Konsepsi epistemologi Marx terbentuk melalui penerapan
paradigma materialisme dialektis yang mengintrodusir suatu pemahaman bahwa
dunia selalu berada dalam proses perkembangan yang dialektis, yakni penerimaan
dan penolakan. Dalam proses dialektis ini, terkandung unsur-unsur yang saling
bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan) saling bermediasi (memperantarai dan diperantarai).
Kehidupan nyata selalu berada dalam keadaan saling berkontradiksi, bernegasi,
dan bermediasi. Dialektika yang terjadi menurut Marx, tidak berada dalam idea
(dialektika idea) melainkan terjadi dalam dunia nyata (dialektika materi) Pengetahuan
manusia yang muncul dari proses dialektis adalah benar jika dipahami dengan
kerangka hubungan antara setiap kejadian dalam dunia nyata.
Pengetahuan,
dengan demikian, adalah memahami kejadian-kejadian yang saling berhubungan dalam
proses dialektis tersebut. Tetapi karena bagi Marx, proses dialektis hanya
terjadi dalam dunia nyata, maka hubungan kejadian-kejadian tersebut pun harus
diletakkan dalam kerangka dunia nyata atau kenyataan obyektif. Pengetahuan yang
terlahir dalam pemahaman atas dialektika yang demikian, lebih menekankan pada
pengetahuan tentang yang empiris, yang didapat melalui indra manusia. Posisi indra
menjadi alat paling penting dalam usaha manusia memperoleh pengetahuan.
Pemahaman
bahwa dialektika hanya terjadi dalam dunia empiris (menjadikan Marx juga sebagian
besar kaum materialisme lainnya) begitu mempercayai bahwa satu-satunya
pengetahuan dapat dipercayai adalah pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah dipercayai
karena ia diperoleh melalui penerapan prinsip-prinsip metodis (epistemologi
ilmu) dan teruji secara empiris (ontologi ilmu). Tesis ini diperkuat dengan
asumsi Marx bahwa benda merupakan kenyataan
yang pokok sehingga kebenaran pengetahuan manusia melalui indranya hanya dapat
diorientasikan pada benda (materi) sebagai satu-satunya kenyataan pokok. Benda empiris tersebut, maka pengetahuan manusia tidak
dapat teruji, atau minimal tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
Pemaknaan
paradigma materialisme dialektis yang demikian berpengaruh pada berbagai bentuk
pemikiran ilmuwan atau filsuf sesudah Marx. Banyak dari pemikir besar dunia, sesudah
Marx mencoba mengembangkan keseluruhan paradigma pemikirannya dalam frame
materialisme (dialektis). Artinya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini
merupakan kenyataan obyektif yang muncul sebagai bentuk dialektika harus
dijelaskan melalui hukum dunia fisik (materia). Penjelasan atas kenyataan
obyektif melalui paradigma materialisme dialektis tersebut -diakui atau tidak
menjadi titik awal kebangkitan ilmu-ilmu modern, terutama bagi ilmu-ilmu
sosial.
Dalam
perspektif historis, prinsip materialisme ini telah membangkitkan semangat
penemuan ilmu-ilmu modern di akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 sesudah zaman
Renaissan. Kebangkitan ilmu modern, dengan penemuan dan penciptaan teknologi
modern, sesungguhnya banyak berawal dari sebuah asumsi awal bahwa keseluruhan
kenyataan obyektif yang secara empirik terjadi harus dapat dijelaskan melalui
pendekatan mekanik dan hukum-hukum fisik. Melalui pendekatan tersebut, maka
kejadian-kejadian dan perubahan-perubahan dunia yang selama ini belum bisa
dijelaskan, pada akhirnya bisa dipaparkan melalui bukti-bukti empiris dan
logis-ilmiah.
Kesalahan
utama dari pendekatan ini adalah adanya keterputusan manusia dengan nilai-nilai
transendental (adi-kodrati), karena dunia hanya dipahami sebagai suatu materi
atau benda, yang tidak mempunyai
hubungan dengan kekuatan-kekuatan (gaib) di luar dunia. Keterputusan tersebut
menjadi awal dari keterpisahan antara (aspek kognisi) manusia dengan kebenaran
agama. Agama, berada di luar batas-batas empiris, menjadi kategori yang jauh
dari jangkauan kebenaran pengetahuan manusia, karena tidak teruji secara
empiris. Kritik atas pendekatan materialisme dialektik banyak dilontarkan
orang, tidak hanya karena adanya keterputusan manusia dengan Tuhan (kekuatan
adi-kodrati di luar kategori dunia empiris), tetapi juga karena tidaklah
mungkin manusia dapat selalu menemukan kategori kebenaran melalui eksperimen
empiris dengan panca indranya.
Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012.
Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar