Dalam
masa setelah Perang Dunia II, muncul sebuah zaman baru "sosiologi
profesional" yang bertujuan untuk membawa kematangan dan untuk jangka
waktu yang pendek muncul juga semacam consensus akhir sosiologi" (yang
menyatakan mengenai batas akhir ide-ide politik). Hal ini khususnya terkait dengan
karya teoretikus fungsionalis seperti Kingsley Davis Robert King Merton, dan
Talcott Parsons. Sungguh, pada tengahan abad ke-20 tidak ada sosiolog yang
lebih dikenal daripada Talcott Parsons (902-1979). Seperti halnya semua sosiolog,
gagasan-gagasannya mengalami perubahan seiring tetapi pada tahun 1951 ia
menerbitkan The Social system Karyanya ini berisi mengenai penelitian untuk
mengembangkan penjelasan luar biasa mengenai peran tatanan sosial, dan disana
ia menguraikan prasyarat berfungsinya masyarakat melalui sederet kotak dan
tipologi terperinci. Menurut Parsons, semua kelompok masyarakat harus
menjalankan beberapa fungsi utama: mereka harus beradaptasi (to Adapt), meraih
tujuan mereka (Goals), menyatu (Integrated), dan mempertahankan diri (Latency) -sebuah
rumusan yang sering disingkat menjadi AGIL. Pelukisan sistematis yang sangat
abstrak atas kebutuhan sosial tertentu ini yang harus dipenuhi oleh setiap
kelompok masyarakat untuk dapat menjaga kehidupan sosial agar tetap stabil,
menghasilkan sebuah tipologi dan daftar yang mendekati seratus kotak –sebuah peta
sistem sosial dan fungsi-fungsi terkait, dari sistem biologis sampai sistem
dunia. Karyanya dapat diterapkan pada banyak lingkup kehidupan sosial-bagaimana
sekolah berjalan, rumah sakit beroperasi, dan penjara berfungsi sebagai sistem?
Mereka semua dapat dilihat sebagai sistem yang berusaha mencapai tujuan
tertentu, menyosialisasikan anggotanya pada kebudayaan mereka, serta
beradaptasi sepanjang jalan.
Sistem
besar sosiologi sebuah tatanan yang hampir seperti khayalan- merupakan topic utamanya.
Akan tetapi, tidak untuk waktu yang lama. Sementara Parsons mengembangkan model
masyarakat yang abstrak ini para pakar lain cenderung kritis. Karena sosiologi
menjadi semakin terorganisasi secara formal di dan profesi, sejak akhir 1950-an
sosiologi jelas-jelas menjadi terpecah dan mendapat sejumlah kritik internal
mengenai arah tujuannya. Terbitnya buku The Sociological Imagination pada tahun
1959 karya penganut paham Marxisme dari Amerika Utara, C wright Mills
(1916-1962), diketahui sebagai sejenis publikasi yang penting (walaupun Mills
sendiri hanya menulis sedikit buku dan meninggal dunia pada usia muda, ia
memperoleh reputasi yang suka menentang zaman). Buku tersebut dibuka dengan sebuah
serangan yang lucu terhadap Parsons dan bahasanya, dan terkenal dengan
kritiknya mengenai keadaan sosiologi pada masa kini, yang menurut pandangannya
didominasi oleh tiga tren utama yang menyesatkan: abstraksi besar, kenyataan
yang dianggap remeh, dan terlalu banyaknya metodologi. Menurut Mills, sosiologi
telah kehilangan sisi kritisnya. Seperti demikian, seorang imigran dari Rusia
ke Amerika Serikat, Pitirim Sorokin -kabur dari penjara pada rezim Czaris
kekaisaran Rusiamenyebutkan bahwa karya-karya yang berbau sosiologi
telahmenjadi "rimba perbedaan dan menghasilkan teori yang
bertentangan", dimanjakan oleh kecenderungan ke arah "fads and foibles"
atau "mode dan kekurangan" Gudul salah satu bukunya) Sepertinya Sorokin
benar-karena disiplin ilmu, terus berlanjut semenjak saat itu. Meskipun para
sosiolog profesional sering berusaha menciptakan kemiripan di bawah kohesi
teoretis dan untuk memahami masyarakat, dalam kenyataannya, sosiologi terus
tumbuh menjadi sebuah disiplin ilmu yang retak, terpecah-pecah, dan multi
paradigmatik yang sering melakukan kesalahan atas tren dan model.
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar