Tidak
seperti gambaran ikatan sosial atau organisme atau mesin yang memberikan banyak
manfaat banyak orang melihat masyarakat sebagai sesuatu yang kurang ramah:
seperti terjadinya peperangan dalam pertikaian politik antarkelompok yang
berseberangan. Di sini perlu dipertanyakan mengenai perjuangan atau usaha
manusia serta konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan sosial. Ya, sejarah
masyarakat dengan mudah dapat dilihat seperti sejarah perang yang terkutuk.
Dari perang Romawi dan Yunani hingga peperangan di seluruh dunia pada jaman
sekarang ini (saat ini ada empat puluh titik permasalahan di dunia ini dari
Afganistan sampai dengan Zimbabwe), tidak sulit untuk dapat melihat konflik dan
huru-hara sosial yang begitu banyaknya seperti melihat benda-benda -sangat
dinamis. Berkebalikan dengan gambaran ikatan sosial, sekarang kita berfokus
pada perbedaan-perbedaan kita. Sekarang masyarakat dilihat dari peperangan atas
konflik kepentingan.
Beberapa
sosiolog sebelumnya telah memfokuskan pandangan mereka pada kepentingan umum
masyarakat dan dasar kekuatan serta konflik. Niccolò Machiavelli (1469-1527)
menulis buku berjudul The Prince pada tahun 1513 sebagai panduan hukum dan
strategi perang bagi pangeran Medici yang ia ketahui benar seleranya; sedangkan
Thomas Hobbes tenggelam dalam perdebatan mengenai perang sipil dan revolusi
ketika ia menuliskan buku yang berjudul The Leviathan pada tahun 1651. Keduanya
merupakan pemikir politik yang berpengaruh saat itu yang memandang bahwa umat
manusia membutuhkan pemerintah yang kuat. Machiavelli mengatakan bahwa apabila
dibiarkan begitu saja, orang akan menjadi "tidak punya rasa terima kasih,
plin plan, suka berdusta, kurang kritis, menakutkan, dan tamak". Hobbes
mengatakan bahwa tanpa pemerintah yang kuat -dibiarkan dalam sebuah negara yang
alami- maka kehidupan mereka akan "terpencil, miskin, rapi, kasar, dan
tidak panjang umur". Keduanya melihat kebutuhan akan adanya pemerintah
yang kuat. Meskipun jika kepentingan pribadi masyarakat dapat ditekan,
pemerintah yang kuat tetap dibutuhkan demi terciptanya fungsi sosial yang
ideal. Perdebatan muncul hingga mencapai puncaknya pada berikutnya dalam
Revolusi Rusia dan Prancis; dan menciptakan keadaan yang banyak menjadi
perdebatan hingga sekarang, yaitu mengenai demokrasi. Sosiolog yang paling
identik dengan gambaran sosial semacam ini adalah Karl Marx (1818-1883).
Dari
semua pemikir sosial yang akan segara Anda temukan, dialah yang telah menjadi
pemikir paling berpengaruh: selama sebagian besar abad ke-20,
gagasan-gagasannya telah membentuk sekurang-kurangnya satu pertiga dari dunia
ini (dan khususnya Rusia dan Cina). Marx lebih berfokus pada kebutuhan materiil
manusia dan tenaga kerja, serta menyebutkan bahwa sejarah semua kelompok
masyarakat merupakan sejarah perebutan kelas sosial. Manusia terjatuh ke dalam
pertikaian ketika mereka mulai mengetahui adanya penolakan atas kepentingan
manusiawi mereka dan eksploitasi terhadap beberapa golongan masyarakat. Namun
masalahnya lebih luas dari itu. Sebagaimana konflik golongan banyak pakar telah
menyoroti mengenai peperangan antarjenis kelamin yang sudah berlangsung sejak
lama dan kekejaman terhadap wanita, konflik-konflik sadis antarsuku, dan tentu
saja perang berdarah serta kekerasan antarbangsa. Kita perlu tahu siapa yang
mendominasi dan bagaimana kekuasaan serta otonomi ditarik dari banyak orang.
Beberapa pakar, seperti Simmel, bahkan pernah menyebutkan bahwa konflik
bersifat endemis di setiap interaksi manusia dan dapat dijumpai di semua tempat
dalam kehidupan sehari-hari. Para pakar lain bahkan menyebutkan bahwa adanya
konflik mungkin justru diperlukan agar masyarakat tetap berjalan. Lalu, konflik
sendiri telah ada sejak lama sebagai bidang yang perlu didalami oleh para
sosiolog dan mereka telah memberikan banyak kiasan untuk itu.
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar