Selasa, 27 Desember 2016

Masyarakat Sebagai Konflik Kepentingan

Tidak seperti gambaran ikatan sosial atau organisme atau mesin yang memberikan banyak manfaat banyak orang melihat masyarakat sebagai sesuatu yang kurang ramah: seperti terjadinya peperangan dalam pertikaian politik antarkelompok yang berseberangan. Di sini perlu dipertanyakan mengenai perjuangan atau usaha manusia serta konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan sosial. Ya, sejarah masyarakat dengan mudah dapat dilihat seperti sejarah perang yang terkutuk. Dari perang Romawi dan Yunani hingga peperangan di seluruh dunia pada jaman sekarang ini (saat ini ada empat puluh titik permasalahan di dunia ini dari Afganistan sampai dengan Zimbabwe), tidak sulit untuk dapat melihat konflik dan huru-hara sosial yang begitu banyaknya seperti melihat benda-benda -sangat dinamis. Berkebalikan dengan gambaran ikatan sosial, sekarang kita berfokus pada perbedaan-perbedaan kita. Sekarang masyarakat dilihat dari peperangan atas konflik kepentingan.

Beberapa sosiolog sebelumnya telah memfokuskan pandangan mereka pada kepentingan umum masyarakat dan dasar kekuatan serta konflik. Niccolò Machiavelli (1469-1527) menulis buku berjudul The Prince pada tahun 1513 sebagai panduan hukum dan strategi perang bagi pangeran Medici yang ia ketahui benar seleranya; sedangkan Thomas Hobbes tenggelam dalam perdebatan mengenai perang sipil dan revolusi ketika ia menuliskan buku yang berjudul The Leviathan pada tahun 1651. Keduanya merupakan pemikir politik yang berpengaruh saat itu yang memandang bahwa umat manusia membutuhkan pemerintah yang kuat. Machiavelli mengatakan bahwa apabila dibiarkan begitu saja, orang akan menjadi "tidak punya rasa terima kasih, plin plan, suka berdusta, kurang kritis, menakutkan, dan tamak". Hobbes mengatakan bahwa tanpa pemerintah yang kuat -dibiarkan dalam sebuah negara yang alami- maka kehidupan mereka akan "terpencil, miskin, rapi, kasar, dan tidak panjang umur". Keduanya melihat kebutuhan akan adanya pemerintah yang kuat. Meskipun jika kepentingan pribadi masyarakat dapat ditekan, pemerintah yang kuat tetap dibutuhkan demi terciptanya fungsi sosial yang ideal. Perdebatan muncul hingga mencapai puncaknya pada berikutnya dalam Revolusi Rusia dan Prancis; dan menciptakan keadaan yang banyak menjadi perdebatan hingga sekarang, yaitu mengenai demokrasi. Sosiolog yang paling identik dengan gambaran sosial semacam ini adalah Karl Marx (1818-1883).
Dari semua pemikir sosial yang akan segara Anda temukan, dialah yang telah menjadi pemikir paling berpengaruh: selama sebagian besar abad ke-20, gagasan-gagasannya telah membentuk sekurang-kurangnya satu pertiga dari dunia ini (dan khususnya Rusia dan Cina). Marx lebih berfokus pada kebutuhan materiil manusia dan tenaga kerja, serta menyebutkan bahwa sejarah semua kelompok masyarakat merupakan sejarah perebutan kelas sosial. Manusia terjatuh ke dalam pertikaian ketika mereka mulai mengetahui adanya penolakan atas kepentingan manusiawi mereka dan eksploitasi terhadap beberapa golongan masyarakat. Namun masalahnya lebih luas dari itu. Sebagaimana konflik golongan banyak pakar telah menyoroti mengenai peperangan antarjenis kelamin yang sudah berlangsung sejak lama dan kekejaman terhadap wanita, konflik-konflik sadis antarsuku, dan tentu saja perang berdarah serta kekerasan antarbangsa. Kita perlu tahu siapa yang mendominasi dan bagaimana kekuasaan serta otonomi ditarik dari banyak orang. Beberapa pakar, seperti Simmel, bahkan pernah menyebutkan bahwa konflik bersifat endemis di setiap interaksi manusia dan dapat dijumpai di semua tempat dalam kehidupan sehari-hari. Para pakar lain bahkan menyebutkan bahwa adanya konflik mungkin justru diperlukan agar masyarakat tetap berjalan. Lalu, konflik sendiri telah ada sejak lama sebagai bidang yang perlu didalami oleh para sosiolog dan mereka telah memberikan banyak kiasan untuk itu.


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers


Tidak ada komentar:

Posting Komentar