Ciri-ciri budaya lokal
dapat dikenali dalam bentuk kelembagaan sosial yang dimiliki oleh suatu suku
bangsa. Kelembagaan sosial merupakan ikatan sosial bersama di antara anggota
masyarakat yang mengoordinasikan tindakan sosial bersama antara anggota
masyarakat. Lembaga sosial memiliki orientasi perilaku sosial ke dalam yang
sangat kuat. Hal itu ditunjukkan dengan orientasi untuk memenuhi kebutuhan
anggota lembaga sosial tersebut. Dalam lembaga sosial, hubungan sosial di
antara anggotanya sangat bersifat pribadi dan didasari oleh loyalitas yang
tinggi terhadap pemimpin dan gengsi sosial yang dimiliki.
Bentuk kelembagaan sosial tersebut dapat dijumpai dalam sistem gotong royong di Jawa dan di dalam sistem banjar atau ikatan adat di Bali. Gotong royong merupakan ikatan hubungan tolong-menolong di antara masyarakat desa. Di daerah pedesaan pola hubungan gotong royong dapat terwujud dalam banyak aspek kehidupan. Kerja bakti, bersih desa, dan panen bersama merupakan beberapa contoh dari aktivitas gotong royong yang sampai sekarang masih dapat ditemukan di daerah pedesaan. Di dalam masyarakat Jawa, kebiasaan gotong royong terbagi dalam berbagai macam bentuk. Bentuk itu di antaranya berkaitan dengan upacara siklus hidup manusia, seperti perkawinan, kematian, dan panen yang dikemas dalam bentuk selamatan.
Bentuk kelembagaan sosial tersebut dapat dijumpai dalam sistem gotong royong di Jawa dan di dalam sistem banjar atau ikatan adat di Bali. Gotong royong merupakan ikatan hubungan tolong-menolong di antara masyarakat desa. Di daerah pedesaan pola hubungan gotong royong dapat terwujud dalam banyak aspek kehidupan. Kerja bakti, bersih desa, dan panen bersama merupakan beberapa contoh dari aktivitas gotong royong yang sampai sekarang masih dapat ditemukan di daerah pedesaan. Di dalam masyarakat Jawa, kebiasaan gotong royong terbagi dalam berbagai macam bentuk. Bentuk itu di antaranya berkaitan dengan upacara siklus hidup manusia, seperti perkawinan, kematian, dan panen yang dikemas dalam bentuk selamatan.
Clifford Geertz,
seorang antropolog dari Amerika Serikat yang banyak menulis mengenai kebudayaan
Bali dan Jawa menguraikan gambaran acara selamatan dalam masyarakat Jawa dalam
karya monumentalnya The Religion of Java (Abangan, Santri, dan Priyayi ).
Karya ini memberikan gambaran bahwa salah satu aspek dari kebudayaan masyarakat
Jawa yang tak lekang dimakan usia adalah budaya selamatan. Sampai sekarang,
kita masih bisa menemukan acara selamatan meskipun dalam kemasan yang berbeda
di daerah perkotaan dan pedesaan. Karyanya mengenai kebudayaan Bali yang begitu
detail dan kaya akan data lapangan serta interpretasi yang mengagumkan ditulis
dalam buku NEGARA The Theatre State in Nineteenth Century Bali (Negara
Teater: Kerajaan-Kerajaan di Bali Abad Sembilan Belas).
Di dalam masyarakat
Jawa, pelaksanaan selamatan ada yang dilakukan secara individual ataupun secara
kolektif. Tujuannya adalah untuk memperkuat ikatan sosial masyarakat yang
dilakukan oleh suatu kelompok sosial tertentu. Misalnya, keraton Yogyakarta dan
Surakarta adalah kelompok masyarakat yang paling sering melakukan ritual
selamatan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, seperti gerebeg, sedekah
bumi, upacara apeman, dan gunungan yang masih dilaksanakan sampai sekarang.
Di daerah Bali,
beberapa bentuk kebudayaan lokal masih dilaksanakan sampai saat ini. Misalnya,
mebanten atau membuat sesaji setiap hari sebanyak tiga kali oleh masyarakat
Bali sebagai perwujudan rasa syukur, hormat, dan penyembahan kepada Tuhan.
Konsep kepercayaan masyarakat Bali yang menjadi budaya adalah adat untuk
melilitkan kain berwarna hitam dan putih pada batang pohon yang besar, tiang,
dan bangunan di setiap daerah di Pulau Bali. Selain itu, contoh budaya lokal
adalah upacara Ngaben yang saat ini menjadi tontonan para wisatawan
yang datang ke Bali. Ngaben adalah upacara tradisi membakar jenazah orang
yang sudah meninggal sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang sudah
meninggal.
Salah satu aktivitas
masyarakat Bali yang diikat oleh prinsip kebudayaan lokal adalah sistem
pengairan di Bali yang disebut Subak. Subak adalah salah satu bentuk gotong
royong atau sistem pengelolaan air untuk mengairi lahan persawahan berbentuk
organisasi yang anggotanya diikat oleh pura subak. Di dalam sistem
subak terdapat pembagian kerja berdasarkan hak dan kewajiban
sebagai anggota subak. Oleh karena itu, apabila ada warga yang tidak menjadi
anggota maka ia tidak berhak atas jatah air untuk mengairi sawahnya dan
mengurus pura serta bebas dari semua kewajiban di sawah dan pura.
Referensi
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka
Cipta.M.
Setiadi, Elly. 2007. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Bandung: Kencana PrenadaMedia
Group
Nurseno. 2004. Kompetensi Dasar Sosiologi. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Suharko, dkk. 1996. Pengantar Sosiologi. Klaten: Intan Pariwara
Rusman, Tumanggor, dkk. 2010 Agustus. Ilmu sosial dan budaya dasar.
Jakarta: Kencana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar