam dua bagian. Bagian pertama menerangkan
berbagai kekuatan sosial yang terlibat dalam perkembangan teori sosiologi.
Meski banyak faktor yang berperan, perhatian hanya dipusatkan pada perkara
bagaimana revolusi politik, revolusi industri dan perkembangan kapitalisme sosialisme,
urbanisme, perubahan agama, dan pertumbuhan ilmu pengetahuan sains memengaruhi
teori sosiologi. Bagian kedua membahas pengaruh kekuatan intelektual terhadap
pertumbuhan teori sosiologi di berbagai negara. Dimulai dari Prancis dan peran
yang dimainkan era Pencerahan yang menekankan pada reaksi konservatif dan
romantis terhadap pertumbuhan teori sosiologi itu. Dari jalinan teori-teori
itulah sosiologi Prancis berkembang. Dalam konteks ini dibahas tokoh-tokoh utama
di tahun-tahun awal perkembangan sosiologi Prancis Claude Henri Saint mon, Auguste
Comte, dan Emile Durkheim. Selanjutnya beralih ke Jerman dan peran yang
dimainkan Karl Marx dalam perkembangan sosiologi di negara itu.
Pendidikan Setelah Kolonialisme
Pendidikan
yang diselenggarakan setelah penjajahan usai, Berakhirnya Perang Dunia II pada
tahun 1945 memberikan peluang bagi dunia untuk menentukan nasib sendiri.
Melalui pendirian nasib sendiri itu akhirnya tidak selalu mengacu pada nasib
sebagian besar bangsa, tetapi juga hanya menyentuh satu atau dua orang. Karena
itu, filsafat pendidikan pascakolonial menghasilkan dilema tentang orientasi
orientasi pendidikan yang mengarah pada masa sepan.
Pendidikan Berbasis Teknologi Virtual
Pendidikan
mengalami perubahan realitas. Semula dari pendidikan yang bersifat riil atau
empiris, menuju pendidikan yang bersifat virtual. Perkembangan teknologi
memaksa penyelenggaraan pendidikan yang tidak hanya dilakukan di kelas, tetapi
juga di luar kelas, bahkan pendidikan tanpa ruang Sebagaimana dipahami bahwa
objek filsafat adalah bentuk bentuk keberadaan yang memiliki tingkatan, mulai
dari benda mati sampai simbol. Tantang-tangtangan yang muncul pada hari-hari
ini adalah hadirnya objek filsafat yang berbeda dengan masa-masa lalu Misalnya
dalam konsep kosmologi yang mengangkat benda mati sebagai objek berpikir, maka
akan didapati konsep-konsep alam semesta yang berubah. Penemuan tata surya baru
dalam ilmu astronomi dugaan adanya makhluk asing dari tata surya yang berbeda serta
luas alam semesta yang semakin membesar semua itu membawa pada imajinasi
imajinasi terjauh tentang alam semesta. Adakah sebuah tempat yang dijadikan
sebagai kehidupan bagi makhluk lain kecuali kita yang mendiami bumi?
Pengertian Media Pendidikan
Menurut
Bovee (Dadang, 2009), media adalah alat yang
mempunyai fungsi menyampaikan pesan. Media merupakan
bentuk jamak dari kata medium yang berasal dari bahasa Latin yang secara
berarti perantara atau pengantar. Media adalah pengantar pesan dari pengirim ke
penerima pesan (Arie Sadiman, dkk., 2009: 6) Briggs (1970) dalam buku Arief
Sadiman yang berjudul Media Pendidikan menyebutkan bahwa media adalah segala
alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
Sementara itu, Gagne berpendapat bahwa media adalah berbagai jenis komponen
dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar (Arief Sadiman,
dkk., 2009: 6).Adapun pembelajaran menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sisdiknas, yaitu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. Dengan demikian, media pembelajaran
adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan ataupun informasi
yang akan diberikan dalam suatu pembelajaran.
Media
pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses dalam belajar mengajar. Media
pembelajaran dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian,
dan kemampuan atau keterampilan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya
proses belajar yang lebih efektif. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup
pengertian sumber, lingkungan, manusia, dan metode yang dimanfaatkan untuk
tujuan pembelajaran/pelatihan.
