Pendidikan
pasca-renaisance ditandai dengan situasi yang menuntut kebangkitan akal sehat
dalam menangkap keimanan dan pengetahuan. Karena itu, kehadiran lslam dalam
pandangan Hegel dianggap sebagai Revolusi Timur. Secara filosofis, konsep
teologi (tauhid) dianggapnya memiliki orisinalitas dibandingkan dengan ideologi
para pendahulunya, yakni Yahudi dan Kristen. Tuhan Yahudi hanya untuk orang
Yahudi, sedangkan Tuhan Islam untuk seluruh umat manusia. Karena itu, kebebasan
manusia diserahkan kepada Tuhan yang satu dan manusia mengabdi kepada-Nya.
Inilah yang kemudian disebut Hegel sebagai fanatisme.
Karena
itu, menurut Hegel (2001:492), abstraksi mewarnai pemikiran orang Islam. Tujuan
mereka adalah menetapkan pemujaan abstrak dan mereka berjuang untuk mencapainya
dengan semangat yang menyala-nyala. Semangat ini adalah fanatisme, yaitu
semangat untuk sesuatu yang abstrak. Hakikat fanatisme hanya berkaitan dengan
hubungan destruktif yang gersang dengan yang konkret; namun pada saat yang
sama, orang Islam mampu untuk mengadakan peninggian yang terbesar-satu
peninggian yang bebas dari kepentingan yang picik, dan disatukan dengan segala
kebaikan yang berhubungan dengan keluhuran budi dan keberanian.
Tulisan
Hegel tersebut menunjukkan kiprah Islam dalam masa setelah renaisance.
Fanatisme diolah menjadi sebuah strategi untuk mengembangkan kekuasaan. Kendati
begitu, pengembangan proyek kekuasaan itu didasarkan pada "keluhuran budi
dan keberanian" sehingga menghasilkan sebuah pengaruh yang besar untuk
masa yang akan datang. Dengan kata lain, fanatisme merupakan sebuah tesis yang
diwujudkan di dalam tindakan berkelompok sebagai antithesis dan lahirnya negara
adalah sebuah sintesis. Dengan pola berpikir itu, pesantren berdiri sebagai
antitesis dari sebuah tesis yang berupa fanatisme.
Adapun
sintesisnya adalah pembentukan kebangsaan Indonesia. Berdasarkan konsepnya di
dalam Filsafat Sejarah (2001), Hegel berpandangan bahwa negara adalah sintesis
dari pergulatan antitesis dan tesis sebelumnya. Berdasarkan perspektif
tersebut, sebetulnya, fanatisme individu akan mengalami antitesis dalam
identitas pesantren sebagai kelompok sosial. Pada akhirnya, interaksi antara
fanatisme individu dan gerakan pesantren menghasilkan sebuah respons politik
dan sosial dalam konteks kenegaraan. Hal itu menjadi batu dasar dalam
pengembangan Islam selanjutnya.
Referensi
:
Santoso,
Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Nata,
Abuddin.2012. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. Jakarta: Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar