1.
Konsep
Dasar Ilmu-Ilmu Sosial
Menurut Dorothy
J. Skeel “Konsep adalah sesuatu yang tergambar dalam pikiran-suatu pemkiran,
gagasan atau suatu pengertian.” Sedangkan James G. Womack Mengemukakan sebagai
berikut “Konsep Studi sosial (IPS) yaitu suatu kata atau ungkapan yang
berhubungan dengan sesuatu yang menonjol, sifat yang melekat. Pemahaman dan
penggunaan konsep yang tepat bergantung pada penguasaan sifat yang melekat
tadi, pengertian umum kata yang bersangkutan. Konsep memiliki pengertian denotatif
dan juga pengertian konotatif.”.
Pengertian
denotatif adalah pengertian berdasarkan arti katanya yang dapat digali dalam
kamus, sedangkan pengertian konotatif adalah pengertian yang berperan kunci
atau menonjol pada suatu konteks. Konsep yang memiliki penegertian dasar pada
suatu bidang ilmu sosial disebut konsep dasar.
A.
Geografi
Dari asal
katanya, geografi berakar dari kata geo berarti bumi dan graphein berarti
tulisan atau lukisan, jadi secara harfiah berarti lukisan tentang bumi. Menurut
Council of the Geographical Association geografi berkenaan dengan dunia nyata,
dunia yang dipelajari seseorang dengan baik melalui sol sepatu atau kaki
telanjang, atau dengan mengendarai kereta api, perahu, mobil atau pesawat
terbang, dan melalui lukisan atau gambar atau cara lain. Namun demikian
penelaahan geografi tidak berakhir pada hal-hal yang terlihat dari luar.
Penelaahan tersebut menampakan demikian yang dipandang sebagai keseluruhan yang
menghubungkan bagian-bagian yang telah menjadi apa adanya. Hal itu meliputi
hubungan dengan ilmu kealaman. Berkenaan dengan cara bagaimana hal-hal tadi
telah mempengaruhi manusia, dan kebalikannya telah dimodifikasi, diubah dan
diataptasi oleh tindakan manusia.
Menurut seminar
dan Lokakarya Seminar Nasional Peningkatan Kualitas pengajaran Geografi di
Semarang Th 1988 yaitu : “Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan
dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang linkungan atau kewilayahan
dalam konteks keruangan”. Dari pengertian tersebut dapat diketengahkan bahwa
geografi berkenaan dengan (1) geosfer atau permuakaan bumi, (2) alam lingkungan
(atmosfer, litosfer hidrosfer, biosfer), (3) umat manusia atau antroposfer, (4)
persebaran keruangan fenomena alam dan kkehidupan termasuk persamaan serta
perbedaannya, dan (5) anlilis hubungan serta interaksi keruangan fenomena
–fenomenanya di permukaan bumi.
Rincian konsep
dasar itu sebagai berikut, Getrude Whipple mengungkapka lima konsep dasar yaitu
:
1.
Bumi
sebagai planet.
2.
Variasi
cara hidup.
3.
Variasi
wilayah-wilayah alamiah.
4.
Makna
wilayah bagi manusia.
5.
Pentingnya
lokasi dalam memahami peristiwa dunia.
Sedangkan Henry J. Warman
mengemukakan 15 konsep dasar sebagai berikut
1.
Konsep
kewilayahan atau konsep regional.
2.
Konsep
lapisan kehidupan atau kehidupan atau konsep biosfer.
3.
Konsep
manusia sebagai faktor ekologi yang dominan.
4.
Konsep
globalisme atau konsep bumi sebagai planet.
5.
Konsep
interaksi keruangan.
6.
Konsep
hubungan areal.
7.
Konsep
persamaan areal.
8.
Konsep
perbedaan areal.
9.
Konsep
keunikan areal.
10.
Konsep
persebaran areal.
11.
Konsep
lokasi relative.
12.
Konsep
keunggulan komparatif.
13.
Konsep
perubahan yang terus menerus atau perbahan abadi.
14.
Konsep
sumber daya dibatasi secara budaya.
15.
Konsep
bumi yang bundar di atas kertas yang datar atau konsep peta.
B.
Sejarah
Sejarah menurut
Hugiono dan P.K. Poerwantana mendefinisikan sejarah sebagai berikut “sejarah
adalah gambaran tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang dialami manusia,
disusun secara ilmiah, meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan analisis
kritis sehingga mudah dimengerti dan dipahami”. Sedangkan Sartono Kartodirjo
secara singkat mengkonsepkan “sejarah sebagai pelbagai bentuk penggambaran
pegalaman kolektif pada masa lampau.” Dan pada sisi lain Ephrain Fishcoff
mengemukakan “sejarah adalah riwayat tentang masa lampau atau suatu bidang ilmu
yang menyelidiki dan menuturkan riwyat itu sesuai denagn metode tertentu yang
terpercaya.”
Berdasarkan
konsep tersebut kunci dalam pengertian sejarah terletak pada masa lampau, baik
berupa peristwa, pengalaman kolektif maupun riwayat masa lampau tersebut yang
tidak hanya digambarkan ataupun dinarasikan sebagai suatu fakta, tapi
ditafsirka dan dianalisis. Sehingga sejarah tidak hanya menjadi pengetahuan
tapi memenuhi syarat sebagaia ilmu yaitu ilmu sosial.
Sejarah bidang
lmu sosial memliki konsep dasar yang menjadi karakter dirinya, dan yang dapat
dibina pada diri kita masing-masing, terutama pada diri peserta didik.
Konsep-konsep dasar itu adalah:
1.
Waktu.
2.
Dokumen.
3.
Alur
peristiwa.
4.
Kronologi.
5.
Peta.
6.
Tahap-tahap
peradaban.
7.
Ruang.
8.
Evolusi.
9.
Revolusi.
Secara Objektif
peristiwa di masa lampau tidak dapat diulng kembali. Namun dapat direkontruksi
kembali dengan menerapkan suatu metode. Hasil rekontruksi itu tidak merupakan
duplikat sebagaimana aslinya. Namun paling tidak secara mencolok. Hal-hal yang
berulang dari sejarah merupakan ksedaran dari manusia sebagai pengalaman masa
lamapau, terutama dengan peritiwa yang membawa laknat bagi kehidupan umat
manusia. Sedangkan peristiwa sejarah itu tidak dapat diulang kembali telah
menjadi fakta sejarah.
Dari peristiwa
dan pengalaman masa lalu dihubungkan dengan kejadian hari ini, kita dapat
mengetahui dan mengkaji perkembangan. Dan dari perkembangan tersebut, kita
dapat memprediksi kejadian pada masa yang akan datang. Karena mengkaji sejarah
bukan kegiatan yang statis, namun dinamis dan berkesinambungan.
C.
Antropologi
Konsep
kebudayaan menurut C.P. Kottak yaitu: “ semua populasi manusia mempunyai
kebudayaan, yang menjadi milik umumyang merekat jenis manusia. Kebudayaan
inilah yang secara umum merupakan kemampuan yang hanya dimiliki oleh jenis
manusia. Akhirnya dapat dikemukakan ada budaya belajar, yang secara unik bergantung
pada pengembangan kemampuan manusia menggunakan lambang, isyarat yang tidak
dimiliki kepentingan atau hubungan almiah dengan hal-hal di pihak manusia
sendiri.”
Budaya belajar
yang dikemukakakn Kottak tadi ialah yang membawa kemajuan yang sangat pesat pada
diri manusia terutama selama abad-abad terakhir ini. Budaya belajar, kemampuan
akal-pikiran yang berkembang dan dapat dikembangkan, menjadi landasan
pelaksanaan pendidikan yang membawa kemajuan manusia dengan segala aspek serta
unsur kebudayaan.
Kebudayaan
sebagai konsep dasar secara langsung telah ditelaaah berdasarkan pembahasan
diatas. Tradisi tidak lain dalah kebiasaan yang terpolakan secara budaya di
masyarakat. Kebiasaan ini telah berlangsung secara turun temurun, sukar untuk
terlepas dari masyarakat. Namun dengan adanya pengaruh komunikasi dan informasi
yang terus-menerus melanda masyarakat, tradisi akan menaglami pergeseran.
Paling tidak fungsinya tetap bila dibandingkan dengan maksud semual dalam
konteks kebudyaan masa lalu.
Dalam lingkup
antropologi dan kebudayaan, pengetahuan, ilmu dan teknologi merupakan konsep
dasar yang terkait dengan budaya belajar. Tiga konsep tersebut saat ini biasa
dijadikan satu sebagai IPTEK. Penyatuan tersebut sangat beralasan karena
ketiganya sangat erat satu sama lain. Jika pengetahuan merupakan kumulasi dari
pengalaman-pengalaman yang kita ketahui, sedangkan ilmu merupakan pengetahuan
tersusun yang berkarakter tertentu sesuai dengan objek yang dipelajari, ruang
lingkup telaahannya, dan metode yang dikembangkan serta diterapkannya.
Pengetahuan yang menjadi bidang ilmu, sifatnya masih acak. Adapun penerapan
ilmu dalam kehidupan untuk memanfaatkan sumber daya bagi kepentingan manusia,
itulah yang kita sebut teknologi.
Konsep lain
yang memegang peranan kunci dalam kehidupan masyarakat dan budaya adalah nilai
serta norma. Nilai dengan norma erat sekali kaitannya, namun demikian memiliki
perbedaan yang mendasar. Dalam alam pikkran manusia sebagai anggota masyarakat
melekat apa yang dikatakan baik dan buruk dan sebagainya. Hal itu yang
mengatur, membatasi dan menjaga keserasian hidup bermasyarakat.
Pada tingkat
yang lebih tinggi kita juga mengenal pranata yang merupakan salah satu konsep
dasar dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Koentjaraningrat
mencontohkan pranata berfungsi memenuhi kebutuhan perkawinan, tolong-menolong,
anatrkerabat, dsb. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan mata pencarian,
yaitu pertanian, peternakan, industri, perdagangan, dsb.
Bahasa sebagai
suatu konsep dasar, memiliki pengertian kognitif yang luas. Bahasa sebagai
suatu konsep, bukan hanya sekedar rangakaian kalimat tertulis maupun lisan,
melainkan jauh dari itu. Meliputi pengertian bahasa sebagai bahasa anak, bahasa
remaja, bahasa orang dewasa, dst. Makna dan nilai suatu bahasa suatu konsep
terletak pada kedudukannya sebagai alat mengungkapkan perasaan, pikiran, dan
komnikasi dengan pihak atau orang lain.
D.
Sosiologi
Sosiologi
adalah isitilah yang berasal dari kata lain ‘socius’ yang artinya teman dan
‘logos’ dari kata yunani yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan
August Comte.
Para ilmuan
berupaya membangun teori berdasarkan ciri hakiki masyarakt pada tiga tahap
peradaban manusia. Tiga tahap itu adalah:
1.
Tahap
teologis: dalam tahap ini tingkat pemikiran manusia masih meyakini semua benda
di dunia mempunyai jiwadan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di
atas manusia
2.
Tahap
metafisis: dalam tahap ini manusia menganggap di dalam setiap gejala terdapat
kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya dapat diungkapkan.
3.
Tahap
positif: Dalam tahap ini manusia mulai berpikir secara ilmiah.
Konsep-konsep dasar sosiologi yaitu:
1.
Interaksi
sosial.
2.
Sosialisasi.
3.
Kelompok
sosial.
4.
Pelapisan
sosial.
5.
Proses
sosial.
6.
Perubahan
sosial.
7.
Mobilisasi
sosial.
8.
Modernisasi.
9.
Patologi
sosial.
10.
Dan konsep-konsep
lain yang dapat digali sendiri dari kenyataan dan proses kehidupan sehari-hari.
Interaksi
sosial sebagai konsep dasar sosiologi selalu dialami oleh tiap individu dan
selalu terjadi di masyarakat. Manusai sebagai anggota masyarakat, dilandasi oleh
berbagai kebutuhan, selalu melakukan interaksi, baik interaksi edukatif,
interaksi tersebut termasuk interkasi sosial.
Seorang
individu, terutama yang masih muda sebelum berinteraksi sosial lebih dahulu
mengalami sosialisasi, yaitu proses penanaman nilai dan pembelajaran norma
sosial dalam rangaka pengembangan kepribadian individu yang bersangkutan.
Dimulai dari keluarga, kelompok permainan, para tetangga, sekolah sampai
masyarakat yang lebih luas. Selama kepribadian seseorang itu berkembang,
sosialisasi itu terus dialaminya.
Interaksi
sosial antara seoarang dengan yang lainnya terjadi dalam kelompok, apakah itu
keluarga, teman sepermainan ataupun para tetangga. Kelompok itu itu atau lebih
tepat kelompok sosial tempat terjadinya interaksi antarindividu, tidak lain
adalah kumpulan manusia paling tidak terdiri atas dua orang, namun lebih dari
itu, telah saling mengenal dalam waktu yang relatif lama, ada kaitan rasa
senasib, diikat oleh nilai dan norma yang sama, serta memiliki rasa persatuan.
Dalam kelompok
sosial terdapat pelapisan sosial, yang ditunjukan oleh pengelompokan anggotanya
berdasarkan ikatan persamaan tertentu seperti pendidikan, ekonomi, mata
pencaharian, susku bangsa dan lain-lainnya.
Dalam kelompok
sosial, terjadi proses sosial yang dialami oleh per orang atau oleh kelompok
secara keseluruhan dan tidak akan pernah berhenti. Masyarakat, cepat atau
lambat, selalu beranjak dari tingkat terbelakang ke tingkat berkembang sampai
menjadi masyarakat modern. Sebagai akibat terjadinya proses sosial ini, terjadi
pula perubahan sosial yaitu perubahan yang dialami oleh sebagian besar anggota
masyarakat yang bersangkutan. Apabila proses sosial dan perubahan soaial
mengarah pada kemajuan, masyarakat tersebut mengalami modernisasi. Konsep ini
sangat bermakna dalam menelaah kemajuan suatu kelompok sosial.
Sebagai akibat
dari proses sosial, perubahan sosial, dan modernisasi maka aka terjadi
perubahan status lapisan bawah ke atas atau sebaliknya, yang disebut dengan
mobilitas sosial. Jika mobilitas tersebut dari atas ke bawah atau sebaliknya
maka disebut mobilitas vertikal. Jika setara atau mendatar seperti dari petani
jadi pedagang, dsb maka ini termasuk mobilitas horizontal.
Dalam kehidupan
sosial tidak selalu seimbang dan serasi. Terdapat hal-hal yang dianggap sebagai
penyakit masyarakat seperti kejahatan, pengangguran, pelacuran, dll yang
disebut sebagai patologi sosial.
E.
Psikologi
sosial
Interaksi
sosial manusia di masyarakat tidak dapat dilepaskan dari fenomena kejiwaan yang
timbul dari orang per orang dan dalam kelompok. Reaksi emosional, sikap,
kemuan, kemauan, perhatian, motivasi, harga diri dan sebangsanya sebgai
fenomena kejiawaan yang tercermin pada perilaku orang per orang serta kelompok
tadi, merupakan fenomena yang melekat pada kehidupan berbudaya dan bermasyarakat.
Perilaku kejiwaan dalam koteks sosial ini, merupakan objek kajian psikologi
sosial.
Psikologi
sosial menurut Ahrold A. Phelps : Psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah
tentang proses mental sebgai makhluk sosial”. Jadi Objek yang dipelajari
meliputi perilaku manusia dalam konteks sosial yang terungkap pada perhatian,
minat, kemauan, kemauan, siakap mental, reaksi emosional, harga diri,
kecerdasan, penghayatan, kesadaran, dst.
Psikologi
sebagai salah satu bidang ilmu sosial, berperan strategis dalam mengamati,
menelaah, menganalisis, menarik, kesimpulan dan memberi arahan alternatif
terhadap masalah sosial yang merupakan ungkapan aspek kejiwaan.
Konsep-konsep
dasar dalam ilmu sosial yaitu:
1.
Emosi
terhadap objek sosial.
2.
Perhatian.
3.
Minat.
4.
Kemauan.
5.
Motivasi.
6.
Kecerdasan
dalam menanggapi persoalan sosial.
7.
Penghayatan.
8.
Kesadaran.
9.
Harga
diri.
10.
Sikap
mental.
11.
Kepribadian.
12.
Masih
banyak fenomena kejiwaan yang lain yang dapat kita gali lebih lanjut.
Tiap individu
yang normal, memiliki potensi yang berkembang dan dapat dikembangkan. Kadar
potensi tadi bervariasi antara seseorang dengan yang lainnya bergantung pada
kondisi kesehatan, baik mental-psikologisnya. Selain itu, faktor lingkungan
dalam arti yang seluas-luasnya juga sangat berpengaruh. Emosi dan reaksi
emosional dengan pengendaliannya, sangat penting kedudukannya dalam kehidupan
sosial termasuk dalam interaksi sosial. Oleh kareana itu, emosi sebagai suatu
potensi kepribadian wajib diberi santapan dengan berbagai pembinaan psikologis,
termasuk santapan keagamaan.
F.
Ekonomi
Ekonomi
merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang
berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan
jasa. Pembagian ilmu ekonomi dibagi 2 yaitu: Ilmu ekonomi deskriptif dan ilmu
ekonomi teori. Ilmu ekonomi deskriptif adalah kajian yang memaparkan secara apa
adanya tentang kehidupan suatu ekonomi daerah pada masa tertentu. Ilmu teori
terdiri dari makro ekonomi dan mikro ekonomi.
Mikro ekonomi
diartiakn sebagai bagian dari ilmu ekonomi yang menganalisis mengenai bagian
kecil dari keseluruhan kegiatan perekonomian. Ada beberapa aspek penting yang
dianalisis teori ekonomi mikro, yaitu:
a.
Interaksi
dipasar barang
b.
Tingkah
laku pembeli dan penjual
c.
Interaksi
dipasar faktor produksi
Makro ekonomi
menganalisi keseluruhan kegiatan perekonomian secara global, namun tidak
memperhatikan kegiatan ekonomi yang dilakukan unit kecil. Aspek penting yang
dianalisis ekonomi makro, yaitu:
a.
Penentuan
tingkat kegiatan perekonomian Negara
b.
Pengeluaran
agregat
c.
Mengatasi
pengangguran dan inflasi
G.
Model
pembelajaran konsep dasar IPS
Untuk dapat
memahami model pembelajaran konsep dasar IPS, perlu diketahui dahulu
pengertian-pengertian, seperti konsep, generalisasi IPS, pengertian
pembelajaran serta memahami cara-cara/langkah-langkah dalam mengajarkan model
pembelajaran konsep dasar IPS
Oleh karena IPS
merupakan integrasi dari berbagai ilmu sosial, maka konsep-konsep ataupun
konsep dasar IPS diambil dari konsep ataupun dasar ilmu-ilmu sosial dengan
memperhatikan berbagai faktor, sperti faktor lingkungan, faktor
masyarakatfaktor tujuan pendidikan nasional, faktor siswa dan sebagainya.
Mengajar
merupakan tugas bagi seorang guru, oleh karena itu keefektifan dalam mengajar
akan banyak tergantung pada bagaimana guru mampu melaksanakan aktivitas
mengajar secara baik. Banyak faktor yang mempengaruhi efektifitas dan
keberhasilan guru dalam mengajar, salah satu diantarnya adalah kemampuan dalam
memilih model/pembelajaran yang tepat.
Banyak
model-model pembelajaran yang perlu diketahui dan dipahami oleh guru. Joyce dan
Weil mengelompokan model-model pembelajaranke dalam empat rumpun kelompok:
1. Rumpun/kelompok
model pemrosesan informasi, terdiri dari model berfikir induktif, model latihan
inkuiri, model pertumbuhan kognitif, model penata lanjutan dan model memori.
2. Rumpun
model-model personal, terdiri dari model pengajaran non-direktif, model latihan
kesadaran, model sinektif, model sistem-sitem konseptual, dan model pertemuan
kelas.
3. Rumpun
model-model interaksi sosial, terdiri dari model penemuan kelompok, model
metode laboratory, model jurispudensial, model bermain peran, dan model
simulasi sosial.
4. Rumpun
model-model behavorial (perilaku, terdiri dari model manajemen kontingensi,
model kontrol diri, model relaksasi (santai), model pengurangan ketegangan,
model latihan asertif, model latihan langsung.
Agar guru dapat
mencapai tujuan dalam mengajar dengan menggunakan model pembelajaran
konsep-konsep dasar IPS, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mencari
unsur-unsur yang termasuk dalam konsep tersebut dan kemudian mengelompokkannya
serta memilih konsep mana yang menjadi pilihan pokok bahasan.
2.
Menetukan
dan merumuskan tujuan instruksional.
3. Pilihlah
situasi dan media yang mendukung pelajaran tentang konsep tersebut serta dapat
memperlancar pencapaian tujuan instruksional.
4. Merencanakan
dan mencari hal-hal yang dierkirakan membantu siswa dalam proses pemahaman dan
pemantapan konsep.
5. Mencari dan menetukan cara penyajian dan pengembangan proses internalisasi konsep secara lengkap.
5. Mencari dan menetukan cara penyajian dan pengembangan proses internalisasi konsep secara lengkap.
Referensi:
Sumaatmaja, Nursid. 2008. Konsep
dasar IPS. Jakarta: Universitas Terbuka
Ahmadi,
Iif Khoiru dan Amri, Sofan. 2011. Mengembangkan pembeljaran IPS terpadu.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher
Tidak ada komentar:
Posting Komentar