Selasa, 27 Desember 2016

Sosiologi Klasik Pada Abad ke-19

Abad ke-19 dan awal abad ke-20 menjumpai begitu banyak aktivitas intelektual seputar sifat dasar masyarakat –kebanyakan di antaranya saat ini telah terlupakan Uohn Scott, Social Theory (2006) merupakan sebuah buku pedoman yang menarik dengan karya-karya yang sudah hilang pada masa kini yang juga mencari kesinambungan antara saat ini dan selanjutnya). Dokumen-dokumen sejarah saat ini meninggalkan rasa di saat para laki-laki berjuang untuk menatap dunia demi memahami perubahan cepat sambil menghadapi kejutan yang dibawa oleh teori evolusioner. Mereka membandingkan masyarakat-masyarakat yang ada di dunia dan berusaha untuk mencari pemahaman mengenai dari mana asal muasal kita dan sedang berada di mana saat ini, mengingat teori evolusioner itu membawa pengaruh, tetapi juga mengejutkan. Teori ini menantang banyak pandangan ortodoks mengenai dunia -terutama dari sisi agama. Meskipun mereka semua berasal dari bangsa Barat, mereka memiliki pandangan sendiri-sendiri mengenai dunia ini secara luas.

Ada ratusan pemikir selama periode ini, tetapi catatan sejarah sosiologi yang ortodoks saat ini cenderung ditulis pada tahun 1950-an dan mengenal tiga tokoh penting sebagai simbol sosiologi klasik. Kita telah mengenal mereka: Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber. Mereka adalah Trimurti Sosiologi, dan biasa mengajar dengan cara yang religius dalam semua tingkatan sosiologi ketika mereka membuka beberapa pembahasan utama yang sampai saat ini masih berlanjut. Marx menganalisis pertumbuhan kapitalisme, arti ekonomi dan materi, pentingnya kelas, eksploitasi, dan kesenjangan -dan mungkin juga masyarakat sosialis. Weber menemukan pertumbuhan rasionalitas masyarakat, negara birokrasi, dan dunia yang dikecewakan. Durkheim menunjukkan arti ikatan sosial dengan mengamati perubahan-perubahan dalam agama dan divisi tenaga kerja.
Kita telah beberapa kali bertemu dengan karya besar Karl Marx -sebagaimana ia mengamati kehidupan miskin masyarakat di bawah eksploitasi kapitalisme industri dan menganalisi tingkatan perjuangan masyarakat. Karya-karya awalnya bersifat filosofis dan sering kali disebut humanis, sedangkan karya-karya berikutnya mengembangkan konsepsi sejarah dan analisis ilmiah mengenai cara produksi. Pada tahun 1850-an, ia melakukan penelitian bersejarah mengenai gerakan golongan pekerja, dan menganalisis hubungan antara superstruktur ideologis dan yang berlandaskan ekonomi. Menurutnya, peran para pelaku sejarah dan kelas-kelas sosial yang hidup di dalam kemelaratan yang diakibatkan oleh Revolusi Industri menunjukkan sejarah sebagai hal sentral bagi pemahaman mengenai manusia dan menunjuk peran kelas ekonomi dan sosial sebagai faktor-faktor utama terjadinya perubahan sosial. Berbeda sendiri di antara para pakar sosiologi awal lainnya (dan juga yang berikutnya), karya-karyanya sangat berperan dalam perkembangan dan pembentukan masyarakat komunis pada abad ke-20 (dalam satu hal mungkin lebih dari sepertiga belahan dunia terinspirasi dari karya-karyanya, meliputi Rusia, Cina, dan sebagian besar Afrika dan Amerika Latin). Ia menulis buku-buku yang kemudian mengarahkan kepada revolusi Marxis yang besar (dan kegagalannya) pada abad ke-20 (di Rusia pada tahun 1918, dan di Cina pada tahun 1949).
Emile Durkeim adalah seorang profesor pendidikan di Universitas Sorbonne dari tahun 1887 sampai 1902, dan menulis empat bahan pembelajaran penting yang abadi. The Division of Labour (893) menyusuri jejak perkembangan masyarakat dari yang bersifat "mekanis" hingga "organis". The Rules of Sociological Method (895) menganalisis "fakta sosial" yang sangat alami yang sangat individual -bunuh diri untuk dijadikan bahan demonstrasi melalui analisis angka bunuh diri bahwa hal tersebut sangat berpola dari sudut pandang sosial. The Elementary Form of Religious Life (1912) menunjukkan betapa "agama merupakan sesuatu yang sungguh-sungguh bersifat sosial" melalui sebuah studi kasus mengenai Suku Aborigin. Durkheim membawa kita ke dalam perdebatan penting mengenai pertumbuhan populasi manusia yang terjadi secara besar-besaran dan tatanan moral masyarakat yang mengalami pergeseran. Baginya, pertumbuhan kepadatan penduduk menggeser sifat alami ikatan manusia. Pada saat masyarakat bergeser dari kekompakan mekanis ke organis, dari persamaan tradisional dan komunitas yang memiliki tali ikatan yang kuat menjadi masyarakat industri yang memiliki dasar pada skala yang luas, perbedaan, dan pola pembagian tenaga kerja yang selalu berubah- mereka menjadi lebih rawan melanggar norma norma (anomi) dan melemahkan tali ikatan sosial. Ketika bentuk ikatan yang lama melemah, dibutuhkan cara baru untuk membangun solidaritas dan komunitas.
Max Weber lebih memerhatikan tindakan-tindakan manusia dan arti yang terkandung di dalamnya. Ia mengatakan bahwa "setiap ide memiliki konsekuensi". Rasionalitas yang baru membantu terbentuknya kapitalisme dan munculnya dunia birokrasi. Menurut Weber, transformasi yang terjadi lebih terkait dengan pergeseran ide dan keyakinan beragama: dunia kapitalis modern memiliki kemiripan dengan munculnya agama Kristen Protestan (atau yang ia sebut dengan "Etika Protestan"). Ia dapat dipandang sebagai teman Franz Katka dalam sosiologi: menurutnya, dunia modern menyebabkan munculnya birokrasi yang dingin dan impersonal dan pada akhirnya muncullah kekecewaan besar besaran pada dunia.


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers


Tidak ada komentar:

Posting Komentar