Selasa, 27 Desember 2016

Epistemologi Jurgen Habermas

Dengan pendasaran epistemologis yang berifat emansipatoris Habermas berusaha membangun suatu kerangka ilmu kritis. Habermas berusaha memberikan suatu pembedaan yang jelas antara ilmu-ilmu alam yang menggunakan kepentingan teknis dengan ilmu-ilmu sosio-hermeneutis yang lebih dominan pada kepentingan praksis, sehingga diajukanlah ilmu-ilmu kritis yang lebih ditekankan pada kepentingan kognitif emansipatoris. Suatu paradigma untuk membebaskan manusia dari kesadaran semu.

Ilmu-ilmu kritis berupaya melakukan kritik ideologi, membongkar selubung ideologi(status quo) yang bersembunyi dibalik tatanan sosial dan keajegan dalam gejala sosial. Dimensi praksis merupakan tema sentral epistemologi Habermas. Praksis sebagai tema sentral digunakan untuk melacak hubungan teori dengan kehidupan, karena menyangkut pelaksanaan teori dengan maksud praksis. Pada konteks ini, nyata adanya pertautan antara pengetahuan dengan kepentingan, baik kepentingan teknis (medium kerja), kepentingan praktis (medium komunikasi) maupun kepentingan kognitif emansipatoris (medium kekuasaan) Memperhatikan pemahaman Habermas tentang proses perkembangan masyarakat (evolusi sosial dapat dilakukan melalui proses belajar masyarakat (social learning proces) atau rasionalisasi Proses belajar masyarakat menjadi daya dorong evolusi sosial, berkaitan dengan kompetensi individu-individu masyarakat yang secara kreatif menyumbangkan berbagai potensi untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, baik dalam bidang kognitif teknis maupun moral-praktis. Proses belajar yang demikian diperoleh secara evolutif atau tahap demi tahap menuju suatu masyarakat ideal yang diharapkannya yaitu suatu bentuk masyarakat komunikatif yang bebas dari dominasi. Masyarakat yang demikian selalu mengedepankan perbincangan nasional dengan paradigma komunikasi yang bebas dari penguasaan.
Melalui penahapan tersebut, maka perspektif filsafat sejarah Habermas dapat digolongkan sebagai filsuf yang meyakini adanya perubahan sosial dalam masyarakat, meski perubahan itu tidak harus diidentikkan dengan kemajuan. Kalau memperhatikan tiga tipe perkembangan sejarah, yaitu pertama, persepsi sejarah model siklus yang memandang realitas sejarah bukan sebagai perjalanan maju dari tindakan manusia dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan manusia. Realitas sejarah dengan segala kejadian yang dikandungnya dipandang sebagai refleksi (cerminan) dan repetisi dari peristiwa primordial di masa lampau, yang dikuasai oleh mitos, kedua, model linier yang tidak memberi tempat bagi adanya pengulangan kembali secara terus menerus. Sejarah ditangkap sebagai kemajuan kreatif menuju suatu tujuan tertentu (teleologis). Sejarah bergerak menuju kepenuhan dan pada suatu saat sampai pada tujuannya. Sedangkan ketiga, persepsi sejarah model spiral yang memandang adanya fluktuasi siklis dan krisis periodik dalam sejarah. Terdapat hukum hukum dialektis dalam perjalanan sejarah perkembangan masyarakat.
Melalui tiga tipe ini, maka perspektif filsafat sejarah Habermas dapat digolongkan ke dalam model spiral, sebagaimana yang menimpa para pemikir Teori Kritis lainnya yang terilhami oleh pemikiran Karl Marx. Motor penggerak dalam perkembangan masyarakat adalah proses belajar masyarakat atau rasionalisasi, yang da akhirnya sampai pada keadaan normatif ideal dari tatanan masyarakat yang didasarkan atas konsensus melalui perbincangan rasional dari adanya suatu Perbincangan rasional yang demikian mensyaratkan  masyarakat yang terbebas dari segala bentuk dominasi dan kekuasaan. Inilah yang disebut sebagai komunikasi emansipatoris yang membawa ke arah kesadaran diri serta otonomi dan kedewasaan diri.


Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media


Tidak ada komentar:

Posting Komentar