Selasa, 27 Desember 2016

Pendidikan Saat Masa Kolonial

Pendidikan kolonial adalah sebuah penyelenggaraan pendidikan yang menggunakan asas-asas kolonial, baik metafisika epistemologi, dan yang digunakan. Rentang waktu secara objektif adalah sejak abad ke-18 hingga abad ke-20. Kendati demikian, pendidikan kolonial baru terjadi pada pertengahan abad ke-19. Selama ini, Pemerintah Kolonial menganggap tanah jajahan yang perlu diperadabkan dengan huruf Latin dan epistemologi positif. Marilah kita lihat bagaimana filsafat pendidikan kolonial bermaksud mengikis habis konsep-konsep pendidikan prakolonial. Filosofis itu diambil dari pemikiran Tan Malaka yang memiliki hubungan erat dengan epistemologi populer pada masa itu, yakni Marxisme. Tidak ada konsep Marxisme yang begitu jelas bisa diterapkan dalam konteks Indonesa kecuali Tan Malaka.

Roeslan Abdulgani dalam buku Sosialisme Indonesia menempatkan Tan Malaka sebagai pelopor gerakan komunis di indonesia. Gagasan-gagasannya sangat dipengaruhi oleh tulisan Tan Malaka berjudul "Naar de Republiek Indonesia" yang diterbitkan pertama di Cantn pada April 1925 dan diterbitkan di Tokyo pada 1925. Demikian pula tulisan Tan Malaka berjudul "Semangat Muda" yang ditulis dan dicetak di Manila, Filipina, 1926. Pada tahun-tahun itu, Abdulgani juga mencatat gagasan Tan Malaka dalam "Massa Aksi di Indonesia yang dicetak di Singapura pada 1926. Ada baiknya kita mendengar gagasan tentang tasn Malaka yang dikatakan sebagai "buronan-politik" berikut ini: Tan Malaka sendiri dalam tahun-tahun 1918-1921 itu mendapat Marxistise scholingnja tidak di Indonesia, melainkan di negeri Belanda sewaktu ia beladjar untuk mendapat Hoofdakte-Guru, dan sewaktu mengunjungi Kongres Komintern di Moskow tahun 1922. Karena sesudah tahun-tahun itu Tan Malaka hidup sebagai buronan-politik diluar negeri, maka itulah sebabnja bahwa buku-bukunya ditulis dan diterbitkan diluar negeri (Roeslan Abdulgani).
Tan Malaka adalah pahlawan kemerdekaan Indonesia karena dia memberikan bukti kepada bangsa tentang perjuangan yang dilakukan selama awal abad ke-20 untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Dialah yang mengatakan bahwa penamaan "Indonesia" adalah salah. Kata Tan Malaka: "Kesalahan nama Indonesia itu saya pikir berasal dari sudut pandang ahli Barat." Seakan-akan India merupakan asal usul bangsa Indonesia. Menurutnya "Jadi sejarah, cerita dongeng, dan omong kosong Hindu yang menjajah ke sini, oleh rakyat Indonesia lambat laun diterima sebagai sejarahnya sendiri." Bahkan dia sendiri mengatakan "Dulu saya sendiri memakai nama Indonesia" (Tan Malaka, 1999:309). Dan dia menggunakan kata tersebut karena kebiasaan semata-mata.


Referensi : Rohman, Saifur dan Wibowo, Agus. 2016. Filsafat Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar