Selasa, 27 Desember 2016

Pendidikan Setelah Kolonialisme

Pendidikan yang diselenggarakan setelah penjajahan usai, Berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945 memberikan peluang bagi dunia untuk menentukan nasib sendiri. Melalui pendirian nasib sendiri itu akhirnya tidak selalu mengacu pada nasib sebagian besar bangsa, tetapi juga hanya menyentuh satu atau dua orang. Karena itu, filsafat pendidikan pascakolonial menghasilkan dilema tentang orientasi orientasi pendidikan yang mengarah pada masa sepan.

Di sisi lain, kasus-kasus-kasus yang bersifat subjektif itu menimbulkan bias pemaknaan. Konsep pendidikan Indonesia modern tidak pernah bisa di lepaskan dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Sebagai Menteri Pendidikan pada masa revolusi fisik, Ki Hadjar Dewantara memberikan sumbangan yang tak ternilai dalam peletak dasar pendidikan di Indonesia. Sebagai contoh, istilah "pendidikan" dan "pengajaran memiliki perbedaan arti. Demikian pula, konsepsi tentang pendidikan kebangsaan, pendidikan budi pekerti, hingga nilai-nilai kemanusiaan idak bisa dilepaskan dari Ki Hadjar Dewantara. Karena itu, membahas tentang filsafat pendidikan di Indonesi adalah membahas filsafat Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan adalah memfilsafatkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.
Dalam sebuah artikel berjudul "Pengadjaran dan Pendidikan dengan Dasar kebangsaan" Ki Hadjar Dewantara membuat ilustrasi tentang sebagai cikal bakal filsafat pendidikan di Indonesia. Ilustrasi itu bermula dari pertanyaan dari angggota dewan (Volksraad) ini: "Tidak lebih baikkah dan tidak mungkinkah pengobatan tiara di negeri ini disesuaikan dengan kodrat alam dan dalam negeri itu batas-batas tertentu djuga dengan kebudajaannja?” Pertanyaan tersebut kemudian dihubungkan dengan persoalan lainnya. Seperti pertanyaan, apakah tidak boleh baik bila rakyat makan hasil tanam negeri sendiri, mengenakan pakaian hasil pemintalan sendiri menikmati seni sendiri.
Pertanyaan itu lahir ketika berada dalam wilayah kolonial pada akhir tahun 1930. Pertanyaan itu dijawab oleh Dewantara dengan menyatakan “Kita dapat melandjutkannya hingga titik penghabisan ini dapat dimengerti. Namun begitu kita tidak berani. Tidak berani karena kita akan mendjumpai konsekwensi-konsekwensi jang menakutkan Saran-saran sematjam itu dengan jawaban jang timbul oleh karena anggapan jang wajdjar beserta rasa takut jang timbul pada diri kita sendiri, itulah sebab musababnja banyak hal matjat dan ketinggalan djaman, baik dalam bidang maupun kebudajaan" (Ki Hadjar Dewantara, 1962:88). Pertanyaan tersebut menyadarkan kita tentang arti penting sebuah kemampuan berdiri di atas kemampuan kita sendiri. Per tanyaan tersebut sekaligus menjadi tujuan pendidikan nasional bagi Dewantara sendiri pada akhirnya. Kemerdekaan dari berbagai macam belenggu merupakan tujuan hakiki dari pendidikan Dewantara membayangkan sebuah pribadi yang unggul, mandiri cerdas, berbudi baik, serta memberikan sumbangan yang baik bagi arah kemanusiaan. Itulah yang kemudian dijadikan sebagai tujuan pendidikan.
Dia membayangkan djika pendidikan dan pengadjaran bagi anak-anak kita telah bersandar pada kebudajaan kebangsaan kita sendiri, pertjajalah bahwa akan segera lenjaplah segala akar. akar hidup kebaratan, jang pada djaman jang lampau sangat merusak keselamatan dan kesedjahteraan rakjat kita itu (Ki Hadjar Dewantara, 1962:49). Sebab, kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh bangsa kita akan menyelamatkan kita dari kesempatan hidup. Karena itu, diperlukan upaya "memperluas, memperdalam dan mempertinggi pengajaran rakyat" (Ki Hadjar Dewantara, 1962:160). Itulah judul pidato radio yang dilakukan oleh Dewantara pada tanggal 6 April 1945 di Jakarta.


Referensi : Rohman, Saifur dan Wibowo, Agus. 2016. Filsafat Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar