Sejumlah
sistem pendidikan di Indonesia, baik di pendidikan tinggi, menengah dan dasar
berusaha menempuh sebuah jalan ketiga yang mengatasi segala bentuk
fundamentalisme yang terdapat dalam era posmodern. Pada satu sisi, mereka
mendisiplinkan peserta didik dalam perilaku-perilaku religius tertentu adalah
upaya internalisasi nilai-nilai agama di dalam tindakan sehari-harinya. Adapun
pada sisi lain, mereka harus mampu mencapai kompetensi rasionalitas tertentu.
Hal ini menjadi barang dagangan yang sangat laris pada masa kini. Mereka
mempraktikan cium tangan para guru sebelum pelajaran model Barat dimulai.
Contoh: sekolah-sekolah swasta yang selama ini menjamur dan dianggap sebagai
penggabungan iman dan ilmu pengetahuan. Kelebihannya, praktik ini memberikan jalan
keluar bagi kemelut fundamentalisme. Kekurangannya, praktik tersebut tak
ubahnya sebuah menara gading yang tidak pernah menjadi kenyataan, Praktik di
luar sekolah justru menjadi sebuah "pendidikan" yang paling nyata
bagi peserta didik.
Sekolah
seperti sebuah miniatur ideologi-ideologi asing yang tidak bisa dikenali. Ini
tidak lebih sebagai barang dagangan yang sedang laris-larisnya. Begitulah,
pendidikan masa depan didasarkan pada tiga pandangan yang saling berkompetisi
untuk meraih kedudukan dominan. Pada masa depan, seorang peserta didik akan
memberikan jawaban setiap mata pelajaran berdasarkan perspektifnya sendiri
karena pendidikan di sekolah didasarkan pada pendidikan individu yang memiliki
kebebasan berpikir. Mereka berangkat dengan membawa perangkat teknologi yang
siap untuk melakukan dialog tatap muka secara virtual. Di sekolah, dia
mendapatkan materi-materi yang tidak pernah diperoleh sebelumnya, seperti:
- Mata Pelajaran Kewarganegaraan ASEAN.
- Mata Pelajaran Budi Pekerti, Antiterorisme, Antikorupsi
- Mata Pelajaran Toleransi dan Multikulturalisme
- Mata Pelajaran Pemikiran kritis
Sementara
kebijakan pendidikan yang berpihak pada masa depan haruslah diawali dari rangkaian fondasi yang kokoh secara filosofis. Kebijakan pendidikan akan dijumpai pemahaman sebagai
berikut:
- Pendidikan sebagai alih-ideologi.
- Pendidikan pascakolonial
- Pendidikan revolusi mental
- Pendidikan berbasis spiritualitas.
Filsafat
pendidikan masa depan sudah di ambang pintu. Karena itu, saya memiliki gagasan
atau bahkan Anda pun memiliki kekhawatiran, bahwa persiapan penyelenggaraan
pendidikan masa kini tanpa melihat apa yang akan terjadi pada masa depan tak
ubahnya melakukan perjalanan di hutan tanpa petunjuk arah. Pendidikan adalah
membangun perahu seperti yang dilakukan oleh Nabi Nuh Perahu itu tidak berguna
pada saat dibuat. Dia hanya berguna ketika perahu itu sudah jadi dan banjir
telah datang.
Referensi
: Rohman, Saifur dan Wibowo, Agus. 2016. Filsafat Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar