Masyarakat
modern telah terkontaminasi oleh gerakan pencerahan abad ke-18 dengan konsep
pengagungan rasio-nya. Berbasis pada rasio inilah, Max Horkheimer mulai
menganalisis keadaan masyarakat pasca-industri dan mengkritiknya karena tidak sesuai
dengan konsep rasionalitas Pencerahan itu sendiri. Akhirnya, dengan senjata
Teori Kritis-nya ia membongkar kedok ideologis teori irrasionalitas masyarakat,
termasuk juga kritik terhadap paham bebas nilai dari ilmu-ilmu. Tetapi filsafat
pun tidak luput dari gempuran Max Horkheimer.
Teori
tradisional bersangkutan dengan keseluruhan ucapan tentang bidang keahlian
tertentu yang disusun sedemikian rupa, sehingga semua ucapan itu dapat
diturunkan dari sejumlah ucapan dasar. Kelemahan teori ini adalah memisahkan
pemikiran dan reaksi. Yang dipentingkan teori tradisional adalah menyusun suatu
sistem prinsip-prinsip yang konsisten satu sama lain yang bertujuan untuk
melukiskan dunia. Aktivitas dalam konteks teori tradisional dibatasi pada
penguasaan teknologi dunia. Menurut teori kritis, pengenalan tidak pernah
merupakan suatu usaha yang terlepas dari aksi. Kegiatan ilmiah pada pokoknya
sama dengan memihak pada suatu bentuk masyarakat tertentu.
Teori
kritis ingin memperjuangkan terwujudnya masyarakat yang mempunyai dasar rasional.
Tujuannya ialah emansipasi manusia dari hubungan-hubungan kemasyarakatan yang
memperbudak. Menurut Max Horkheimer, ilmu itu mengandung nilai-nilai Suatu ilmu
sosial yang bersikap netral merupakan ilusi. Seoran ilmuwan selalu termasuk
dalam obyek sosial yang dipelajarinya. ia tidak dapat berdiri otonom di depan
obyek yang dipelajarinya. Karena masyarakat yang ditelitinya tidak atau belum
merupakan perwujudan suatu pilihan bebas dan rasional oleh manusia, maka ilmuwan
tidak dapat melepaskan diri dari ketidakbebasan itu. Yang menjadi subyek
kesadaran kritis adalah para teoretisi atas para intelektual. Teoretisi yang
dimaksudkan adalah mereka yang mewakili bangsa manusia yang tertindas. Tugasnya
ialah memberi suara kepada tendensi tendensi dan kekuatan-kekuatan negatif yang
tersembunyi dalam masyarakat dan yang menunjuk kepada suatu perkembangan baru.
Positivisme
mementingkan fakta-fakta, padahal fakta-fakta itu merupakan hasil masyarakat
tertentu. Dengan demikian, pendapat yang mengikuti prinsip-prinsip positivisme
akan mendukung status quo. Bagi teori kritis, mustahil diadakan verifikasi atau
falsifikasi, sebab teori ini tidak dapat diverifikasi dengan menunjuk pada
tatanan masyarakat sekarang. Teorikritis tidak memperoleh hakeksistensinya dari
fakta-fakta obyektif, tetapi dari kemungkinan-kemungkinan bagi suatu tatanan
masyarakat yang baru.
Dengan
artikelnya, Traditional and Critical Theory maka Max Horkheimer melahirkan dua
kepentingan yang memunculkan Teori Kritis. Pertama, sebagai visi dan arah bagi
pemikiran sekelompok intelektual yang mewarisi tradisi Marxisme dengan reformasi
terhadapnya. sebagai kritik terhadap teori tradisional yang lekat dengan metode
ilmu alam, pemisahan subyek dan obyek teori dan seolah-olah bersifat a historis
dan tidak punya kepentingan.
Menurut
Budi Hardiman (1990: 71-74), Teori Kritis yang dikembangkan oleh Max Horkheimer
menemui jalan buntu. Meskipun demikian, sebagai suatu usaha mengkritik
positivisme dan saintisme di dalam lapangan epistemologi, pemikiran Max
Horkheimer tetap memiliki makna dan artinya sendiri, serta memberikan sumbangan
yang berharga bagi kritik ilmu-ilmu yang akan dilakukan oleh Generasi Kedua
Mazhab Frankfurt, Jurgen Habermas.
Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012.
Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar