Semua
dogma teologi yang berkembang pada abad pertengahan, mulai dari periode
Abbasiyah, Mu'tazilah dan Isma'iliyah dengan teologi rasionalnya, sekte
Qaramithah cabang dari Ismaili dengan teologi revolusionernya, dan Khawarij
dengan teologi anti kemapanannya, dianggap oleh mainstream ulama ortodoks
sebagai bid'ah dan tidak memberikan pengaruh apa pun terhadap teologi Islam.
Tetapi bagi Asghar, iran ini sangat membantu dalam mengembangkan proyek teologi
pembebasannya. Teologi pembebasan menekankan pada kebebasan, persamaan
(egalitarianism) dan keadilan distributif serta menolak keras penindasan,
penganiayaan dan eksploitasi manusia oleh manusia. Teologi pembebasan dibedakan
Asghar dengan teologi rasional yang pernah dikembangkan oleh Jamaluddin
Afghani, Muhammad Abduh, dan lain-lain. Menurut pendapat Asghar, teologi
pembebasan tidak membatasi diri pada dunia pemikiran murni dan spekulatif tetapi
memperluas ruang lingkupnya sebagai instrumen yang paling kuat untuk
membebaskan umat dari cengkeraman para penindas. Dengan semangat revolusioner,
teologi pembebasan dapat mengilhami seseorang untuk menghadapi tirani,
eksploitasi dan penganiayaan, agar kehidupan kaum lemah yang tertindas bisa
berubah menjadi lebih baik.
Teologi
pembebasan secara esensial merupakan teologi yang mungkin. Teologi pembebasan
mempertahankan kesatuan manusia, dan tidak mentoleransi pembedaan berdasarkan
kasta, kelompok, kelas ataupun ras. Karakteristik utama teologi pembebasan
adalah pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan persoalan bipolaritas
spiritual-material kehidupan manusia dengan menyusun kembali tatanan sosial
sekarang ini menjadi tatanan yang adil, egaliter, dan tidak eksploitatif. Dalam
pandangan Asghar, teologi pembebasan harus mendorong sikap kritis terhadap sesuatu
yang sudah baku dan harus terus berusaha secara konstan untuk menjelajahi
kemungkinan-kemungkinan baru. Kehidupan dengan suatu kekayaan spiritual tidak
bisa hidup dalam masyarakat satu dimensi yang menolak usaha apa pun untuk
keluar dan merealisasikan kemungkinan-kemungkinan baru untuk memperkaya dimensi-dimensi
baru.
Teologi
yang berkembang selama abad pertengahan, diyakini Asghar, tidak bisa melayani
kebutuhan masyarakat modern yang sangat kompleks. Masyarakat industri telah
menimbulkan perubahan-perubahan cepat dalam bidang material dan ilmu
pengetahuan Asghar mengemukakan bahwa teologi hanya akan bermanfaat bagi tujuan-tujuan
kemanusiaan bila teologi itu berangkat dari kondisi kemanusiaan itu sendiri.
Proyek ilahiah yang ingin dicapai teologi di bumi, membangun idealitas-idealitas
tertinggi yang dipahami oleh dan untuk manusia. Proyek yang dijelaskan secara
detail oleh para teolog hanya bisa dicapai tujuannya dengan penciptaan kembali realitas
yang sama dengan tujuan untuk memberantas kejahatan yang diduga sebagai bentuk
vested interest yang kuat untuk menentang perubahan demi kebaikan umat manusia.
Tujuan-tujuan ilahiah benar-benar terkristal waktu, tetapi tidak isasikan
melalui kondisi-kondisi ruang dan bisa dibatasi padanya. Ia melampaui ruang dan
waktu, dan hal itu hanya mungkin dengan menghubungkan tujuan-tujuan tersebut
dengan kondisi kondisi yang berubah secara kreatif. Teologi mewujudkan kemampuan
yang bisa direalisasikan dalam situasi situasi tertentu. Kontekstualisasi
teologi sama pentingnya dengan aspek-aspek metafisiknya yang sublime (Gonzales,
1980: 13).
Unsur
dasar teologi pembebasan adalah konsep kebebasan. Kebebasan untuk memilih dan
mentransendensikan diri menuju kondisi kehidupan yang lebih baik dan untuk
menghubungkan dirinya dengan kondisi yang berubah-ubah secara signifikan (Migliore,
1980: 99). Teologi pembebasan memberikan manusia kebebasan ini untuk melampaui situasi
kekiniannya dalam rangka mengaktualisasikan potensi-potensi kehidupan yang baru
dalam kerangka kerja sejarah. Teologi pembebasan bukan teologi pelipur lara,
melainkan teologi perjuangan. Pada dasarnya, gugatan epistemologis liberatif
Asghar tidak hanya ditujukan pada tema teologi konvensional, syariah statis yang
merugikan hak-hak perempuan dalam Islam, atau pun konsep hudud saja, tetapi
juga diarahkan pada hampir semua persoalan hidup mulai dari aspek
sosio-ekonomi, fundamentalisme Islam, dan sebagainya. Kendati dimensi
praksis-liberatif lebih dominan dalam pemikiran Asghar, tetapi ketajaman nalar
praksis-liberatif. revolusionernya secara meyakinkan diakui dalam gerakan
teologi pembebasan dunia dan dapat disejajarkan dengan para teolog pembebasan
dunia, seperti Gustavo Gutierrez dari Peru ataupun Juan-Luis Segundo dari
Uruguay.
Referensi
: Santoso, Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar