Selasa, 27 Desember 2016

Ringkasan Sketsa Historis Sosiologi Tahun-tahun Kemudian

Kita mulai dengan sejarah awal teori sosiologi Amerika yang ditandai oleh liberalismenya oleh perhatiannya terhadap Darwinisme sosial dan pengaruh Herbert Spencer. Dalam hal ini dibahas karya dua orang teoretisi sosiologi awal, Sumner dan Ward. Tetapi keduanya tidak meninggalkan kesan abadi dalam teori sosiologi Amerika. Sebaliknya aliran Chicago seperti yang terwujud dalam karya teoretisi seperti Small, Park, Thom. as, Cooley, dan terutama Mead, meninggalkan tanda yang kuat dalam teori sosial terutama dalam interaksionisme simbolik.  Sementara aliran Chicago masih berkuasa, sebuah bentuk lain teori sosiologi mu lai tumbuh di Harvard. Pitirim Sorokin memainkan peran penting dalam mendirikan sosiologi di Harvard, tetapi Parsons-lah yang memimpin Harvard ke posisi unggul dalam teori sosiologi Amerika menggantikan interaksionisme simbolik Chicago, Peran Parsons tak hanya penting dalam melegitimasi "teori besar" di Amerika dalam memperkenalkan teoretisi Eropa kepada khalayak Amerika, tetapi juga dalam peranannya mengembangkan teori aksi, dan yang lebih penting lagi, fungsionalism struktural. Pada 1940-an dan 1950-an fungsionalisme struktural semakin mengemuka karena adanya disintegrasi di dalam aliran Chicago yang dimulai tahun 1930-an dan berpuncak pada 1950-an.

Perkembangan utama teori Marian di tahun-tahun awal abad ke-20 adalah karena kreasi aliran kritis atau aliran Frankfurt. Marxisme bentuk Hegelian ini juga menunjukkan pengaruh sosiolog seperti Weber dan pakar psikoanalisis Sigmund Freud. Marxisme tak mendapat banyak pengikut di kalangan sosiolog di awal abad ke-20. Dominasi fungsionalisme struktural dalam teori sosiologi Amerika di pertengahan abad ke-20 tidak berumur panjang. Meski dapat dirunut kembali ke tahun-tahun yang jauh ke belakang, sosiologi fenomenologi, terutama karya Alfred Schutz, mulai menarik perhatian pada 1960-an. Teori Marxian umumnya masih dikucilkan dari teori sosial di Amerika, tetapi C. Wright Mills menghidupkan tradisi radikal di Amerika pada 1940-an dan 1950-an. Mills juga adalah salah seorang pimpinan yang mengarang fungsionalisme struktural yang intensitas serangannya memuncak pada 1950-an dan 1960-an. Dilihat dari sudut pandang serangan ini, teori konflik yang muncul dalam periode ini merupakan alternatif terhadap fungsionalisme struktural. Meski dipengaruhi teori Marxian, teori konflik kurang menyatu dengan Marxisme. Alternatif lain terhadap fungsionalisme struktural adalah teori pertukaran yang lahir pada 1950-an dan terus menarik pengikut tetap meski kecil jumlahnya.
Meski interaksionisme simbolik mulai kehilangan pengaruhnya, karya Erving Gomman tentang analisis dramaturgis mendapatkan pengikut dalam periode ini. Perkembangan penting dalam sosiologi kehidupan sehari-hari yang lain (interaksionisme simbolik termasuk dalam sosiologi ini terjadi pada 1960-an dan 1970-an, termasuk peningkatan perhatian terhadap sosiologi fenomenologi dan, yang lebih penting lagi, ledakan karya di bidang etnometodologi. Dalam periode ini berbagai jenis teori Marxian mendapatkan tempatnya dalam sosiologi, meski berbagai teori itu terancam keberadaannya karena keruntuhan Uni Soviet dan rezim komunis lain di penghujung 1980-an dan awal 1990-an. Perkembangan penting lainnya dalam periode ini adalah makin pentingnya pengaruh strukturalisme dan kemudian post-strukturalisme, terutama melalui karya Michel Foucault. Fenomena terpenting adalah meledaknya perhatian terhadap teori feminis, sebuah ledakan yang dengan cepat mendorong kita menuju tahun 2000 Selain dari itu masih ada tiga perkembangan khusus yang terjadi tahun 1980-an dan berlanjut hingga tahun 1990-an. Pertama, berkembangnya perhatian di Amerika terhadap analisis hubungan mikro-makro. Kedua, peningkatan perhatian terhadap analisis hubungan agen-struktur di Eropa. Ketiga, pertumbuhan perhatian besar-besaran terhadap upaya analisis sintesis, terutama pada 1960-an.
Hal ini diakhiri dengan melihat perkembangan teoretis yang kemungkinan berpengaruh besar terhadap teori sosiologi memasuki abad ke-21. Teori multikultural, khususnya yang diasosiasikan dengan ras (CTRR) dan teori queer, kemungkinan akan terus berkembang. Teori post-modern tidak akan pudar, namun mungkin menarik lebih banyak perhatian-teori yang menggunakan ide post-modern dan yang melampauinya. Kita juga memperkirakan meningkatnya perhatian pada konsumsi dan teori tentangnya. Ini berkaitan dengan teori post-modern (masyarakat konsumen terkait erat dengan masyarakat post-modern), merefleksikan perubahan dalam masyarakat dari penekanan pada produksi ke konsumsi, serta reaksi terhadap bias produktivitas yang mendominasi teori sosiologi sejak awal kemunculannya.



Referensi : Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media Grup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar