Selasa, 27 Desember 2016

Epistemologi Mohammed Arkoun

Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Arkoun menyerukan investigasi multidisipliner terhadap proses yang membuat wahyu menjadi ortodoksi dalam Islam. Al-Quran adalah (1) wahyu yang disampaikan oleh Muhammad secara lisan kepada para sahabatnya, (2) seperangkat undang-undang yang berbeda di dalam kekuasaan Arab yang baru didirikan, (3) sebuah teks tertulis yang dibangun untuk mengikis perbedaan sekaligus mengukuhkan kekuasaan Arab, (4) dasar bagi kerangka hukum yang didesain untuk menyatukan praktik hukum yang multietnis dan multibahasa, dan (5) refleksi atas kebenaran universal yang diturunkan kepada bangsa Arab (Arkoun, 1988: 5-7). Bagi Arkoun, memahami Islam berarti memahami bagaimana dan mengapa konsep keempat dan kelima dari al-Qur'an itu akhirnya sangat dominan.

Sebaliknya, pemahaman alternatif menghilang dari kesadaran kolektif umat. Beberapa ide memperoleh tempat dan direngkuh di dalam ortodoksi, sebaliknya ide-ide lain yang betul-betul maju dan kukuh justru kehilangan legitimasi. Asumsi dasarnya didasarkan pada pengamatan tentang kondisi kontemporer, bahwa negara selalu berusaha mereduksi Islam sebagai seperangkat simbol tunggal. Sebagai pembela metode rasional dalam memahami masal Islam, Arkoun begitu mengagumi kecenderungan-kecenderun dalam tradisi Islam dan menyesalkan ketermarjinalan.
Arkoun berkesimpulan bahwa rasionalisme yang menekanlan awal dan esensi abadi, telah menguatkan logosentrisme tradisi Islam. Akal dan wahyu secara bersama-sama menghasilkan mentalitas abad pertengahan yang mewarnai dunia Islam hingga abad ke-19, jauh sesudah kondisi yang serupa dalam menciptakan teori pada masyarakat Kristen Eropa. Logosentrisme Islam lahir akibat penerapan filsafat terhadap agama. Konsep pemikiran Yunani yang dogmatik, yang menggerakkan manusia ke arah Wujud, Kebenaran, Kebajikan, dan Keindahan. telah membantu mendefinisikan sifat-sifat Tuhan. Penelusuran logis "sebab pertama" telah mengarah pada pembuktian eksistensi manusia dan penjelasan skematis tentang penciptaan. Dari sifat dasar pemikiran, sifat-sifat Tuhan, dan konsekuensi deduktif dari wahyu, muncullah aksioma-aksioma esensial tentang kodifikasi hukum Islam, bahwa nabi tak mungkin berbohong, bahwa komunitas Islam mustahil bersepakat dalam kesalahan, dan sebagainya. Sekali dikembangkan, definisi dan kode-kode itu akhirnya dipakai untuk mendukung klaim universalitas yang didasarkan pada al-Qur'an dan menghancurkan keragaman etnis. Pencarian makna diidentifikasi penerapan logika pada teks, bahwa sekali disimpulkan benar, ia benar untuk selamanya. Hanya simpulan-simpulan tersebut perlu diulang. Akhirnya, perulangan itu dipersamakan dengan.
Menurut Arkoun, wacana logosentris telah menutupi realitas menghambat dorongan-dorongan manusia yang kreatif dan tajam. Dalam visi logosentrisme, semua masalah cukup diselesaikan sekali dan untuk selamanya. "Kebenaran" yang dihayati dan keunikan telah musnah di balik universalitas sebagai akibati sakralisasi ajaran dan transcendent periode formatif Islam (Lee, 1997: 152). Arkoun ingin mengkritik rasionalisme atas nama sejarah dan memberi tekanan analisisnya pada niat para pemikir lalam, bukan pada pengaruh yang ditimbulkannya. Arkoun juga tentang substansi dan esensi, baik dalam bentuk teologis atau pun filosofis. Akal lslam sebagai  landasan tradisi Islam harus diruntuhkan, agar terbuka peluang bagi upaya rekonstruksi jalan hidup Muslim.
Serangan revolusioner Arkoun pada lslam dan kesalahan pemikiran yang ditimbulkannya merupakan serangan terhadap rezim-rezim ideologi mengeksploitasi kesadaran dalam segala bentuknya, termasuk Arab yang ada. Pemikiran ini membuka ruang untuk mendengarkan para korban ortodoksi resmi dan ilmiah yang membisu dan terlupakan. Arkoun memanfaatkan ilmu-ilmu sosial untuk memahami imaginaire endapan kesadaran dan keyakinan yang mengatur masyarakat-serta bila mungkin mencapai pembacaan perilaku realitas secara langsung dan total. Arkoun mengajukan kritik epistemologis yang berkesinambungan untuk mengurangi sekecil mungkin faktor kesalahan dalam kesadaran. Kesadaran yang salah adalah sebentuk kesadaran yang tidak pernah melakukan kritik balik kepada dirinya sendiri
Pada hakikatnya, Arkoun ingin membebaskan manusia dari dunia mitos yang terlahir dari visi masa silam yang eksklusif dan serampangan dengan memaparkan kebenaran sejati dan realitas hakiki kepada mereka. Ia ingin membebaskan kaum Muslim untuk menjadi diri mereka sendiri. Dengan melakukan telaah ilmiah dan melancarkan kritik atas "akal lslam skripturalisme ortodoks serta tekstualitas al-Qur'an, Arkoun berharap bisa menghilangkan alienasi dengan menguji kebenaran semua dimensi memori kolektif dan menghantam kemungkinan satu dimensi bagi siapa pun yang mengajukan dirinya sebagai pemilik kebenaran tunggal.


Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media


Tidak ada komentar:

Posting Komentar