Dalam
perbincangan mengenai filsafat ilmu yang umumnya beredar, eksistensi
pengetahuan mistik atau pengalaman-pengalaman spiritual masih sangat jarang.
Pembahasan filsafat ilmu lazimnya masih bermain dalam wilayah empirikal dan
rasional. Itulah mengapa secara global hanya dikenal dua metode, yaitu
observasi (tajrib) dan metode logis (burhani) Kalaupun ada pembahasan mengenai
wilayah keagamaan yang disinggung hanya aspek empirikal dan rasionalnya semata.
Padahal dalam epistemologi Islam klasik telah dibicarakan tentang pengetahuan
mistik, metode-metode untuk meraihnya, basis ontologis dan aspek aksiologis
kemanfaatannya.
Klasifikasi
ilmu oleh ilmuwan besar Islam era klasik Al-Farabi, bukan hanya ilmu-ilmu
empiris, seperti fisika, botani, mineralogi dan astronomi, melainkan juga
ilmu-ilmu non-empiris, seperti teologi, kosmologi, dan metafisika. Sehingga
status ontologis objek-objek non-empiris diakui validitasnya dan aspek
aksiologisnya diapresiasi bagi kehidupan manusia. oleh karena itu, kajian
filsafat ilmu seyogianya melibatkan pula aspek pengetahuan mistik. Sebab,
sebagaimana telah disadari oleh para ahli dewasa ini, pengetahuan mistik tidak
sekadar memiliki teori pengetahuan atau metode-metode yang absah
(epistemologis), atau mempunyai pijakan objektif yang riil (ontologis), tetapi
juga membuahkan kemanfaatan praktis aksiologis) dalam kehidupan manusia baik
individual maupun sosial.
Referensi : Zaprulkhan. 2014. Filsafat Islam.
Jakarta: Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar