Pada
saat para sosiolog ingin memusatkan perhatian mereka pada kegiatan-kegiatan di
dalam kehidupan sosial –bagaimana sebuah kehidupan dijalani- gambaran yang
paling sering muncul adalah sebagaimana sebuah drama. Kehidupan sosial adalah
sebuah teater: kita terlihat sedang menjalankan peran-peran sosial saat melalui
hidup ini -kita menjadi pemerannya, memainkan bagian demi bagian, menggunakan
dukungan, melatih lagi bagian yang harus kita mainkan, terkadang kita menyukai
peran-peran kita, terkadang kita menjauhkan diri dari peran tersebut. Identitas
menjadi topeng, sebagaimana pada akhirnya kita bertanya mengenai
perbedaan-perbedaan di antara kenyataan sesungguhnya dengan apa yang tampak.
Itulah gambaran dari seorang tokoh pemikir sosiologi yang ternama, Erving
Goffman (1922-1982), seorang "sosiolog mikro" yang paling berpengaruh
di abad ke-20. Seperti yang sudah kita ketahui, sosiologi mikro tidak begitu
memerhatikan struktur struktur sosial skala besar seperti negara dan ekonomi,
dan sebaliknya meneliti kehidupan sosial yang dihadapi seseorang dengan lebih
dekat dengan skala kecil, dan langsung berhadapan.
Dalam
sebuah seri buku yang terbit pada tahun 1960-an, Goffman menunjukkan pada kita
bagaimana masyarakat dapat dilihat secara terpisah melalui pertemuan tatap muka
ketika manusia mencoba untuk memberikan kesan kepada orang lain. Dalam buku
pertamanya yang dengan semangat diberi judul The Presentation of Self in
Everyday Life (1956), dia mengamati kehidupan orang-orang di Pulau Hebrides dan
mendokumentasikan begitu banyak cara orang memainkan peran mereka dan
menampilkan diri mereka dengan cara yang berbeda-beda (panggung depan dan
panggung belakang) bersamaan dengan ketika mereka mengalami perubahan situasi
sosial, bekerja keras demi membentuk kesan mengenai diri mereka sendiri. Buku
tersebut menjadi sejenis pedoman bagi kecakapan yang kita gunakan sehari-hari.
Dalam yang berjudul Asylums (1961) -salah satu buku sosiologi paling laris-
mengamati sisi belakang kehidupan dia orang-orang yang hidup di rumah sakit,
tempat tawanan, penjara, dan yang ia sebut sebagai "institusi total"
di saat mereka terputus dari rutinitas kehidupan normal. Sekali lagi,
perhatiannya dicurahkan pada drama kehidupan hal ini yaitu bagaimana diri
manusia merasakan malu dalam keadaan ekstrem seperti itu dan bagaimana mereka
mengembalikan rasa akan jati diri mereka (banyak sekali yang diungkapkan oleh
Goffman: buku pedoman yang bagus untuk karya-karyanya adalah buku karya Greg
Smith yang berjudul Erving Goffman (2007).
Meskipun
demikian, tidak ada hal yang baru dari Gambaran drama ini. Kebiasaan orang
bersembunyi di balik topeng dan cadar yang ada dalam drama Yunani. Kebiasaan
tersebut dilakukan dalam upacara-upacara adat. Biasanya dalam pesta bertopeng
dan karnaval yang merupakan bagian dari upacara-upacara keagamaan yang
dilakukan untuk berhubungan dengan arwah-arwah dan leluhur. Shakespeare sering
kali menggunakan panggung itu sebagai kiasan hidup: "Seluruh dunia
merupakan satu panggung dan semua pria dan wanita hanyalah pemainnya. Mereka
memiliki pintu-pintu masuk dan keluar sendiri; dan seseorang dalam kehidupannya
akan memainkan banyak bagian" Jacques dalam As You Like It, II, vii). Atau
bahkan lebih dramatis: "Selain seperti bayangan yang terus berjalan,
pemain yang payah, yang meninggal dan menggerutu atas waktunya selama berada
dalam panggung dan kemudian tidak terdengar lagi; hidup adalah sebuah dongeng
yang diceritakan oleh seorang idiot, yang banyak bersuara dan penuh akan
kemarahan, dan tidak berarti apa-apa."
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar