Selasa, 27 Desember 2016

Gugatan Epistemologi Liberatif Ashgar Ali Engineer

Semua dogma teologi yang berkembang pada abad pertengahan, mulai dari periode Abbasiyah, Mu'tazilah dan Isma'iliyah dengan teologi rasionalnya, sekte Qaramithah cabang dari Ismaili dengan teologi revolusionernya, dan Khawarij dengan teologi anti kemapanannya, dianggap oleh mainstream ulama ortodoks sebagai bid'ah dan tidak memberikan pengaruh apa pun terhadap teologi Islam. Tetapi bagi Asghar, iran ini sangat membantu dalam mengembangkan proyek teologi pembebasannya. Teologi pembebasan menekankan pada kebebasan, persamaan (egalitarianism) dan keadilan distributif serta menolak keras penindasan, penganiayaan dan eksploitasi manusia oleh manusia. Teologi pembebasan dibedakan Asghar dengan teologi rasional yang pernah dikembangkan oleh Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh, dan lain-lain. Menurut pendapat Asghar, teologi pembebasan tidak membatasi diri pada dunia pemikiran murni dan spekulatif tetapi memperluas ruang lingkupnya sebagai instrumen yang paling kuat untuk membebaskan umat dari cengkeraman para penindas. Dengan semangat revolusioner, teologi pembebasan dapat mengilhami seseorang untuk menghadapi tirani, eksploitasi dan penganiayaan, agar kehidupan kaum lemah yang tertindas bisa berubah menjadi lebih baik.

Teologi pembebasan secara esensial merupakan teologi yang mungkin. Teologi pembebasan mempertahankan kesatuan manusia, dan tidak mentoleransi pembedaan berdasarkan kasta, kelompok, kelas ataupun ras. Karakteristik utama teologi pembebasan adalah pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan persoalan bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia dengan menyusun kembali tatanan sosial sekarang ini menjadi tatanan yang adil, egaliter, dan tidak eksploitatif. Dalam pandangan Asghar, teologi pembebasan harus mendorong sikap kritis terhadap sesuatu yang sudah baku dan harus terus berusaha secara konstan untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru. Kehidupan dengan suatu kekayaan spiritual tidak bisa hidup dalam masyarakat satu dimensi yang menolak usaha apa pun untuk keluar dan merealisasikan kemungkinan-kemungkinan baru untuk memperkaya dimensi-dimensi baru.
Teologi yang berkembang selama abad pertengahan, diyakini Asghar, tidak bisa melayani kebutuhan masyarakat modern yang sangat kompleks. Masyarakat industri telah menimbulkan perubahan-perubahan cepat dalam bidang material dan ilmu pengetahuan Asghar mengemukakan bahwa teologi hanya akan bermanfaat bagi tujuan-tujuan kemanusiaan bila teologi itu berangkat dari kondisi kemanusiaan itu sendiri. Proyek ilahiah yang ingin dicapai teologi di bumi, membangun idealitas-idealitas tertinggi yang dipahami oleh dan untuk manusia. Proyek yang dijelaskan secara detail oleh para teolog hanya bisa dicapai tujuannya dengan penciptaan kembali realitas yang sama dengan tujuan untuk memberantas kejahatan yang diduga sebagai bentuk vested interest yang kuat untuk menentang perubahan demi kebaikan umat manusia. Tujuan-tujuan ilahiah benar-benar terkristal waktu, tetapi tidak isasikan melalui kondisi-kondisi ruang dan bisa dibatasi padanya. Ia melampaui ruang dan waktu, dan hal itu hanya mungkin dengan menghubungkan tujuan-tujuan tersebut dengan kondisi kondisi yang berubah secara kreatif. Teologi mewujudkan kemampuan yang bisa direalisasikan dalam situasi situasi tertentu. Kontekstualisasi teologi sama pentingnya dengan aspek-aspek metafisiknya yang sublime (Gonzales, 1980: 13).
Unsur dasar teologi pembebasan adalah konsep kebebasan. Kebebasan untuk memilih dan mentransendensikan diri menuju kondisi kehidupan yang lebih baik dan untuk menghubungkan dirinya dengan kondisi yang berubah-ubah secara signifikan (Migliore, 1980: 99). Teologi pembebasan memberikan manusia kebebasan ini untuk melampaui situasi kekiniannya dalam rangka mengaktualisasikan potensi-potensi kehidupan yang baru dalam kerangka kerja sejarah. Teologi pembebasan bukan teologi pelipur lara, melainkan teologi perjuangan. Pada dasarnya, gugatan epistemologis liberatif Asghar tidak hanya ditujukan pada tema teologi konvensional, syariah statis yang merugikan hak-hak perempuan dalam Islam, atau pun konsep hudud saja, tetapi juga diarahkan pada hampir semua persoalan hidup mulai dari aspek sosio-ekonomi, fundamentalisme Islam, dan sebagainya. Kendati dimensi praksis-liberatif lebih dominan dalam pemikiran Asghar, tetapi ketajaman nalar praksis-liberatif. revolusionernya secara meyakinkan diakui dalam gerakan teologi pembebasan dunia dan dapat disejajarkan dengan para teolog pembebasan dunia, seperti Gustavo Gutierrez dari Peru ataupun Juan-Luis Segundo dari Uruguay.



Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar