Abad
ke-19 dan awal abad ke-20 menjumpai begitu banyak aktivitas intelektual seputar
sifat dasar masyarakat –kebanyakan di antaranya saat ini telah terlupakan Uohn
Scott, Social Theory (2006) merupakan sebuah buku pedoman yang menarik dengan
karya-karya yang sudah hilang pada masa kini yang juga mencari kesinambungan
antara saat ini dan selanjutnya). Dokumen-dokumen sejarah saat ini meninggalkan
rasa di saat para laki-laki berjuang untuk menatap dunia demi memahami
perubahan cepat sambil menghadapi kejutan yang dibawa oleh teori evolusioner.
Mereka membandingkan masyarakat-masyarakat yang ada di dunia dan berusaha untuk
mencari pemahaman mengenai dari mana asal muasal kita dan sedang berada di mana
saat ini, mengingat teori evolusioner itu membawa pengaruh, tetapi juga
mengejutkan. Teori ini menantang banyak pandangan ortodoks mengenai dunia
-terutama dari sisi agama. Meskipun mereka semua berasal dari bangsa Barat,
mereka memiliki pandangan sendiri-sendiri mengenai dunia ini secara luas.
Ada
ratusan pemikir selama periode ini, tetapi catatan sejarah sosiologi yang
ortodoks saat ini cenderung ditulis pada tahun 1950-an dan mengenal tiga tokoh
penting sebagai simbol sosiologi klasik. Kita telah mengenal mereka: Karl Marx,
Émile Durkheim, dan Max Weber. Mereka adalah Trimurti Sosiologi, dan biasa
mengajar dengan cara yang religius dalam semua tingkatan sosiologi ketika
mereka membuka beberapa pembahasan utama yang sampai saat ini masih berlanjut.
Marx menganalisis pertumbuhan kapitalisme, arti ekonomi dan materi, pentingnya
kelas, eksploitasi, dan kesenjangan -dan mungkin juga masyarakat sosialis.
Weber menemukan pertumbuhan rasionalitas masyarakat, negara birokrasi, dan
dunia yang dikecewakan. Durkheim menunjukkan arti ikatan sosial dengan
mengamati perubahan-perubahan dalam agama dan divisi tenaga kerja.
Kita
telah beberapa kali bertemu dengan karya besar Karl Marx -sebagaimana ia
mengamati kehidupan miskin masyarakat di bawah eksploitasi kapitalisme industri
dan menganalisi tingkatan perjuangan masyarakat. Karya-karya awalnya bersifat
filosofis dan sering kali disebut humanis, sedangkan karya-karya berikutnya
mengembangkan konsepsi sejarah dan analisis ilmiah mengenai cara produksi. Pada
tahun 1850-an, ia melakukan penelitian bersejarah mengenai gerakan golongan
pekerja, dan menganalisis hubungan antara superstruktur ideologis dan yang
berlandaskan ekonomi. Menurutnya, peran para pelaku sejarah dan kelas-kelas
sosial yang hidup di dalam kemelaratan yang diakibatkan oleh Revolusi Industri
menunjukkan sejarah sebagai hal sentral bagi pemahaman mengenai manusia dan
menunjuk peran kelas ekonomi dan sosial sebagai faktor-faktor utama terjadinya
perubahan sosial. Berbeda sendiri di antara para pakar sosiologi awal lainnya
(dan juga yang berikutnya), karya-karyanya sangat berperan dalam perkembangan
dan pembentukan masyarakat komunis pada abad ke-20 (dalam satu hal mungkin
lebih dari sepertiga belahan dunia terinspirasi dari karya-karyanya, meliputi
Rusia, Cina, dan sebagian besar Afrika dan Amerika Latin). Ia menulis buku-buku
yang kemudian mengarahkan kepada revolusi Marxis yang besar (dan kegagalannya)
pada abad ke-20 (di Rusia pada tahun 1918, dan di Cina pada tahun 1949).
Emile
Durkeim adalah seorang profesor pendidikan di Universitas Sorbonne dari tahun
1887 sampai 1902, dan menulis empat bahan pembelajaran penting yang abadi. The
Division of Labour (893) menyusuri jejak perkembangan masyarakat dari yang
bersifat "mekanis" hingga "organis". The Rules of
Sociological Method (895) menganalisis "fakta sosial" yang sangat
alami yang sangat individual -bunuh diri untuk dijadikan bahan demonstrasi
melalui analisis angka bunuh diri bahwa hal tersebut sangat berpola dari sudut
pandang sosial. The Elementary Form of Religious Life (1912) menunjukkan betapa
"agama merupakan sesuatu yang sungguh-sungguh bersifat sosial"
melalui sebuah studi kasus mengenai Suku Aborigin. Durkheim membawa kita ke
dalam perdebatan penting mengenai pertumbuhan populasi manusia yang terjadi
secara besar-besaran dan tatanan moral masyarakat yang mengalami pergeseran.
Baginya, pertumbuhan kepadatan penduduk menggeser sifat alami ikatan manusia.
Pada saat masyarakat bergeser dari kekompakan mekanis ke organis, dari
persamaan tradisional dan komunitas yang memiliki tali ikatan yang kuat menjadi
masyarakat industri yang memiliki dasar pada skala yang luas, perbedaan, dan
pola pembagian tenaga kerja yang selalu berubah- mereka menjadi lebih rawan
melanggar norma norma (anomi) dan melemahkan tali ikatan sosial. Ketika bentuk
ikatan yang lama melemah, dibutuhkan cara baru untuk membangun solidaritas dan
komunitas.
Max
Weber lebih memerhatikan tindakan-tindakan manusia dan arti yang terkandung di
dalamnya. Ia mengatakan bahwa "setiap ide memiliki konsekuensi".
Rasionalitas yang baru membantu terbentuknya kapitalisme dan munculnya dunia
birokrasi. Menurut Weber, transformasi yang terjadi lebih terkait dengan
pergeseran ide dan keyakinan beragama: dunia kapitalis modern memiliki
kemiripan dengan munculnya agama Kristen Protestan (atau yang ia sebut dengan
"Etika Protestan"). Ia dapat dipandang sebagai teman Franz Katka
dalam sosiologi: menurutnya, dunia modern menyebabkan munculnya birokrasi yang
dingin dan impersonal dan pada akhirnya muncullah kekecewaan besar besaran pada
dunia.
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar