Selasa, 27 Desember 2016

Dunia Materiil

Dunia sosial manusia memang simbolis, penuh dengan kebudayaan, dan perspektival atau memunculkan banyak sudut pandang; dan sosiologi senantiasa diarahkan pada penelitian mengenai hal-hal tersebut. Tapi ini saja tidak cukup, karena kita juga hidup dalam dunia materiil yang secara kenyataan bersifat kasar 'bercakar dan bergigi merah", seperti yang diungkapkan oleh sastrawan Tennyson. Coba perhatikan kehidupan dan dunia sosial Anda sendiri. Anda secara fisik memiliki ikatan biologis dengan pemenuhan kebutuhan tertentu (seperti makanan, air tempat tinggal, keamanan, dan kesehatan). Anda hidup di atas daratan dalam sebuah jagat raya yang dipengaruhi oleh kekuatan kekuatan fisik besar- evolusi, lingkungan, dan ekonomi (termasuk "daratan" Anda, penduduk yang padat, "harta benda" dan "teknologi" yang Anda miliki yang berada di kisaran kekuatan hukum dan pemerintahan). Di sini, kemampuan Anda juga menunggu untuk digali atau tidak (untuk tumbuh dengan subur, mati, atau terkendali?). Inilah hal-hal yang pastinya tidak dapat Anda perkirakan. Mereka akan tetap ada dan terlepas dari pemaknaan yang kita berikan. Mereka itulah yang dapat kita sebut sebagai dunia sosial materiil. Ini merupakan "dunia yang dapat kita tendang", dunia yang nyata, yang ada di luar harapan kita, di luar alam pikiran dan kebudayaan kita. Kita menghadapinya setiap hari. Dua pemikir besar (dari sekian banyak tokoh pemikir lainnya) yang telah berperan penting dalam memahami dunia ini adalah Darwin dan Marx.

Pada tingkatan yang paling luas ini, materialisme (dan sering kali dikaitkan juga dengan temannya, realisme) merupakan sudut filosofis yang menjelaskan mengenai sifat dasar realitas -dalam segala aspeknya- yang berkaitan dengan benda-benda. Dunia pertamanya dan sangat bersifat materiil, fisik, dan nyata dunia mengenai raga dan segala sumber daya. Para filsuf materiil terdahulu (seperti Democritus, sekitar 460-370 sM) adalah pakar atom yang berpendapat bahwa jagat raya dan segala benda di dalamnya hanya terbentuk dari atom-atom yang Murni secara mekanis. Pembentukan dunia dan kehidupan dijelaskan melalui hubungan atom-atom ini sebagai satu-satunya kenyataan. Di sini, dunia sosial adalah dunia eksternal dengan keberadaan yang mutlak terlepas dari ide-ide dan kesadaran. Sebagai puncaknya, pendapat ini menentang segala bentuk idealisme –atau setiap teori yang meninggikan pemaknaan. Pada titik ini, sosiologi memasuki salah satu perdebatan tertua dalam lingkup filosofi kontroversi antara para penganut idealisme (yang memerhatikan dunia gagasan dan cita-cita) dan penganut materialism (yang memerhatikan benda-benda dan materialisme). Sebalik nya, para filsuf penganut idealisme terdahulu dari Plato hingga Kant berpendapat bahwa realitas sosial itu berdasarkan pada pikiran dan gagasan. Seperti yang akan kita bahas, hal ini juga membantu memunculkan salah satu persoalan inti dalam sosiologi dan melanjutkan ketegangan: perdebatan realis-idealis Jangan terlalu dipermasalahkan. Secara langsung dan konkret, dunia materiil membawa Anda pada pemikiran evolusioner, ekonomi, dan environmental (disebut dengan tiga "E").
Pemikiran evolusioner mengajak kita untuk memerhatikan ketegangan dan batasan badaniah kita; pemikiran ekonomi mengajak kita untuk memerhatikan sumber daya sumber daya yang kita cari dengan cara bekerja dan digunakan dalam kehidupan kita (barang tambang, minyak, tanah), dan teknologi produksi yang tercipta; dan analisis environmental atau lingkungan membuat kita menyadari raya ini dan batasan yang tegas yang ia ciptakan dalam tindakan-tindakan kita seperti halnya persaingan dalam kepemilikan tanah dan sumber daya-sumber daya yang langka di bumi kita saat ini. Pengaruh-pengaruh ini bekerja di luar kendali kita. Kita (umumnya) tidak dapat mengendalikan kinerja otak dan hormon kita -sifat dasar hewaniah kita. Kita tidak mengendalikan kekayaan dan situasi kerja pertama kali kita -apakah teknologi yang kita miliki adalah bajak sawah atau komputer, dan kapan barang sehari-hari dapat diubah menjadi komoditas yang dapat dijual (disebut dengan komodifikasi). Dan sebagaimana kita ketahui pada saat sekarang ini, lingkungan dan empat elemen utamanya yaitu udara, api, tanah, dan air yang dapat mengamuk menjadi bencana bagi manusia dan degradasi lingkungan. Setiap hari kita mendengar bencana tsunami, kebakaran, gempa bumi (tentu saja ada sosiologi bencana).


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers


Tidak ada komentar:

Posting Komentar