Dengan
pendasaran epistemologis yang berifat emansipatoris Habermas berusaha membangun
suatu kerangka ilmu kritis. Habermas berusaha memberikan suatu pembedaan yang
jelas antara ilmu-ilmu alam yang menggunakan kepentingan teknis dengan ilmu-ilmu
sosio-hermeneutis yang lebih dominan pada kepentingan praksis, sehingga
diajukanlah ilmu-ilmu kritis yang lebih ditekankan pada kepentingan kognitif
emansipatoris. Suatu paradigma untuk membebaskan manusia dari kesadaran semu.
Ilmu-ilmu
kritis berupaya melakukan kritik ideologi, membongkar selubung ideologi(status
quo) yang bersembunyi dibalik tatanan sosial dan keajegan dalam gejala sosial. Dimensi
praksis merupakan tema sentral epistemologi Habermas. Praksis sebagai tema
sentral digunakan untuk melacak hubungan teori dengan kehidupan, karena
menyangkut pelaksanaan teori dengan maksud praksis. Pada konteks ini, nyata
adanya pertautan antara pengetahuan dengan kepentingan, baik kepentingan teknis
(medium kerja), kepentingan praktis (medium komunikasi) maupun kepentingan
kognitif emansipatoris (medium kekuasaan) Memperhatikan pemahaman Habermas
tentang proses perkembangan masyarakat (evolusi sosial dapat dilakukan melalui proses
belajar masyarakat (social learning proces) atau rasionalisasi Proses belajar
masyarakat menjadi daya dorong evolusi sosial, berkaitan dengan kompetensi
individu-individu masyarakat yang secara kreatif menyumbangkan berbagai potensi
untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, baik dalam bidang kognitif teknis
maupun moral-praktis. Proses belajar yang demikian diperoleh secara evolutif
atau tahap demi tahap menuju suatu masyarakat ideal yang diharapkannya yaitu suatu
bentuk masyarakat komunikatif yang bebas dari dominasi. Masyarakat yang demikian
selalu mengedepankan perbincangan nasional dengan paradigma komunikasi yang
bebas dari penguasaan.
Melalui
penahapan tersebut, maka perspektif filsafat sejarah Habermas dapat digolongkan
sebagai filsuf yang meyakini adanya perubahan sosial dalam masyarakat, meski
perubahan itu tidak harus diidentikkan dengan kemajuan. Kalau memperhatikan
tiga tipe perkembangan sejarah, yaitu pertama, persepsi sejarah model siklus yang
memandang realitas sejarah bukan sebagai perjalanan maju dari tindakan manusia
dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan manusia. Realitas sejarah dengan segala
kejadian yang dikandungnya dipandang sebagai refleksi (cerminan) dan repetisi
dari peristiwa primordial di masa lampau, yang dikuasai oleh mitos, kedua, model
linier yang tidak memberi tempat bagi adanya pengulangan kembali secara terus
menerus. Sejarah ditangkap sebagai kemajuan kreatif menuju suatu tujuan
tertentu (teleologis). Sejarah bergerak menuju kepenuhan dan pada suatu saat
sampai pada tujuannya. Sedangkan ketiga, persepsi sejarah model spiral yang
memandang adanya fluktuasi siklis dan krisis periodik dalam sejarah. Terdapat hukum
hukum dialektis dalam perjalanan sejarah perkembangan masyarakat.
Melalui
tiga tipe ini, maka perspektif filsafat sejarah Habermas dapat digolongkan ke
dalam model spiral, sebagaimana yang menimpa para pemikir Teori Kritis lainnya
yang terilhami oleh pemikiran Karl Marx. Motor penggerak dalam perkembangan
masyarakat adalah proses belajar masyarakat atau rasionalisasi, yang da
akhirnya sampai pada keadaan normatif ideal dari tatanan masyarakat yang
didasarkan atas konsensus melalui perbincangan rasional dari adanya suatu Perbincangan
rasional yang demikian mensyaratkan masyarakat
yang terbebas dari segala bentuk dominasi dan kekuasaan. Inilah yang disebut
sebagai komunikasi emansipatoris yang membawa ke arah kesadaran diri serta
otonomi dan kedewasaan diri.
Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012.
Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar