Selasa, 27 Desember 2016

Pendidikan Berbasis Teknologi Virtual

Pendidikan mengalami perubahan realitas. Semula dari pendidikan yang bersifat riil atau empiris, menuju pendidikan yang bersifat virtual. Perkembangan teknologi memaksa penyelenggaraan pendidikan yang tidak hanya dilakukan di kelas, tetapi juga di luar kelas, bahkan pendidikan tanpa ruang Sebagaimana dipahami bahwa objek filsafat adalah bentuk bentuk keberadaan yang memiliki tingkatan, mulai dari benda mati sampai simbol. Tantang-tangtangan yang muncul pada hari-hari ini adalah hadirnya objek filsafat yang berbeda dengan masa-masa lalu Misalnya dalam konsep kosmologi yang mengangkat benda mati sebagai objek berpikir, maka akan didapati konsep-konsep alam semesta yang berubah. Penemuan tata surya baru dalam ilmu astronomi dugaan adanya makhluk asing dari tata surya yang berbeda serta luas alam semesta yang semakin membesar semua itu membawa pada imajinasi imajinasi terjauh tentang alam semesta. Adakah sebuah tempat yang dijadikan sebagai kehidupan bagi makhluk lain kecuali kita yang mendiami bumi?

Dalam konsep ontologi, yakni tentang pencarian kenyataan yang hakiki, manusia akan dihadapkan pada kenyataan maya (virtual reality). Kenyataan inilah yang disebut-sebut menggantikan kenyataan aktual, yakni kenyataan yang dihadapi secara inderawi Dalam bahasa sehari-hari, manusia bisa melihat kenyataan di mana saja cukup dari bilik kamar yang sempit, yang di dalamnya terdapat jaringan komputer. Manusia bisa melihat belahan bumi mana pun, bahkan tempat-tempat rahasia melalui teknologi satelit. Orang tidak perlu masuk ke lorong shoping untuk memilih barang karena di dalam dunia internet sudah disediakan lorong-lorong itu, sementara user tinggal pilih barang. Bila barang tersebut sudah dipilih, maka sebentar lagi akan dikirim, ke alamat yang dimaksud. Fakta-fakta seperti inilah yang menantang filsafat untuk merumuskan kembali apa yang dimaksud dengan kenyataan dan apa bedanya dengan mimpi. Permainan tiga dimensi yang memadukan antar serat-serat optik dan dekorasi ruangan bisa menyulap sebuah ruang yang diam, seperti melaju dalam kecepatan 1oo km per jam Dalam konsep etika munculnya teknologi bayi tabung, kloning, dan pengujian DNA. Itu semua menantang filsafat untuk mendefinisikan kembali tentang asal-usul dan nilai manusia.
Teknologi telah memungkinkan "penciptaan" manusia melalui wadah yang dinamakan dengan inkubator. Dalam inkubator itu, unsur-unsur kimiawi kemanusiaan dilarutkan, dan segala hal yang mempengaruhinya dipantau sedemikian rupa, sampai kemudian lahirlah seorang anak manusia. Ketika teknologi kloning diarahkan pada hewan, orang akan melihat tidak ada problem kelaziman atau kesopanan. Akan tetapi, ketika teknologi kloning diarahkan kepada manusia, maka nantinya anak tersebut akan mendapatkan kesulitan menjawab pertanyaan orang tuanya siapa, kenapa dia harus disebut manusia ciptaan Tuhan dan bukan ciptaan manusia, dan apa yang mesti dilakukan untuk mengantisipasi lahirnya manusia tanpa orang tua di masa yang akan datang. Perkembangan teknologi nuklir yang terjadi pada masa abad ke-20 tidak hanya menyisakan persoalan-persoalan ilmiah terapan, tetapi mewariskan persoalan-persoalan filsafat.
Nuklir dipandang sebagai sumber energi yang bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan roda kehidupan. Pemecahan atom-atom uranium dalam tabung reaktor akan menghasilkan energi yang luar biasa besar. Energi itulah yang dijadikan sebagai sumber untuk pelbagai keperluan mulai dari kebutuhan rumah tangga sampai militer. Masalah yang terjadi kemudian, apakah pembangunan reaktor nuklir itu bermanfaat bagi manusia atau justru merugikannya. Sebab, sampah dari tambung reaktor yang tidak berguna jelas sangat berbahaya bagi kehidupan manusia; radiasi yang timbul dari sampah nuklir telah merusak ekosistem. Belum lagi risiko kebocoran nuklir sebagaimana terjadi di Chernobyl, Russia pada 199o-an telah membawa petaka bagi jutaan manusia. Sampai di sini, objek filsafat yang berupa benda-benda mati telah melahirkan problem-problem filsafat. Mulai dari kosmologi, etika, ontologi, dan estetika. Masalah-masalah tersebut di masa depan akan dipecahkan dengan sejumlah teori. Teori itulah yang akan bermanfaat bagi perkembangan filsafat pada masa datang.


Referensi : Rohman, Saifur dan Wibowo, Agus. 2016. Filsafat Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar