Banyak
orang di dunia yang saat ini masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil, di
pedesaan, dan pulau-pulau terpencil, tetapi sejalan dengan peningkatan populasi
yang berjalan cepat terjadilah perpindahan besar-besaran ke perkotaan.
Pertumbuhan yang terjadi selama lima puluh tahun saja cukup mencengangkan, dari
732 juta di perkotaan pada tahun 1950 menjadi 3,5 miliar pada tahun 2005. Pada
saat pertama kali muncul perkotaan -di Timur Tengah dan lainnya- hanya ada
sekelompok kecil dari populasi dunia yang ada di dalamnya. Pada tahun 1700,
London -kota terbesar di Eropa- secara mengejutkan memiliki jumlah penduduk
yang mencapai setengah juta orang. Sekarang jumlahnya bertahan pada angka
sekitar tujuh setengah juta jiwa (dan sekitar empat belas juta jiwa sebagai
kota metropolitan). Kota ini merupakan kota utama di dunia untuk berbelanja-
tetapi hanya menempati tingkatan ke-25 dari kota-kota di dunia.
Ada
kota-kota yang lebih besar di mana-mana: pada tahun 2000, ada lebih dari 250
kota dengan populasi di atas satu juta jiwa. Kota-kota megapolitan memiliki
populasi di atas 8 juta jiwa: Tokyo memiliki kurang lebih 35 juta jiwa dan New
York kurang lebih 18 juta jiwa. Asia dan Afrika adalah benua dengan paling
banyak wilayah pedesaan saat ini, akan tetapi diperkirakan akan memiliki
populasi perkotaan hingga dua kali lipat pada tahun 2030, yaitu kurang lebih 3,4
miliar jiwa. Mumbai, Meksiko, São Paulo, Delhi, Shanghai Jakarta telah siap
benar untuk mencapai angka dua kali lipat. Empat puluh persen dari populasi
Afrika telah hidup di perkotaan -sekitar 350 juta adalah penduduk kota asli (jika
digabung jumlah lebih dari itu ada di Kanada dan Amerika Serikat).
Mike
Davis, seorang pakar sosiologi politik yang populer, menuliskan sebuah buku yang menceritakan bahwa
dunia ini Sekarang menjadi sebuah Planet of slums (Planet bagi Perkampungan Kumuh)
-dunia yang berisikan kota-kota kecil yang kotor dan favelas (kumuh)
digambarkan dengan baik dalam film-film seperti film peraih Oscar karya Danny
Boyle Slumdog Millionaire (2008) atau film Fernando Meirelles dan Kátia Lund,
City of God (2002). Latar belakang cerita ini adalah di daerah-daerah yang
sangat miskin, penuh kekerasan, dan padat di Mumbai dan Rio de Janiero
-cerita-cerita yang menggambarkan perjuangan sehari-hari untuk dapat bertahan
hidup. Telah lama para sosiolog menaruh perhatian besar pada bagaimana kota
mengembangkan bentuk-bentuk baru kehidupan sosial, dan sering kali berbahaya bagi
kelangsungan hidup.
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar