Secara
ringkas dapat dijelaskan bahwa Arkoun menyerukan investigasi multidisipliner
terhadap proses yang membuat wahyu menjadi ortodoksi dalam Islam. Al-Quran
adalah (1) wahyu yang disampaikan oleh Muhammad secara lisan kepada para
sahabatnya, (2) seperangkat undang-undang yang berbeda di dalam kekuasaan Arab
yang baru didirikan, (3) sebuah teks tertulis yang dibangun untuk mengikis
perbedaan sekaligus mengukuhkan kekuasaan Arab, (4) dasar bagi kerangka hukum
yang didesain untuk menyatukan praktik hukum yang multietnis dan multibahasa,
dan (5) refleksi atas kebenaran universal yang diturunkan kepada bangsa Arab
(Arkoun, 1988: 5-7). Bagi Arkoun, memahami Islam berarti memahami bagaimana dan
mengapa konsep keempat dan kelima dari al-Qur'an itu akhirnya sangat dominan.
Sebaliknya,
pemahaman alternatif menghilang dari kesadaran kolektif umat. Beberapa ide
memperoleh tempat dan direngkuh di dalam ortodoksi, sebaliknya ide-ide lain
yang betul-betul maju dan kukuh justru kehilangan legitimasi. Asumsi dasarnya
didasarkan pada pengamatan tentang kondisi kontemporer, bahwa negara selalu
berusaha mereduksi Islam sebagai seperangkat simbol tunggal. Sebagai pembela
metode rasional dalam memahami masal Islam, Arkoun begitu mengagumi
kecenderungan-kecenderun dalam tradisi Islam dan menyesalkan ketermarjinalan.
Arkoun
berkesimpulan bahwa rasionalisme yang menekanlan awal dan esensi abadi, telah
menguatkan logosentrisme tradisi Islam. Akal dan wahyu secara bersama-sama
menghasilkan mentalitas abad pertengahan yang mewarnai dunia Islam hingga abad
ke-19, jauh sesudah kondisi yang serupa dalam menciptakan teori pada masyarakat
Kristen Eropa. Logosentrisme Islam lahir akibat penerapan filsafat terhadap
agama. Konsep pemikiran Yunani yang dogmatik, yang menggerakkan manusia ke arah
Wujud, Kebenaran, Kebajikan, dan Keindahan. telah membantu mendefinisikan
sifat-sifat Tuhan. Penelusuran logis "sebab pertama" telah mengarah
pada pembuktian eksistensi manusia dan penjelasan skematis tentang penciptaan.
Dari sifat dasar pemikiran, sifat-sifat Tuhan, dan konsekuensi deduktif dari
wahyu, muncullah aksioma-aksioma esensial tentang kodifikasi hukum Islam, bahwa
nabi tak mungkin berbohong, bahwa komunitas Islam mustahil bersepakat dalam
kesalahan, dan sebagainya. Sekali dikembangkan, definisi dan kode-kode itu
akhirnya dipakai untuk mendukung klaim universalitas yang didasarkan pada
al-Qur'an dan menghancurkan keragaman etnis. Pencarian makna diidentifikasi
penerapan logika pada teks, bahwa sekali disimpulkan benar, ia benar untuk
selamanya. Hanya simpulan-simpulan tersebut perlu diulang. Akhirnya, perulangan
itu dipersamakan dengan.
Menurut
Arkoun, wacana logosentris telah menutupi realitas menghambat dorongan-dorongan
manusia yang kreatif dan tajam. Dalam visi logosentrisme, semua masalah cukup
diselesaikan sekali dan untuk selamanya. "Kebenaran" yang dihayati
dan keunikan telah musnah di balik universalitas sebagai akibati sakralisasi
ajaran dan transcendent periode formatif Islam (Lee, 1997: 152). Arkoun ingin
mengkritik rasionalisme atas nama sejarah dan memberi tekanan analisisnya pada
niat para pemikir lalam, bukan pada pengaruh yang ditimbulkannya. Arkoun juga
tentang substansi dan esensi, baik dalam bentuk teologis atau pun filosofis.
Akal lslam sebagai landasan tradisi
Islam harus diruntuhkan, agar terbuka peluang bagi upaya rekonstruksi jalan
hidup Muslim.
Serangan
revolusioner Arkoun pada lslam dan kesalahan pemikiran yang ditimbulkannya
merupakan serangan terhadap rezim-rezim ideologi mengeksploitasi kesadaran
dalam segala bentuknya, termasuk Arab yang ada. Pemikiran ini membuka ruang
untuk mendengarkan para korban ortodoksi resmi dan ilmiah yang membisu dan
terlupakan. Arkoun memanfaatkan ilmu-ilmu sosial untuk memahami imaginaire
endapan kesadaran dan keyakinan yang mengatur masyarakat-serta bila mungkin
mencapai pembacaan perilaku realitas secara langsung dan total. Arkoun
mengajukan kritik epistemologis yang berkesinambungan untuk mengurangi sekecil
mungkin faktor kesalahan dalam kesadaran. Kesadaran yang salah adalah sebentuk
kesadaran yang tidak pernah melakukan kritik balik kepada dirinya sendiri
Pada
hakikatnya, Arkoun ingin membebaskan manusia dari dunia mitos yang terlahir
dari visi masa silam yang eksklusif dan serampangan dengan memaparkan kebenaran
sejati dan realitas hakiki kepada mereka. Ia ingin membebaskan kaum Muslim
untuk menjadi diri mereka sendiri. Dengan melakukan telaah ilmiah dan
melancarkan kritik atas "akal lslam skripturalisme ortodoks serta
tekstualitas al-Qur'an, Arkoun berharap bisa menghilangkan alienasi dengan
menguji kebenaran semua dimensi memori kolektif dan menghantam kemungkinan satu
dimensi bagi siapa pun yang mengajukan dirinya sebagai pemilik kebenaran
tunggal.
Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012.
Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar