Dalam
beberapa aspek Rahman tidak sependapat dengan konsep-konsep ulama klasik dan abad
pertengahan kendati ia tetap menghormati dan mengagumi tradisi yang
sophisticated yang diwariskan oleh para Tetapi, sebagian ulama tetap
meninggalkan aspek-aspek signifikan, terutama pemikiran kritis dan pembaruan. pada
abad ke-20 dan memasuki abad ke-21 ini, tradisi intelektual sama sekali tanpa
kedalaman hikmah, pemikiran konstruktif dan telaah kritis. Yang tersisa
hanyalah terhentinya pertumbuhan dan tradisi hierarkis yang hanya akan
mengakibatkan stagnasi. Dengan alasan tersebut untuk menghasilkan sistem
pendidikan yang diharapkan, maka butuh pembaruan bersifat radikal,
kritis-konstruktif, dan integral seperti yang ditawarkan yang oleh Rahman.
Dengan
tegas, Rahman meminta para ulama agar tidak menolak perubahan karena menyamakan
kepentingan mereka dengan kekuasaan dan kontrol dengan tradisi intelektual
Islam. Cara seperti itu justru menjadi ketidaksopanan terhadap tradisi
intelektual Islam yang besar. Karena itulah, ia meminta semua masyarakat
Muslim, dari Indonesia sampai Turki untuk mengalihkan semua tenaga mereka dalam
merehabilitasi tradisi ulama dengan mengusulkan perubahan-perubahan silabus di
lembaga-lembaga pendidikan. Dengan demikian, ia merasa optimis jika hal itu
direalisasikan, akan menjadikan generasi Muslim yang aktif di dunia modern
Dalam epilog ini pun diakhiri dengan imbauan sang pemikir AlQur'an oriented ini: Any islamic reform now
must begin with ication. Although an islamic orientation has to be created at
the primary level' ducation, it is at the higher level that lslam and modern
intellectualism must be integrated to generate a modern, genuinely Islamic
Weltanschauung", "Pembaruan Islam dalam bidang apa pun dewasa ini
harus dimulai dengan pendidikan. Walaupun suatu orientasi yang Islamis mesti
diciptakan pada tingkat pendidikan primer, tapi pada tingkat tinggilah Islam
dan intelektualisme modern harus diintegrasikan untuk melahirkan suatu
Weltanschauung Islam yang asli dan modern.
Referensi :
Zaprulkhan. 2014. Filsafat Islam. Jakarta: Rajawali
Pers
Santoso, Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar