Selasa, 27 Desember 2016

Sosiologi Setelah Perang Dunia 2

Dalam masa setelah Perang Dunia II, muncul sebuah zaman baru "sosiologi profesional" yang bertujuan untuk membawa kematangan dan untuk jangka waktu yang pendek muncul juga semacam consensus akhir sosiologi" (yang menyatakan mengenai batas akhir ide-ide politik). Hal ini khususnya terkait dengan karya teoretikus fungsionalis seperti Kingsley Davis Robert King Merton, dan Talcott Parsons. Sungguh, pada tengahan abad ke-20 tidak ada sosiolog yang lebih dikenal daripada Talcott Parsons (902-1979). Seperti halnya semua sosiolog, gagasan-gagasannya mengalami perubahan seiring tetapi pada tahun 1951 ia menerbitkan The Social system Karyanya ini berisi mengenai penelitian untuk mengembangkan penjelasan luar biasa mengenai peran tatanan sosial, dan disana ia menguraikan prasyarat berfungsinya masyarakat melalui sederet kotak dan tipologi terperinci. Menurut Parsons, semua kelompok masyarakat harus menjalankan beberapa fungsi utama: mereka harus beradaptasi (to Adapt), meraih tujuan mereka (Goals), menyatu (Integrated), dan mempertahankan diri (Latency) -sebuah rumusan yang sering disingkat menjadi AGIL. Pelukisan sistematis yang sangat abstrak atas kebutuhan sosial tertentu ini yang harus dipenuhi oleh setiap kelompok masyarakat untuk dapat menjaga kehidupan sosial agar tetap stabil, menghasilkan sebuah tipologi dan daftar yang mendekati seratus kotak –sebuah peta sistem sosial dan fungsi-fungsi terkait, dari sistem biologis sampai sistem dunia. Karyanya dapat diterapkan pada banyak lingkup kehidupan sosial-bagaimana sekolah berjalan, rumah sakit beroperasi, dan penjara berfungsi sebagai sistem? Mereka semua dapat dilihat sebagai sistem yang berusaha mencapai tujuan tertentu, menyosialisasikan anggotanya pada kebudayaan mereka, serta beradaptasi sepanjang jalan.

Sistem besar sosiologi sebuah tatanan yang hampir seperti khayalan- merupakan topic utamanya. Akan tetapi, tidak untuk waktu yang lama. Sementara Parsons mengembangkan model masyarakat yang abstrak ini para pakar lain cenderung kritis. Karena sosiologi menjadi semakin terorganisasi secara formal di dan profesi, sejak akhir 1950-an sosiologi jelas-jelas menjadi terpecah dan mendapat sejumlah kritik internal mengenai arah tujuannya. Terbitnya buku The Sociological Imagination pada tahun 1959 karya penganut paham Marxisme dari Amerika Utara, C wright Mills (1916-1962), diketahui sebagai sejenis publikasi yang penting (walaupun Mills sendiri hanya menulis sedikit buku dan meninggal dunia pada usia muda, ia memperoleh reputasi yang suka menentang zaman). Buku tersebut dibuka dengan sebuah serangan yang lucu terhadap Parsons dan bahasanya, dan terkenal dengan kritiknya mengenai keadaan sosiologi pada masa kini, yang menurut pandangannya didominasi oleh tiga tren utama yang menyesatkan: abstraksi besar, kenyataan yang dianggap remeh, dan terlalu banyaknya metodologi. Menurut Mills, sosiologi telah kehilangan sisi kritisnya. Seperti demikian, seorang imigran dari Rusia ke Amerika Serikat, Pitirim Sorokin -kabur dari penjara pada rezim Czaris kekaisaran Rusiamenyebutkan bahwa karya-karya yang berbau sosiologi telahmenjadi "rimba perbedaan dan menghasilkan teori yang bertentangan", dimanjakan oleh kecenderungan ke arah "fads and foibles" atau "mode dan kekurangan" Gudul salah satu bukunya) Sepertinya Sorokin benar-karena disiplin ilmu, terus berlanjut semenjak saat itu. Meskipun para sosiolog profesional sering berusaha menciptakan kemiripan di bawah kohesi teoretis dan untuk memahami masyarakat, dalam kenyataannya, sosiologi terus tumbuh menjadi sebuah disiplin ilmu yang retak, terpecah-pecah, dan multi paradigmatik yang sering melakukan kesalahan atas tren dan model.


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers


Tidak ada komentar:

Posting Komentar