Menurut
Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/
materi pembelajaran seperti buku, film video, dan sebagainya. Adapun menurut
National Education Associaton 1969), media pembelajaran adalah sarana
komunikasi dalam bentuk letak ataupun pandang-dengar, termasuk teknologi
perangkat keras.
Referensi : Hasri, Basan dan Rusdiana. 2015. Manajemen
Pendidikan dan Pelatihan. Bandung: CV Pustaka Setia
Pendidikan Sebelum Kolonialisme
Pendidikan
prakolonial dimengerti sebagai sebuah penyelenggaraan pendidikan yang dibatasi
oleh ruang waktu tertentu. Pembatasan ruang mengacu pada batas-batas politik yang
terdapat di geografis tertentu sedangkan batasan waktu mengacu pada sebuah masa
ketika praktik penjajahan belum dimulai. Geografis itu merujuk pada wilayah
Nusantara sedangkan masa yang dimaksud mengacu pada abad ke-17, yakni sebelum
Jan Peterson Coen melemparkan jangkar di pantai Sunda Kelapa. Kali
ini akan dibahas tentang semangat pendidikan pada masa
pra-kolonial dan sisa-sisanya pada masa sekarang. Masyarakat prakolonial
memiliki model pemerintahan kerajaan.
Definisi Filsafat Pendidikan
Secara
singkat, filsafat pendidikan dapat dimengerti sebagai kajian filosofis tentang
asumsi-asumsi dasar, konsep, prinsip-prinsip hingga kategori di dalam
pendidikan. Pendidikan dilihat bukan sekedar sebagai
konsepsi apriori, tetapi sebagai langkah-langkah aposteriori yang melibatkan
fakta-fakta empiris. Karena itu, filsafat pendidikan adalah
sebuah upaya pemeriksaan yang menyeluruh terhadap hal-hal utama di dalam
pendidikan. Sebagai contoh persoalan filosofis
dalam pendidikan adalah pertanyaan
berikut ini :
Selasa, 13 Desember 2016
Transformasi dan Perubahan Sosial di Pedesaan
Tidak ada masyarakat yang stagnant
pada titik tertentu sepanjang masa. Setiap masyarakat selalu berubah baik dari
segi kultural maupun struktural. istilah-istilah untuk menginterprestasikan
kondisi masyarakat yang selalu berubah seringkali disebut dengan Social change,
cultural chage, sociocultural adaptation and adjusment, Istilah-istilah itu
diartikan sebagai kondisi perubahan sebagai akibat penyesuaian diri dari
anggota masyarakat secara penuh kesadaran. Perubahan di masyarakat selalu
bersifat multidemensional mulai dari peruban sosial dan perubahanan kebudayaan.
Perubahan sosial lebih bersifat khusus, karena perubahan ini ketika dikenal,
dilakukan kemudian disebut sebagai perubahan kebudayaan. Sedangkan perubahan
kebudayaan lebih bersifat umum, yang mencakup semua aspek kebudayaan yang ada
pada masyarakat mulai dari sisi pengetahuan, perilaku sampai tekhnologi.
Konsep Diri
Konsep
diri adalah pandangan seseorang tentang dirinya sendiri yang menyangkut apa
yang ia ketahui dan rasakan tentang prilakunya, isi pikiran dan perasaannya,
serta bagaimanan prilakunya tersebut berpengaruh terhadap orang lain. Di sini
konsep diri yang dimaksud adalah bayangan seseorang tentang keadaan dirinya
sendiri pada saat ini dan bukanlah bayangan ideal dari dirinya sendiri
sebagaimana yang diharapkan atau yang disukai oleh individu bersangkutan.
Konsep diri berkembang dari pengalaman seseorang tentang berbagai hal mengenai dirinya
sejak kecil, terutama yang berkaitan dengan perlakuan orang lain terhadap
dirinya.
Strategi Pengajaran IPS di Era Global
Wiriatmadja
(2002:276), guru harus selalu memperbaharui keterampilannya profesionalnya.
Diantara kemahiran guru yang selalu perlu ditingkatkan adalah kemampuan
mengajarnya. Melalui pelatihan lokakarya, seminar, atau pertemuan-pertemuan
MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), dan lain-lain. Kemahiran-kemahiran itu
dapat dapat diupayakan dan diperoleh dengan mendatangkan narasumber.
Materi IPS dalam Perubahan Global
Tujuan
bidang studi IPS tidak berfokus pada penguasaan materi semata melainkan menitik
beratkan pada penguasaan kecakapan proses, yang dapat ditunjukan dalam bentuk
verbal (verbal performance), sikap (attitudedinal performance), dan perbuatan
(physical performance), atau adanya integrasi antara afektif, kognitif, dan
motorik. (Suderadjat,2003:47).
Problema Pembelajaran IPS
Sebenarnya
kurikulum IPS 2004 sudah melihat kemungkinan (menganstisipasi),
setidak-tidaknya untuk waktu sepuluh tahun kedepan dalam hal fenomena yang ada
baik di tingkat masyarakat lokal, nasional, maupun global. Tetapi itu hanya
kurikulum dalam bentuk ide dan dokumen, namun kurikulum dalam bentuk
implementasi (proses), masih akan sangat dipengaruhi oleh bebrapa masalah,
yaitu:
Penyesuaian Kurikulum IPS dengan Tuntutan Perubahan Global
Dalam
standar kompetensi mata pelajaran
Pengetahuan Sosial Depdiknas (2003:5) dinyatakan “melalui mata pelajaran
Pengetahuan Sosial, peserta didik diarahkan, dibimbing dan dibantu untuk
menjadi warga negara Indonesia dan warga negara dunia yang baik”.
Menjadi
warga negara dan warga negara dunia yang
baik merupakan tantangan yang berat karena masyarakat global selalu mengalami
perubahan yang besar setiap saat, untuk itulah pengetahuan sosial harus
dirancang untuk membangun dan merefleksikan kemampuan peserta didik dalam
kehidupan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus.
Pembelajaran IPS di Era Globalisasi
Globalisasi
adalah suatu keadaan atau kondisi dimana isu dan masalah yang menyangkut
berbagai bangsa dan negara atau bahkan seluruh dunia. Menurut Tye dalam bukunya
yang berjudul “Global Education”: From Thought To Action, pemahan terhadap
globalisasi merupakan proses belajar tentang masalah-masalah dan isu-isu yang
melintasi batasan-batasan negara (nation) dan tentang sistem keterhubungan
dalam lingkungan, budaya, ekonomi, politik, dan teknologi. Dan disamping itu,
untuk memahami lebih mendalam diperlukan prespektif atau sudut pandang dan
pendekatan terhadap kenyataan bahwa sementara para individu dan
kelompok-kelompok memiliki kebutuhan dan keinginan-keinginan yang sama (Skell,
1995:136).
Persoalan Moral di Era Globalisasi
Secara historis
globalisasi berarti meluasnya pengaruh suatu kebudayaan atau agama ke seluruh
pejuru dunia. Namun, konsep dan istilah globalisasi yang digunakan sejak
1990-an, tidak dapat dipahami berdasarkan pengertian tersebut. Sebab dalam
istilah globalisasi saat ini terkandung sejumlah perkembangan terbaru didunia
yang ditandai oleh sejumlah besar tendensi sosioligi yang amat kuat, yang tidak
dikenal pada masa-masa sebelumnya (Parsok, 2004).
Alih Teknologi Akibat Globalisasi
Salah satu
kemampuan penting yang harus dimiliki suatu Negara adalah kemampuan dalam
penguasaan teknologi. Penerapan, pengembangan, dan penguasaan teknologi tidaklah
mungkin dicapai dengan baik, tanpa didukung dengan budaya kreatif dan inofatif
dari masyarakat. Laju penumbuhan IPTEK yang harus terus meningkat dari waktu ke
waktu, hanya membrikan peluang bagi masyarakat yang dinamik untuk dapat
mengejar dan mengikuti perkembangan IPTEK tersebut. Budaya kreatif dan inofatif
merupakan ciri menonjol dan faktor yang menentukan dalam dinamika masyarakat
untuk menerapkan, mengembangkan, dan menguasai teknologi. Tanpa hal tersebut
pembangunan nasional tidak akan berjalan dengan laju yang cukup untuk dapat
menempatkan diri sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.
Langganan:
Komentar (Atom)