Selasa, 27 Desember 2016

Paradigma Materialisme Dialektis dalam Epistemologi Karl Marx

Konsepsi epistemologi Marx terbentuk melalui penerapan paradigma materialisme dialektis yang mengintrodusir suatu pemahaman bahwa dunia selalu berada dalam proses perkembangan yang dialektis, yakni penerimaan dan penolakan. Dalam proses dialektis ini, terkandung unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan) saling bermediasi (memperantarai dan diperantarai). Kehidupan nyata selalu berada dalam keadaan saling berkontradiksi, bernegasi, dan bermediasi. Dialektika yang terjadi menurut Marx, tidak berada dalam idea (dialektika idea) melainkan terjadi dalam dunia nyata (dialektika materi) Pengetahuan manusia yang muncul dari proses dialektis adalah benar jika dipahami dengan kerangka hubungan antara setiap kejadian dalam dunia nyata.

Pengetahuan, dengan demikian, adalah memahami kejadian-kejadian yang saling berhubungan dalam proses dialektis tersebut. Tetapi karena bagi Marx, proses dialektis hanya terjadi dalam dunia nyata, maka hubungan kejadian-kejadian tersebut pun harus diletakkan dalam kerangka dunia nyata atau kenyataan obyektif. Pengetahuan yang terlahir dalam pemahaman atas dialektika yang demikian, lebih menekankan pada pengetahuan tentang yang empiris, yang didapat melalui indra manusia. Posisi indra menjadi alat paling penting dalam usaha manusia memperoleh pengetahuan.
Pemahaman bahwa dialektika hanya terjadi dalam dunia empiris (menjadikan Marx juga sebagian besar kaum materialisme lainnya) begitu mempercayai bahwa satu-satunya pengetahuan dapat dipercayai adalah pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah dipercayai karena ia diperoleh melalui penerapan prinsip-prinsip metodis (epistemologi ilmu) dan teruji secara empiris (ontologi ilmu). Tesis ini diperkuat dengan asumsi Marx bahwa benda merupakan  kenyataan yang pokok sehingga kebenaran pengetahuan manusia melalui indranya hanya dapat diorientasikan pada benda (materi) sebagai satu-satunya kenyataan pokok. Benda empiris tersebut, maka pengetahuan manusia tidak dapat teruji, atau minimal tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
Pemaknaan paradigma materialisme dialektis yang demikian berpengaruh pada berbagai bentuk pemikiran ilmuwan atau filsuf sesudah Marx. Banyak dari pemikir besar dunia, sesudah Marx mencoba mengembangkan keseluruhan paradigma pemikirannya dalam frame materialisme (dialektis). Artinya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan kenyataan obyektif yang muncul sebagai bentuk dialektika harus dijelaskan melalui hukum dunia fisik (materia). Penjelasan atas kenyataan obyektif melalui paradigma materialisme dialektis tersebut -diakui atau tidak menjadi titik awal kebangkitan ilmu-ilmu modern, terutama bagi ilmu-ilmu sosial.
Dalam perspektif historis, prinsip materialisme ini telah membangkitkan semangat penemuan ilmu-ilmu modern di akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 sesudah zaman Renaissan. Kebangkitan ilmu modern, dengan penemuan dan penciptaan teknologi modern, sesungguhnya banyak berawal dari sebuah asumsi awal bahwa keseluruhan kenyataan obyektif yang secara empirik terjadi harus dapat dijelaskan melalui pendekatan mekanik dan hukum-hukum fisik. Melalui pendekatan tersebut, maka kejadian-kejadian dan perubahan-perubahan dunia yang selama ini belum bisa dijelaskan, pada akhirnya bisa dipaparkan melalui bukti-bukti empiris dan logis-ilmiah.
Kesalahan utama dari pendekatan ini adalah adanya keterputusan manusia dengan nilai-nilai transendental (adi-kodrati), karena dunia hanya dipahami sebagai suatu materi atau benda, yang  tidak mempunyai hubungan dengan kekuatan-kekuatan (gaib) di luar dunia. Keterputusan tersebut menjadi awal dari keterpisahan antara (aspek kognisi) manusia dengan kebenaran agama. Agama, berada di luar batas-batas empiris, menjadi kategori yang jauh dari jangkauan kebenaran pengetahuan manusia, karena tidak teruji secara empiris. Kritik atas pendekatan materialisme dialektik banyak dilontarkan orang, tidak hanya karena adanya keterputusan manusia dengan Tuhan (kekuatan adi-kodrati di luar kategori dunia empiris), tetapi juga karena tidaklah mungkin manusia dapat selalu menemukan kategori kebenaran melalui eksperimen empiris dengan panca indranya.


Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012. Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media



Tidak ada komentar:

Posting Komentar