Dunia
sosial manusia memang simbolis, penuh dengan kebudayaan, dan perspektival atau
memunculkan banyak sudut pandang; dan sosiologi senantiasa diarahkan pada
penelitian mengenai hal-hal tersebut. Tapi ini saja tidak cukup, karena kita
juga hidup dalam dunia materiil yang secara kenyataan bersifat kasar 'bercakar
dan bergigi merah", seperti yang diungkapkan oleh sastrawan Tennyson. Coba
perhatikan kehidupan dan dunia sosial Anda sendiri. Anda secara fisik memiliki
ikatan biologis dengan pemenuhan kebutuhan tertentu (seperti makanan, air
tempat tinggal, keamanan, dan kesehatan). Anda hidup di atas daratan dalam
sebuah jagat raya yang dipengaruhi oleh kekuatan kekuatan fisik besar- evolusi,
lingkungan, dan ekonomi (termasuk "daratan" Anda, penduduk yang
padat, "harta benda" dan "teknologi" yang Anda miliki yang
berada di kisaran kekuatan hukum dan pemerintahan). Di sini, kemampuan Anda
juga menunggu untuk digali atau tidak (untuk tumbuh dengan subur, mati, atau
terkendali?). Inilah hal-hal yang pastinya tidak dapat Anda perkirakan. Mereka
akan tetap ada dan terlepas dari pemaknaan yang kita berikan. Mereka itulah
yang dapat kita sebut sebagai dunia sosial materiil. Ini merupakan "dunia
yang dapat kita tendang", dunia yang nyata, yang ada di luar harapan kita,
di luar alam pikiran dan kebudayaan kita. Kita menghadapinya setiap hari. Dua
pemikir besar (dari sekian banyak tokoh pemikir lainnya) yang telah berperan
penting dalam memahami dunia ini adalah Darwin dan Marx.
Pada
tingkatan yang paling luas ini, materialisme (dan sering kali dikaitkan juga
dengan temannya, realisme) merupakan sudut filosofis yang menjelaskan mengenai
sifat dasar realitas -dalam segala aspeknya- yang berkaitan dengan benda-benda.
Dunia pertamanya dan sangat bersifat materiil, fisik, dan nyata dunia mengenai
raga dan segala sumber daya. Para filsuf materiil terdahulu (seperti
Democritus, sekitar 460-370 sM) adalah pakar atom yang berpendapat bahwa jagat
raya dan segala benda di dalamnya hanya terbentuk dari atom-atom yang Murni
secara mekanis. Pembentukan dunia dan kehidupan dijelaskan melalui hubungan
atom-atom ini sebagai satu-satunya kenyataan. Di sini, dunia sosial adalah
dunia eksternal dengan keberadaan yang mutlak terlepas dari ide-ide dan
kesadaran. Sebagai puncaknya, pendapat ini menentang segala bentuk idealisme –atau setiap teori
yang meninggikan pemaknaan. Pada titik ini, sosiologi memasuki salah satu
perdebatan tertua dalam lingkup filosofi kontroversi antara para penganut
idealisme (yang memerhatikan dunia gagasan dan cita-cita) dan penganut
materialism (yang memerhatikan benda-benda dan materialisme). Sebalik nya, para
filsuf penganut idealisme terdahulu dari Plato hingga Kant berpendapat bahwa
realitas sosial itu berdasarkan pada pikiran dan gagasan. Seperti yang akan
kita bahas, hal ini juga membantu memunculkan salah satu persoalan inti dalam
sosiologi dan melanjutkan ketegangan: perdebatan realis-idealis Jangan terlalu
dipermasalahkan. Secara langsung dan konkret, dunia materiil membawa Anda pada
pemikiran evolusioner, ekonomi, dan environmental (disebut dengan tiga
"E").
Pemikiran
evolusioner mengajak kita untuk memerhatikan ketegangan dan batasan badaniah
kita; pemikiran ekonomi mengajak kita untuk memerhatikan sumber daya sumber
daya yang kita cari dengan cara bekerja dan digunakan dalam kehidupan kita
(barang tambang, minyak, tanah), dan teknologi produksi yang tercipta; dan
analisis environmental atau lingkungan membuat kita menyadari raya ini dan
batasan yang tegas yang ia ciptakan dalam tindakan-tindakan kita seperti halnya
persaingan dalam kepemilikan tanah dan sumber daya-sumber daya yang langka di
bumi kita saat ini. Pengaruh-pengaruh ini bekerja di luar kendali kita. Kita
(umumnya) tidak dapat mengendalikan kinerja otak dan hormon kita -sifat dasar
hewaniah kita. Kita tidak mengendalikan kekayaan dan situasi kerja pertama kali
kita -apakah teknologi yang kita miliki adalah bajak sawah atau komputer, dan
kapan barang sehari-hari dapat diubah menjadi komoditas yang dapat dijual
(disebut dengan komodifikasi). Dan sebagaimana kita ketahui pada saat sekarang
ini, lingkungan dan empat elemen utamanya yaitu udara, api, tanah, dan air yang
dapat mengamuk menjadi bencana bagi manusia dan degradasi lingkungan. Setiap
hari kita mendengar bencana tsunami, kebakaran, gempa bumi (tentu saja ada
sosiologi bencana).
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar