Selasa, 27 Desember 2016

Konstruksi Epistemologi Max Horkheimer

Masyarakat modern telah terkontaminasi oleh gerakan pencerahan abad ke-18 dengan konsep pengagungan rasio-nya. Berbasis pada rasio inilah, Max Horkheimer mulai menganalisis keadaan masyarakat pasca-industri dan mengkritiknya karena tidak sesuai dengan konsep rasionalitas Pencerahan itu sendiri. Akhirnya, dengan senjata Teori Kritis-nya ia membongkar kedok ideologis teori irrasionalitas masyarakat, termasuk juga kritik terhadap paham bebas nilai dari ilmu-ilmu. Tetapi filsafat pun tidak luput dari gempuran Max Horkheimer.

Teori tradisional bersangkutan dengan keseluruhan ucapan tentang bidang keahlian tertentu yang disusun sedemikian rupa, sehingga semua ucapan itu dapat diturunkan dari sejumlah ucapan dasar. Kelemahan teori ini adalah memisahkan pemikiran dan reaksi. Yang dipentingkan teori tradisional adalah menyusun suatu sistem prinsip-prinsip yang konsisten satu sama lain yang bertujuan untuk melukiskan dunia. Aktivitas dalam konteks teori tradisional dibatasi pada penguasaan teknologi dunia. Menurut teori kritis, pengenalan tidak pernah merupakan suatu usaha yang terlepas dari aksi. Kegiatan ilmiah pada pokoknya sama dengan memihak pada suatu bentuk masyarakat tertentu.
Teori kritis ingin memperjuangkan terwujudnya masyarakat yang mempunyai dasar rasional. Tujuannya ialah emansipasi manusia dari hubungan-hubungan kemasyarakatan yang memperbudak. Menurut Max Horkheimer, ilmu itu mengandung nilai-nilai Suatu ilmu sosial yang bersikap netral merupakan ilusi. Seoran ilmuwan selalu termasuk dalam obyek sosial yang dipelajarinya. ia tidak dapat berdiri otonom di depan obyek yang dipelajarinya. Karena masyarakat yang ditelitinya tidak atau belum merupakan perwujudan suatu pilihan bebas dan rasional oleh manusia, maka ilmuwan tidak dapat melepaskan diri dari ketidakbebasan itu. Yang menjadi subyek kesadaran kritis adalah para teoretisi atas para intelektual. Teoretisi yang dimaksudkan adalah mereka yang mewakili bangsa manusia yang tertindas. Tugasnya ialah memberi suara kepada tendensi tendensi dan kekuatan-kekuatan negatif yang tersembunyi dalam masyarakat dan yang menunjuk kepada suatu perkembangan baru.
Positivisme mementingkan fakta-fakta, padahal fakta-fakta itu merupakan hasil masyarakat tertentu. Dengan demikian, pendapat yang mengikuti prinsip-prinsip positivisme akan mendukung status quo. Bagi teori kritis, mustahil diadakan verifikasi atau falsifikasi, sebab teori ini tidak dapat diverifikasi dengan menunjuk pada tatanan masyarakat sekarang. Teorikritis tidak memperoleh hakeksistensinya dari fakta-fakta obyektif, tetapi dari kemungkinan-kemungkinan bagi suatu tatanan masyarakat yang baru.
Dengan artikelnya, Traditional and Critical Theory maka Max Horkheimer melahirkan dua kepentingan yang memunculkan Teori Kritis. Pertama, sebagai visi dan arah bagi pemikiran sekelompok intelektual yang mewarisi tradisi Marxisme dengan reformasi terhadapnya. sebagai kritik terhadap teori tradisional yang lekat dengan metode ilmu alam, pemisahan subyek dan obyek teori dan seolah-olah bersifat a historis dan tidak punya kepentingan.
Menurut Budi Hardiman (1990: 71-74), Teori Kritis yang dikembangkan oleh Max Horkheimer menemui jalan buntu. Meskipun demikian, sebagai suatu usaha mengkritik positivisme dan saintisme di dalam lapangan epistemologi, pemikiran Max Horkheimer tetap memiliki makna dan artinya sendiri, serta memberikan sumbangan yang berharga bagi kritik ilmu-ilmu yang akan dilakukan oleh Generasi Kedua Mazhab Frankfurt, Jurgen Habermas.



Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media


Tidak ada komentar:

Posting Komentar