Pertama,
pemikiran Feyerabend tentang anarkisme epistemologis dilatarbelakangi oleh
setting sosio-historis dan sosio-kultural. Dominasi paradigma positivistik yang
melihat bahwa sesuatu yang ilmiah adalah yang dapat diverifikasi melalui
observasi, dan eksperimen di laboratorium sehingga memiliki nilai kebenaran
yang tidak tergoyahkan. Semua yang ada di luar itu dinilai tidak ilmiah.
Kedua,
anarkisme epistemologis yang dimaksudkan oleh Feyerabend adalah suatu gerakan
protes teoretis terhadap metode keilmuan yang dianggap mampu mentotalisasi
obyek penelitian. Bagi Feyerabend, setiap ilmu pengetahuan terbentuk
berdasarkan kemampuan dan sejarahnya sendiri-sendiri, sehingga klaim ilmiah pada
ilmu tertentu hanya sebagai mitos yang diideologisasikan Maka, yang terpenting
bukan mono-metodologi tetapi pluri-metodologi.
Ketiga
pemikiran Feyerabend tentang anarkisme epistemologis, berimplikasi dalam
pengembangan ilmu bahwa seorang ilmuwan harus membebaskan diri dari
metode-metode yang telah ada. Karena perkembangan ilmu pengetahuan sebenarnya
terjadi karena adanya kreativitas individual, maka dari itu anything goes,
metode atau sistem apa pun boleh dipakai agar manusia terbebas dari tirani yang
memasung kreativitas tersebut.
Referensi
: Santoso, Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar