Selasa, 27 Desember 2016

Imperialisme MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN ditegaskan melalui Keputusan presiden No 37 tahun 2014 tentang Komite Persiapan Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN. MEA akan berlaku pada Desember 2015. Idealitas MEA sebagaimana disepakati oleh para pemimpin ASEAN.

  1. Kawasan pasar bersama berbasis produksi.
  2. Kawasan ekonomi yang kompetitif.
  3. Kawasan pembangunan ekonomi yang merata
  4. Kawasan yang terintegrasi dalam ekonomi global.
Kondisi tersebut merupakan tindak lanjut kerjasama regional yang sudah terjadi pada dekade sebelumnya yang terjadi di Eropa, yakni MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa). Di Asia tenggara, tindak lanjut tersebut memiliki kelemahan-kelemahan mencolok: Kondisi MEA adalah sebuah praktik imperialisme kapital. Pada masa Prakolonial, imperialisme dilakukan oleh para agen-agen kerjaan. Pada masa kolonial, imperialisme dilakukan oleh agen rasialisme yang mengatasnamakan diri sebagai negara-bangsa. Pada masa poskolonial, imperialisme dilakukan oleh kaum Masalah-masalah yang terjadi dalam kondisi global memperlihatkan adanya kesenjangan secara kultural pada masing-masing negara. Faktanya Singapura 25.207 USD per tahun dibanding dengan Myanmar yang hanya 166 USD. Kesenjangan tersebut menghasilkan kesenjangan budaya, politik, dan produk-produk ekonomi. Kondisi kondisi tersebut menghasilkan sebuah tatanan dunia baru dalam praktik imperialisme yang melibatkan ratusan aktor didunia dalam segala masa. Karena itu, konsep Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah sebuah praktik imperialisme dari kaum pemodal yang mengatasnamakan perdagangan bebas. Bagaimana Inovasi Dimungkinkan? Masyarakat yang berkembang pada masa kini dapat dirumuskan melalui konsepsi Anthony Giddens sebagai berikut: Masyarakat minder yang pragmatis.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat konsumer atas segala produk di dunia. Itulah yang kemudian dinamakan dengan globalisasi. Produk-produk kultural yang berasal dari asing dianggap lebih bernilai ketimbang produk yang berada di dalam negeri. Fakta-fakta yang muncul menunjukkan perasaan inferioritas kompleks yang menghinggapi mental warga bangsa dalam praktik komunikasi. Sebagai contoh, praktik berbahasa di dalam dunia ekonomi tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat berbahasa utama, tetapi hanya sebagai pelengkap dari cara bertutur yang memanfaatkan bahasa asing semakin asing maka semakin baik Praktik komunikasi di tengah masyarakat mengalami penyederhanaan melalui pencitraan. Dampak dari tersebut praktik dalam kegiatan kultural adalah sebuah kegiatan yang melibatkan fasilitas yang ada di dalam media sosial. Kehidupan direduksi didalam dan dinilai dari model pemunculan di serat optic Kabinet Kerja berorientasi.  Target operasionalisasi pemerintahan yang terjadi sekarang ini memanfaatkan rasionalitas yang berorientasi pada keuntungan.Segala kesempatan dilakukan agar menjadi uang. Rasionalisasi dilakukan di berbagai departemen pemerintahan berdasarkan Surat Edaran Menteri Koordinator. Apakah Ada Jalan Keluar?
Kurikulum 2013 harus memiliki keberpihakan politik ideologi Selama ini praktik pendidikan di Indonesia mengandalkan rasionalitas inovasi (growth mind), tetapi mengabaikan pengem bangan ideologi yang berasal dari fixed mind). Pentingnya memahami konsep dasar MEA sebagai perluasan dari imperialisme pascakolonial dengan pelaku adalah kaum kapitalis multinasional. Dasar filosofisnya adalah ketamakan.Pendidikan Inovatif dimulai dari pembangunan mental percaya diri bagi setiap subjek pendidikan. kita membutuhkan para aktor yang berpikir secara ektrem dalam konteks inovatif Pemikiran yang didasarkan pada koridor konvensional akan menghasilkan para medioker yang tidak memberikan sumbangan banyak bagi pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Jalan keluar tersebut akan mengakibatkan struktur kebijakan pendidikan berubah. Dengan begitu, perubahan tidak sekadar tertuju pada kebijakan secara umum, tetapi juga hingga materi pendidikan yang mengikutsertakan konteks trans-nasional yang kian mendesak. Pendidikan kewargaan dalam kontek ASEAN sangat diperlukan bagi peserta didik karena mereka akan mampu menjawabpersoalan-persoalan yang akan datang dengan pola pikir yang sudah tertanam.



Referensi : Rohman, Saifur dan Wibowo, Agus. 2016. Filsafat Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar