Kita
mulai dengan sejarah awal teori sosiologi Amerika yang ditandai oleh
liberalismenya oleh perhatiannya terhadap Darwinisme sosial dan pengaruh
Herbert Spencer. Dalam hal ini dibahas karya dua orang teoretisi sosiologi
awal, Sumner dan Ward. Tetapi keduanya tidak meninggalkan kesan abadi dalam
teori sosiologi Amerika. Sebaliknya aliran Chicago seperti yang terwujud dalam
karya teoretisi seperti Small, Park, Thom. as, Cooley, dan terutama Mead,
meninggalkan tanda yang kuat dalam teori sosial terutama dalam interaksionisme
simbolik. Sementara aliran Chicago masih
berkuasa, sebuah bentuk lain teori sosiologi mu lai tumbuh di Harvard. Pitirim
Sorokin memainkan peran penting dalam mendirikan sosiologi di Harvard, tetapi
Parsons-lah yang memimpin Harvard ke posisi unggul dalam teori sosiologi
Amerika menggantikan interaksionisme simbolik Chicago, Peran Parsons tak hanya
penting dalam melegitimasi "teori besar" di Amerika dalam
memperkenalkan teoretisi Eropa kepada khalayak Amerika, tetapi juga dalam peranannya
mengembangkan teori aksi, dan yang lebih penting lagi, fungsionalism struktural.
Pada 1940-an dan 1950-an fungsionalisme struktural semakin mengemuka karena
adanya disintegrasi di dalam aliran Chicago yang dimulai tahun 1930-an dan
berpuncak pada 1950-an.
Perkembangan
utama teori Marian di tahun-tahun awal abad ke-20 adalah karena kreasi aliran
kritis atau aliran Frankfurt. Marxisme bentuk Hegelian ini juga menunjukkan
pengaruh sosiolog seperti Weber dan pakar psikoanalisis Sigmund Freud. Marxisme
tak mendapat banyak pengikut di kalangan sosiolog di awal abad ke-20. Dominasi
fungsionalisme struktural dalam teori sosiologi Amerika di pertengahan abad
ke-20 tidak berumur panjang. Meski dapat dirunut kembali ke tahun-tahun yang
jauh ke belakang, sosiologi fenomenologi, terutama karya Alfred Schutz, mulai menarik
perhatian pada 1960-an. Teori Marxian umumnya masih dikucilkan dari teori
sosial di Amerika, tetapi C. Wright Mills menghidupkan tradisi radikal di
Amerika pada 1940-an dan 1950-an. Mills juga adalah salah seorang pimpinan yang
mengarang fungsionalisme struktural yang intensitas serangannya memuncak pada
1950-an dan 1960-an. Dilihat dari sudut pandang serangan ini, teori konflik
yang muncul dalam periode ini merupakan alternatif terhadap fungsionalisme struktural.
Meski dipengaruhi teori Marxian, teori konflik kurang menyatu dengan Marxisme.
Alternatif lain terhadap fungsionalisme struktural adalah teori pertukaran yang
lahir pada 1950-an dan terus menarik pengikut tetap meski kecil jumlahnya.
Meski
interaksionisme simbolik mulai kehilangan pengaruhnya, karya Erving Gomman
tentang analisis dramaturgis mendapatkan pengikut dalam periode ini. Perkembangan
penting dalam sosiologi kehidupan sehari-hari yang lain (interaksionisme
simbolik termasuk dalam sosiologi ini terjadi pada 1960-an dan 1970-an,
termasuk peningkatan perhatian terhadap sosiologi fenomenologi dan, yang lebih
penting lagi, ledakan karya di bidang etnometodologi. Dalam periode ini berbagai
jenis teori Marxian mendapatkan tempatnya dalam sosiologi, meski berbagai teori
itu terancam keberadaannya karena keruntuhan Uni Soviet dan rezim komunis lain
di penghujung 1980-an dan awal 1990-an. Perkembangan penting lainnya dalam
periode ini adalah makin pentingnya pengaruh strukturalisme dan kemudian post-strukturalisme,
terutama melalui karya Michel Foucault. Fenomena terpenting adalah meledaknya
perhatian terhadap teori feminis, sebuah ledakan yang dengan cepat mendorong
kita menuju tahun 2000 Selain dari itu masih ada tiga perkembangan khusus yang
terjadi tahun 1980-an dan berlanjut hingga tahun 1990-an. Pertama,
berkembangnya perhatian di Amerika terhadap analisis hubungan mikro-makro.
Kedua, peningkatan perhatian terhadap analisis hubungan agen-struktur di Eropa.
Ketiga, pertumbuhan perhatian besar-besaran terhadap upaya analisis sintesis,
terutama pada 1960-an.
Hal
ini diakhiri dengan melihat perkembangan teoretis yang kemungkinan berpengaruh
besar terhadap teori sosiologi memasuki abad ke-21. Teori multikultural, khususnya
yang diasosiasikan dengan ras (CTRR) dan teori queer, kemungkinan akan terus
berkembang. Teori post-modern tidak akan pudar, namun mungkin menarik lebih
banyak perhatian-teori yang menggunakan ide post-modern dan yang melampauinya.
Kita juga memperkirakan meningkatnya perhatian pada konsumsi dan teori tentangnya.
Ini berkaitan dengan teori post-modern (masyarakat konsumen terkait erat dengan
masyarakat post-modern), merefleksikan perubahan dalam masyarakat dari
penekanan pada produksi ke konsumsi, serta reaksi terhadap bias produktivitas yang
mendominasi teori sosiologi sejak awal kemunculannya.
Referensi
: Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media Grup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar