Selasa, 27 Desember 2016

Berpikir dan Lingkungan Sosial

"Apakah lingkungan membentuk pikiran seseorang atau pikiran seseorang menentukan lingkungannya? Alasan dan fungsi penting dari berpikir pada manusia ialah agar dapat beradaptasi dengan  lingkungannya. Permasalahan serta kesenjangan antara apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang terjadi pada lingkungan sosial membuat manusia berpikir, Dorongan untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik juga membuat manusia berpikir. Sebagai makhluk sosial, manusia juga berpikir pada saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya. Lingkungan membuat manusia berpikir.

Kemampuan berpikir manusia serta interaksi dengan lingkungan merupakan dua hal yang memiliki hubungan kausalitas resiprokal. Di satu sisi, manusia perlu berpikir agar dapat berinteraksi dengan dunia sosialnya. Di sisi lain, interaksi manusia dengan dunia sosialnya juga membuat kemampuan berpikir manusia semakin berkembang. Jadi, interaksi dengan dunia sosial merupakan salah satu faktor penyebab berkembangnya kemampuan berpikir manusia, serta terjadi sebagai akibat dari kemampuan berpikir manusia.
Kemampuan berpikir manusia terus mengalami perkembangan sepanjang kehidupannya. Secara teoretis, perkembangan manusia dapat dilihat dari tiga dimensi besar, yaitu perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial. Ketiga dimensi perkembangan manusia tersebut turut berkontribusi dalam mendukung kemampuan berpikir manusia. Secara fisiologis, struktur otak yang berkembang dan semakin sempurna ketika manusia beranjak dewasa akan memampukan manusia berpikir dengan lebih baik dan kompleks. Selanjutnya, ketika manusia semakin tua, saraf serta otak yang mengalami degenerasi akan mengurangi beberapa aspek kemampuan berpikirnya. Secara kognitif, kemampuan manusia akan berkembang seiring dengan bertambahnya usia, mulai dari kemampuan berpikir konkrit hingga kemampuan berpikir abstrak. Secara psikososial, pengalaman serta pembelajaran yang diperoleh dari lingkungan sosial memberikan kontribusi bagi perkembangan kemampuan berpikir manusia.
Dalam realitasnya, ketiga aspek perkembangan tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berhubungan satu dengan lainnya, mewujud kan perkembangan manusia secara utuh dan menyeluruh. Jadi, perkembangan fisik sama pentingnya dengan perkembangan kognitif dan psikososial. Seorang anak yang diberikan asupan gizi seimbang, tetap tidak dapat berkembang secara sempurna jika interaksi dengan dunia sosial (seperti: bermain dengan teman sebaya, mengeksplorasi hal-hal disekitarnya, dan sebagainya) tidak terjadi atau sangat terbatas. Sama halnya dengan seorang anak yang terus-menerus dilatih untuk berpikir logis me lalui berbagai model pembelajaran logika dan matematika, jika tidak diimbangi dengan asupan gizi yang sesuai dan waktu bermain dengan teman sebaya yang cukup, perkembangannya tetap tidak sempurna. Jadi, perkembangan manusia yang sempurna termasuk perkembangan kemampuan berpikir hanya diperoleh jika ketiga aspek perkembangan tersebut dilaksanakan secara seimbang.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial merupakan hal yang sangat penting, dapat dikatakan hal mutlak, demi munculnya dan tercapainya perkembangan manusia, khususnya dalam hal berpikir. Dalam kaitannya dengan lingkungan sosial, kemampuan berpikir manusia mengenai orang lain dan dunia sosialnya disebut dengan kognisi sosial. Kognisi sosial tetap dipengaruhi oleh perkembangan fisik individu, di samping perkembangan kognitif dan psikososialnya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Amodio dan Frith (2006), digambarkan bahwa struktur korteks frontal pada otak manusia berhubungan dengan kognisi sosial individu.



Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar