Selasa, 27 Desember 2016

Globalisasi dari Desa ke Kota

Banyak orang di dunia yang saat ini masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil, di pedesaan, dan pulau-pulau terpencil, tetapi sejalan dengan peningkatan populasi yang berjalan cepat terjadilah perpindahan besar-besaran ke perkotaan. Pertumbuhan yang terjadi selama lima puluh tahun saja cukup mencengangkan, dari 732 juta di perkotaan pada tahun 1950 menjadi 3,5 miliar pada tahun 2005. Pada saat pertama kali muncul perkotaan -di Timur Tengah dan lainnya- hanya ada sekelompok kecil dari populasi dunia yang ada di dalamnya. Pada tahun 1700, London -kota terbesar di Eropa- secara mengejutkan memiliki jumlah penduduk yang mencapai setengah juta orang. Sekarang jumlahnya bertahan pada angka sekitar tujuh setengah juta jiwa (dan sekitar empat belas juta jiwa sebagai kota metropolitan). Kota ini merupakan kota utama di dunia untuk berbelanja- tetapi hanya menempati tingkatan ke-25 dari kota-kota di dunia.

Ada kota-kota yang lebih besar di mana-mana: pada tahun 2000, ada lebih dari 250 kota dengan populasi di atas satu juta jiwa. Kota-kota megapolitan memiliki populasi di atas 8 juta jiwa: Tokyo memiliki kurang lebih 35 juta jiwa dan New York kurang lebih 18 juta jiwa. Asia dan Afrika adalah benua dengan paling banyak wilayah pedesaan saat ini, akan tetapi diperkirakan akan memiliki populasi perkotaan hingga dua kali lipat pada tahun 2030, yaitu kurang lebih 3,4 miliar jiwa. Mumbai, Meksiko, São Paulo, Delhi, Shanghai Jakarta telah siap benar untuk mencapai angka dua kali lipat. Empat puluh persen dari populasi Afrika telah hidup di perkotaan -sekitar 350 juta adalah penduduk kota asli (jika digabung jumlah lebih dari itu ada di Kanada dan Amerika Serikat).
Mike Davis, seorang pakar sosiologi politik yang populer, menuliskan sebuah buku yang menceritakan bahwa dunia ini Sekarang menjadi sebuah Planet of slums (Planet bagi Perkampungan Kumuh) -dunia yang berisikan kota-kota kecil yang kotor dan favelas (kumuh) digambarkan dengan baik dalam film-film seperti film peraih Oscar karya Danny Boyle Slumdog Millionaire (2008) atau film Fernando Meirelles dan Kátia Lund, City of God (2002). Latar belakang cerita ini adalah di daerah-daerah yang sangat miskin, penuh kekerasan, dan padat di Mumbai dan Rio de Janiero -cerita-cerita yang menggambarkan perjuangan sehari-hari untuk dapat bertahan hidup. Telah lama para sosiolog menaruh perhatian besar pada bagaimana kota mengembangkan bentuk-bentuk baru kehidupan sosial, dan sering kali berbahaya bagi kelangsungan hidup.


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers



Tidak ada komentar:

Posting Komentar