Selasa, 27 Desember 2016

Idealisme Pendidikan Pasca-renaisance

Pendidikan pasca-renaisance ditandai dengan situasi yang menuntut kebangkitan akal sehat dalam menangkap keimanan dan pengetahuan. Karena itu, kehadiran lslam dalam pandangan Hegel dianggap sebagai Revolusi Timur. Secara filosofis, konsep teologi (tauhid) dianggapnya memiliki orisinalitas dibandingkan dengan ideologi para pendahulunya, yakni Yahudi dan Kristen. Tuhan Yahudi hanya untuk orang Yahudi, sedangkan Tuhan Islam untuk seluruh umat manusia. Karena itu, kebebasan manusia diserahkan kepada Tuhan yang satu dan manusia mengabdi kepada-Nya. Inilah yang kemudian disebut Hegel sebagai fanatisme.

Karena itu, menurut Hegel (2001:492), abstraksi mewarnai pemikiran orang Islam. Tujuan mereka adalah menetapkan pemujaan abstrak dan mereka berjuang untuk mencapainya dengan semangat yang menyala-nyala. Semangat ini adalah fanatisme, yaitu semangat untuk sesuatu yang abstrak. Hakikat fanatisme hanya berkaitan dengan hubungan destruktif yang gersang dengan yang konkret; namun pada saat yang sama, orang Islam mampu untuk mengadakan peninggian yang terbesar-satu peninggian yang bebas dari kepentingan yang picik, dan disatukan dengan segala kebaikan yang berhubungan dengan keluhuran budi dan keberanian.
Tulisan Hegel tersebut menunjukkan kiprah Islam dalam masa setelah renaisance. Fanatisme diolah menjadi sebuah strategi untuk mengembangkan kekuasaan. Kendati begitu, pengembangan proyek kekuasaan itu didasarkan pada "keluhuran budi dan keberanian" sehingga menghasilkan sebuah pengaruh yang besar untuk masa yang akan datang. Dengan kata lain, fanatisme merupakan sebuah tesis yang diwujudkan di dalam tindakan berkelompok sebagai antithesis dan lahirnya negara adalah sebuah sintesis. Dengan pola berpikir itu, pesantren berdiri sebagai antitesis dari sebuah tesis yang berupa fanatisme.
Adapun sintesisnya adalah pembentukan kebangsaan Indonesia. Berdasarkan konsepnya di dalam Filsafat Sejarah (2001), Hegel berpandangan bahwa negara adalah sintesis dari pergulatan antitesis dan tesis sebelumnya. Berdasarkan perspektif tersebut, sebetulnya, fanatisme individu akan mengalami antitesis dalam identitas pesantren sebagai kelompok sosial. Pada akhirnya, interaksi antara fanatisme individu dan gerakan pesantren menghasilkan sebuah respons politik dan sosial dalam konteks kenegaraan. Hal itu menjadi batu dasar dalam pengembangan Islam selanjutnya.


Referensi :
Santoso, Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Nata, Abuddin.2012. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. Jakarta: Rajawali Pers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar