Selasa, 27 Desember 2016

Hubungan Keimanan Kepada Tuhan dengan Pendidkan

Pemahaman terhadap keesaan Tuhan dengan segala sifat-Nya sebagaimana tersebut di atas, memiliki hubungan yang erat dalam rangka mengembangkan pemikiran pendidikan. Hubungan tersebut dapat dikemukakan dengan analisis sebagai berikut.

Pertama, berkaitan dengan visi, misi dan tujuan pendidikan. lman kepada Tuhan akan memengaruhi visi pendidikan, yaitu menjadikan pendidikan sebagai sarana yang unggul dan kredibel dalam membentuk manusia yang dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Sedangkan misinya antara lain membentuk manusia agar beribadah kepada Allah swt. Manusia yang mampu mengelola alam jagat raya untuk kemaslahatan manusia; manusia yang mengerjakan perbuatan yang diperintahkan Allah swt. dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan tujuannya adalah membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berbudi pekerti yang luhur, menjadi hamba Allah Swt, menjadi orang yang seimbang dalam hubungannya dengan Tuhan dan dengan sesama manusia, manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, dan manusia yang berbudi pekerti mulia dan manusia yang rela berjuang di jalan Allah Swt.
Kedua, berkaitan dengan ideologi pendidikan, yaitu cita-cita dan tujuan tertinggi dalam pendidikan Islam yang selanjutnya menjiwai seluruh komponen pendidikan. Iman kepada Tuhan akan menjadi landasan ideologi pendidikan yang humanisme teosentris, yakni pendidikan yang bukan semata-mata didasarkan pada nilai-nilai yang berasal dari akal pikiran manusia, melainkan juga nilai-nilai yang didasarkan pada kehendak Allah Swt. Pada paham nativisme sebagaimana dikemukakan Arthur schopenhauer bahwa pendidikan sepenuhnya ditentukan oleh pembawaan dari dalam manusia, dan empirisme, sabagaimana dikemukakan bahwa pendidikan sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan, dan dalam paham konvergensi, bahwa pendidikan ditentukan oleh pembawaan dari dalam diri manusia dan lingkungan, maka dalam Islam semua pandangan tersebut masih bersifat anthropocentris, yakni memusat pada manusia karena belum melibatkan peranan Tuhan. Dalam lslam pendidikan ditentukan oleh usaha manusia dan kehendak Tuhan, atau konvergensi plus, yakni konvergensi yang berdasarkan nilai nilai ketuhanan. oleh sebab itu, jika seorang guru berhasil melaksanakan pendidikan, hendaknya tidak sombong. Ia harus mengajak para muridnya terlebih dahulu berterima kasih kepada Tuhan. Baru kemudian kepada guru, karena Tuhanlah yang menciptakan dan memberi kemampuan mendidik kepada guru tersebut.
Ketiga, berkaitan dengan sifat dan karakter pendidik dan peserta didik. Iman kepada Tuhan mengharuskan para pendidik dan peserta didik memiliki sifat-sifat sebagaimana sifat-sifat yang dimiliki Tuhan, Sifat-sifat Tuhan atau Nama-nama Tuhan yang Baik (Asma al-Husna) yang berjumlah 20 sifat atau 99 sifat sebagaimana terdapat dalam asma al husna sebaiknya tidak hanya dihafal atau diketahui artinya, melainkan yang lebih penting lagi dihayati dan diamalkan kandungannya, karena dengan cara demikianlah akan melahirkan manusia yang selalu ingat pada Tuhan dan melahirkan akhlak yang mulia. Jika manusia menyakini bahwa Allah swt. bersifat Maha Pengasih dan Penyayang Maha Mengetahui, Maha Kreatif, Maha Bijaksana, Maha Adil, dan seterusnya, maka sebaiknya manusia menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut, yakni menjadi manusia yang pengasih dan penyayang, meningkatkan dan mengembangkan ilmunya, kreatif dalam melahirkan gagasan dan karya-karya baru, bijaksana dan adil dalam membuat keputusan dan seterusnya.
Keempat, berkaitan dengan sumber-sumber pendidikan. lman kepada Allah Swt. mengajarkan bahwa alam jagat raya dengan segala isinya berupa bumi, langit, gunung, tanah, air, api, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan benda-benda lainnya, seperti emas, perak, tembaga, platina, gas, minyak bumi, dan sebagainya adalah ciptaan-Nya. Semuanya itu harus dipergunakan secara bertanggung jawab sesuai dengan kehendaknya, misalnya harus seimbang antara yang ditebang dengan yang ditanam, atau yang digali dengan yang ditimbun, harus pula dengan ramah, tidak merusak, tidak mencemari, tidak boros, dan tidak digunakan untuk berbuat dosa kepada-Nya, melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Alam jagat raya yang demikian itulah yang selanjutnya digunakan sebagai sarana dan prasarana serta media dalam pendidikan.



Referensi : Zaprulkhan. 2014. Filsafat Islam. Jakarta: Rajawali Pers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar