Selasa, 13 Desember 2016

Sex dan Gender Serta Permasalahannya

Gender adalah suatu istilah yang di gunakan untuk menggambarkan pembedaan antara laki-laki dan perempuan secara sosial maupun budayanya. Gender adalah kelompok atribut dan prilaku yang dibentuk secara kultural yang ada pada laki-laki dan perempuan. Sebagai contohnya; perempuan dianggap lemah lembut, emosional, keibuan dan sebagainya. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut  bukan kodrat karena tidak selamanya, namun bisa saja di pertukarkan. Artinya laki-laki bisa saja ada yang emosional, keibuan ataupun lemah lembut, dan perempuan ada juga yang kuat, perkasa dan keayahan.

Gender adalah konsep hubungan sosial yang membedakan (memilahkan atau memisahkan) fungsi dan peran anttara laki-laki dan perempuan. Perbedaan fungsi dan peran itu tidak ditentukan karena keduanya terdapat perbedaan biologis atau kodrat, melainkan dibedakan menurut kedudukan, fungsi, dan peran masing-masing dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.
Dengan demikian gender sebangai suatu konsep merupakan suatu hasil pemikiran atau rekayasa manusia, dibentuk oleh masyarakat sehingga gender bersifat dimanis dapat berbeda karena perbedaan adat istiadat, buudaya, agama, dan sistem nilai dari bangsa, masyarakat, dan suku bangsa tertentu. Selain itu, gender dapat berubah karena perjalalan sejarah, perubahan politik, ekonomi dan sosial budaya, atau karena kemajuan pembangunan. Dengan demikian, gender tidak bersifat universal atau tidak berlaku secara umum, akan tetapi bersifat situasional masyarakatnya. Oleh kareena itu, tidak terjadi kerancauan dan pemutar balikan makna tentang apa yang disebut jenis kelamin (seks) dan gender.
Seks berbeda dengan Gender. Seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis dan melekat pada jenis kelamin tertentu. Oleh karena itu, konsep jenis kelamin digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan unsur biologis dan anatomi tubuh. Anotomi yang mereka terima sejak lahir tidak bisa diubah karena pada dasarnya mereka tidak bisa memilih jenis kelamin yang cocok untuk mereka. Sebagai contoh anatomi tubuh perempuan yang mempunyai payudara dan alat kelamin ‘wanita’, mereka bisa melahirkan memproduksi sel telur dan menyusui anaknya. Sedangkan contoh anatomi tubuh pria yang terdapat jakun, alat kelamin ‘pria’ dan memproduksi sperma.
Dilihat dari pengertian diatas Gender dan Seks adalah berbeda. Gender lebih membicarakan tentang perilaku dan mental (psikologis), sedangkan Seks lebih condong pada konsep fisik (biologis).
Karena perbedaan Dalam Seks dan Gender terdapat perbedaan kodrat dan hal yang umunya dilihat masayarakat sebagai sesuatu yang seharusnya dimiliki pria atau wanita inilah yang akhirnya menimbulkan rasa dari seseorang untuk keluar dari kebiasaan umum masyarakat atau kodrat manusiawinya sebagai pria dan wanita. Dan juga menimbulakan masalah-masalah lain diluar keinginan individu itu sendiri untuk menjalani kodratnya sebagai pria atau wanita. Oleh karena itu berikut masalah yang timbul karena adanya perbedaan Seks dan Gender.
Permasalahan-permasalahan dalam Gender
Dengan adanya perbedaan Gender ini, maka tak lepas dari masalah-masalah dengan adanya perbedaan tersebut. Dan pada posisi ini, justru malah lebih banyak  merugikan bagi kaum perempuan. Berikut beberapa Masalah-masalah dari adanya perbedaan gender.
1.      Marginalization of woman (Pemiskinan perempuan)
Yaitu pemiskinan terhadap salah satu jenis kelamin karena gender. Dalam hal ini perempuan yang lebih banyak menjadi korban. Biasanya terjadi karena tenaga perempuan yang lebih lemah dibandingkan umumnya laki-laki. Contohnya;
Program revolusi hijau di jawa telah menggeser teknik memanen dengan menggunakan ani-ani sebagai alat memanen padi yang sudah melekat dan di gunakan oleh perempuan dengan sabit. Sabit umumnya diapaki oleh kaum laki-laki, karena pengguanaannya yang lebih memakai tenaga.
Marginalisasi perempuan bisa bersumber dari pemerintah, tafsir agama, tradisi, kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu pengetahuan. Marginalisasi perempuan tiddak hanya terjadi di tempat kerja, tetapi juga terjadi dalam tingkatan seperti rumah tangga, masyarakat dan Negara.
2.      Subordination
Yaitu memandang perempuan sebagai kaum kedua setelah laki-laki. Hal ini di karenakan adanya anggapan bahwa perempuan irasional dalam berpikir dan tidak bisa tampil sebagai pengambil keputusan(pemimpin). Oleh karena itu terjadi bisa terjadi kesimpangan gender dalam hal pengambil keputusan kekuasaan. Sehingga wanita ingin lepas dari jeart kodratnya yang ada sejak dia lahir dan muculah kenginan untuk meyamaratakan derajat antara pria dan wanita.
Bentuk subordination  akibat perbedaan gender berbeda-beda menurut tempat dan waktu. Contohnya; dahulu ada anggapan bahwa perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi , karena akhirnya akan kedapur juga. Contoh lainnya; Bila seorang suami akan mengambil kredit di lembaga perbankan, maka dia bisa mengambil keputusan dengan sendiri, sebaliknya istri harus seizin suaminya.
3.      Gender dan Stereotip
Pelabelan pada kaum perempuan, dan hal ini sangatlah merugikan bagi perempuan. Contohnya: bila perempuan bersolek mencari perhatian kaum lelaki, sehingga bila ada perempuan yang di perkosa, maka yang di salahkan adalah perempuan tersebut. padahal ini bisa saja menjadi salah kaum laki-laki yang memerkosa tadi.
4.      Gender dan kekerasan
Kekerasan (violence) adalah suatu serangan (assault) baik terhadap fisik ataupun integritas mental psikiologis seseorang. Gender-related-violence atau kekerasan terhadap gender ini di sebabkan karena adanya ketidaksetaraan kekuatan atau kekuasaan dalam masyarakat. Jenis2 kekerasannya seperti:
a.       Pemerkosaan: Perbuatan seseorang  untuk memenuhi kebutuhan seksual dengan cara memaksa orang lain tanpa kerelaan yang bersangkutan. Ketidak relaan ini seringkali tidak Nampak karena berbagai factor, seperti ketakutan, malu, terpaksa karena ekonomi, sosial maupun budaya.
b.      Penyiksaan terhadap alat kelamin (genital mutilation), seperti penyunatan alat kelamin anak perempuan dengan tujuan untuk mengontrol perempuan.
c.       Kekerasan dalam bentuk pelacuran (prostitusi). Biasnya terjadi karena faktor ekonomi.

5.      Pelecehan seksual
Adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja baik tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, dan lain sebagainya.
Pelecehan ini biasanya terjadi pada kaum wanita, yang umumnya memiliki karakteristik lemh dan tidak akan melawan. Sehingga seringkali menjadi sasaran seoarang untuk melakukan pelecehan seksual. Dalam hal ini wanita dianggap sebagai pusat masalah dari pelecehan seksual itu sendiri.
Permasalahan-permasalahan dalam Seks (jenis kelamin)
Adanya perbedaan Seks (jenis kelamin) juga sering menjadi katalis untuk permasalahan dalam masyarakat mengenai jenis kelamin, dengan masalahnya sebagai berikut
1.      Lesbian
Orientasi seksual seorang perempuan yang hanya mempunyai hubungan antara perempuan dengan perempuan. Dalam hal ini seornag perempuan memiliki keterkaitan lebih dengan sesame jenisnya. Hali ini umumnya terjadi  karena adanya tekanan dari suatu trauma asmara antar wanita dengan lawan jenisnya dahulu. Namun faktor lainnya yang menentukan adalah adanya genetic bawaan yang ada pada si perempuan, baik sewaktu kecil maupun muncul setelah dewasa.
2.      Gay
Orientasi Seksual seorang Pria yang hanya mempunyai hasrat sesama pria. Kaum gay masih tetap merasa dan menganggap dirinya sebagai laki-laki. Dalam mewujudkan seksualitasnya, ada yang bertindak sebagai pihak pasif (seperti peran perempuan dalam hubungan seksual) dan ada yang bertindak sebagai pihak aktif (seperti peran laki-laki), tetapi masing-masing tetap menganggap diri sebagai laki-laki, baik secara fisik maupun psikis
3.      Biseksual
Sebuah Orientasi Seksual Seorang Pria/Wanita memiliki kecenderungan untuk menyukai pria maupun perempuan secara bersamaan. Orang tersebut tidak terlalu membedakan jenis kelamin wanita atau pria. Karena menurut mereka tidak ada batas dalam hal jenis kelamin. Hal ini biasanya terjadi karena jumlah kromosom berlebih yang dimiliki individu tersebut.
4.      Transgender
Sebuah Orientasi seksual seorang Pria/Wanita dengan mengidentifikasi dirinya menyerupai Pria/Wanita yang menderita konflik batin karena perbedaan identitas diri yang bertentangan dengan identitas sosial sehingga mengubah karakteristik dirinya (Misalnya:Waria). Transgender yang lebih ekstrim biasanya akan merubah tampilan fisik mereka kepada jenis kelamin lawn mereka.
5.      Aseksual
Orientasi seksual seorang pria atau wanita untuk tidak menyukai lawan jenisnya atau sesame jenisnya. Hal ini umumnya terjadi karena faktor bawaan lahir atau kesalahan genetic yang dibawanya sejak lahir.
6.      Pedofil

Orientasi seksual yang cenderung mengarah ke anak kecil, dalam hal ini individu lebih menyukai anak kecil daripada orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar