Gender adalah
suatu istilah yang di gunakan untuk menggambarkan pembedaan antara laki-laki
dan perempuan secara sosial maupun budayanya. Gender adalah kelompok atribut
dan prilaku yang dibentuk secara kultural yang ada pada laki-laki dan
perempuan. Sebagai contohnya; perempuan dianggap lemah lembut,
emosional, keibuan dan sebagainya. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional,
perkasa dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut bukan kodrat karena
tidak selamanya, namun bisa saja di pertukarkan. Artinya laki-laki bisa saja
ada yang emosional, keibuan ataupun lemah lembut, dan perempuan ada juga yang
kuat, perkasa dan keayahan.
Gender adalah
konsep hubungan sosial yang membedakan (memilahkan atau memisahkan) fungsi
dan peran anttara laki-laki dan perempuan. Perbedaan fungsi dan peran itu tidak
ditentukan karena keduanya terdapat perbedaan biologis atau kodrat, melainkan
dibedakan menurut kedudukan, fungsi, dan peran masing-masing dalam berbagai
bidang kehidupan dan pembangunan.
Dengan demikian
gender sebangai suatu konsep merupakan suatu hasil pemikiran atau rekayasa
manusia, dibentuk oleh masyarakat sehingga gender bersifat dimanis dapat
berbeda karena perbedaan adat istiadat, buudaya, agama, dan sistem nilai dari
bangsa, masyarakat, dan suku bangsa tertentu. Selain itu, gender dapat berubah
karena perjalalan sejarah, perubahan politik, ekonomi dan sosial budaya, atau
karena kemajuan pembangunan. Dengan demikian, gender tidak bersifat universal
atau tidak berlaku secara umum, akan tetapi bersifat situasional masyarakatnya.
Oleh kareena itu, tidak terjadi kerancauan dan pemutar balikan makna tentang
apa yang disebut jenis kelamin (seks) dan gender.
Seks berbeda
dengan Gender. Seks adalah pembagian jenis kelamin yang
ditentukan secara biologis dan melekat pada jenis kelamin tertentu. Oleh karena
itu, konsep jenis kelamin digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan
berdasarkan unsur biologis dan anatomi tubuh. Anotomi yang mereka terima sejak
lahir tidak bisa diubah karena pada dasarnya mereka tidak bisa memilih jenis
kelamin yang cocok untuk mereka. Sebagai contoh anatomi tubuh perempuan yang
mempunyai payudara dan alat kelamin ‘wanita’, mereka bisa melahirkan memproduksi
sel telur dan menyusui anaknya. Sedangkan contoh anatomi tubuh pria yang
terdapat jakun, alat kelamin ‘pria’ dan memproduksi sperma.
Dilihat dari
pengertian diatas Gender dan Seks adalah berbeda. Gender lebih membicarakan
tentang perilaku dan mental (psikologis), sedangkan Seks lebih condong pada
konsep fisik (biologis).
Karena
perbedaan Dalam Seks dan Gender terdapat perbedaan kodrat dan hal yang umunya
dilihat masayarakat sebagai sesuatu yang seharusnya dimiliki pria atau wanita
inilah yang akhirnya menimbulkan rasa dari seseorang untuk keluar dari
kebiasaan umum masyarakat atau kodrat manusiawinya sebagai pria dan wanita. Dan
juga menimbulakan masalah-masalah lain diluar keinginan individu itu sendiri
untuk menjalani kodratnya sebagai pria atau wanita. Oleh karena itu berikut
masalah yang timbul karena adanya perbedaan Seks dan Gender.
Permasalahan-permasalahan dalam
Gender
Dengan adanya
perbedaan Gender ini, maka tak lepas dari masalah-masalah dengan adanya
perbedaan tersebut. Dan pada posisi ini, justru malah lebih banyak
merugikan bagi kaum perempuan. Berikut beberapa Masalah-masalah dari adanya
perbedaan gender.
1.
Marginalization
of woman (Pemiskinan perempuan)
Yaitu
pemiskinan terhadap salah satu jenis kelamin karena gender. Dalam hal ini perempuan
yang lebih banyak menjadi korban. Biasanya terjadi karena tenaga perempuan yang
lebih lemah dibandingkan umumnya laki-laki. Contohnya;
Program
revolusi hijau di jawa telah menggeser teknik memanen dengan menggunakan
ani-ani sebagai alat memanen padi yang sudah melekat dan di gunakan oleh
perempuan dengan sabit. Sabit umumnya diapaki oleh kaum laki-laki, karena
pengguanaannya yang lebih memakai tenaga.
Marginalisasi
perempuan bisa bersumber dari pemerintah, tafsir agama, tradisi, kebiasaan atau
bahkan asumsi ilmu pengetahuan. Marginalisasi perempuan tiddak hanya terjadi di
tempat kerja, tetapi juga terjadi dalam tingkatan seperti rumah tangga,
masyarakat dan Negara.
2.
Subordination
Yaitu memandang
perempuan sebagai kaum kedua setelah laki-laki. Hal ini di karenakan adanya
anggapan bahwa perempuan irasional dalam berpikir dan tidak bisa tampil sebagai
pengambil keputusan(pemimpin). Oleh karena itu terjadi bisa terjadi kesimpangan
gender dalam hal pengambil keputusan kekuasaan. Sehingga wanita ingin lepas
dari jeart kodratnya yang ada sejak dia lahir dan muculah kenginan untuk
meyamaratakan derajat antara pria dan wanita.
Bentuk
subordination akibat perbedaan gender berbeda-beda menurut tempat
dan waktu. Contohnya; dahulu ada anggapan bahwa perempuan tak perlu sekolah
tinggi-tinggi , karena akhirnya akan kedapur juga. Contoh lainnya; Bila seorang
suami akan mengambil kredit di lembaga perbankan, maka dia bisa mengambil
keputusan dengan sendiri, sebaliknya istri harus seizin suaminya.
3.
Gender
dan Stereotip
Pelabelan pada
kaum perempuan, dan hal ini sangatlah merugikan bagi perempuan. Contohnya: bila
perempuan bersolek mencari perhatian kaum lelaki, sehingga bila ada perempuan
yang di perkosa, maka yang di salahkan adalah perempuan tersebut. padahal ini
bisa saja menjadi salah kaum laki-laki yang memerkosa tadi.
4.
Gender
dan kekerasan
Kekerasan (violence)
adalah suatu serangan (assault) baik terhadap fisik ataupun integritas mental
psikiologis seseorang. Gender-related-violence atau kekerasan terhadap gender
ini di sebabkan karena adanya ketidaksetaraan kekuatan atau kekuasaan dalam
masyarakat. Jenis2 kekerasannya seperti:
a.
Pemerkosaan:
Perbuatan seseorang untuk memenuhi kebutuhan seksual dengan cara
memaksa orang lain tanpa kerelaan yang bersangkutan. Ketidak relaan ini
seringkali tidak Nampak karena berbagai factor, seperti ketakutan, malu,
terpaksa karena ekonomi, sosial maupun budaya.
b.
Penyiksaan
terhadap alat kelamin (genital mutilation), seperti penyunatan alat kelamin
anak perempuan dengan tujuan untuk mengontrol perempuan.
c.
Kekerasan
dalam bentuk pelacuran (prostitusi). Biasnya terjadi karena faktor ekonomi.
5.
Pelecehan
seksual
Adalah perilaku
pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk
permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal
ataupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja
baik tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, dan lain
sebagainya.
Pelecehan ini
biasanya terjadi pada kaum wanita, yang umumnya memiliki karakteristik lemh dan
tidak akan melawan. Sehingga seringkali menjadi sasaran seoarang untuk
melakukan pelecehan seksual. Dalam hal ini wanita dianggap sebagai pusat
masalah dari pelecehan seksual itu sendiri.
Permasalahan-permasalahan dalam Seks
(jenis kelamin)
Adanya
perbedaan Seks (jenis kelamin) juga sering menjadi katalis untuk permasalahan
dalam masyarakat mengenai jenis kelamin, dengan masalahnya sebagai berikut
1.
Lesbian
Orientasi seksual seorang perempuan
yang hanya mempunyai hubungan antara perempuan dengan perempuan. Dalam hal
ini seornag perempuan memiliki keterkaitan lebih dengan sesame jenisnya. Hali
ini umumnya terjadi karena adanya
tekanan dari suatu trauma asmara antar wanita dengan lawan jenisnya dahulu.
Namun faktor lainnya yang menentukan adalah adanya genetic bawaan yang ada pada
si perempuan, baik sewaktu kecil maupun muncul setelah dewasa.
2.
Gay
Orientasi
Seksual seorang Pria yang hanya mempunyai hasrat sesama pria. Kaum gay masih
tetap merasa dan menganggap dirinya sebagai laki-laki. Dalam mewujudkan
seksualitasnya, ada yang bertindak sebagai pihak pasif (seperti peran perempuan
dalam hubungan seksual) dan ada yang bertindak sebagai pihak aktif (seperti
peran laki-laki), tetapi masing-masing tetap menganggap diri sebagai laki-laki,
baik secara fisik maupun psikis
3.
Biseksual
Sebuah
Orientasi Seksual Seorang Pria/Wanita memiliki kecenderungan untuk menyukai
pria maupun perempuan secara bersamaan. Orang tersebut tidak terlalu membedakan
jenis kelamin wanita atau pria. Karena menurut mereka tidak ada batas dalam hal
jenis kelamin. Hal ini biasanya terjadi karena jumlah kromosom berlebih yang
dimiliki individu tersebut.
4.
Transgender
Sebuah
Orientasi seksual seorang Pria/Wanita dengan mengidentifikasi dirinya
menyerupai Pria/Wanita yang menderita konflik batin karena perbedaan
identitas diri yang bertentangan dengan identitas sosial sehingga mengubah
karakteristik dirinya (Misalnya:Waria). Transgender yang lebih ekstrim
biasanya akan merubah tampilan fisik mereka kepada jenis kelamin lawn mereka.
5.
Aseksual
Orientasi
seksual seorang pria atau wanita untuk tidak menyukai lawan jenisnya atau
sesame jenisnya. Hal ini umumnya terjadi karena faktor bawaan lahir atau
kesalahan genetic yang dibawanya sejak lahir.
6.
Pedofil
Orientasi
seksual yang cenderung mengarah ke anak kecil, dalam hal ini individu lebih
menyukai anak kecil daripada orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar