Selasa, 27 Desember 2016

Masyarakat Dapat Dijelaskan Dengan Drama

Pada saat para sosiolog ingin memusatkan perhatian mereka pada kegiatan-kegiatan di dalam kehidupan sosial –bagaimana sebuah kehidupan dijalani- gambaran yang paling sering muncul adalah sebagaimana sebuah drama. Kehidupan sosial adalah sebuah teater: kita terlihat sedang menjalankan peran-peran sosial saat melalui hidup ini -kita menjadi pemerannya, memainkan bagian demi bagian, menggunakan dukungan, melatih lagi bagian yang harus kita mainkan, terkadang kita menyukai peran-peran kita, terkadang kita menjauhkan diri dari peran tersebut. Identitas menjadi topeng, sebagaimana pada akhirnya kita bertanya mengenai perbedaan-perbedaan di antara kenyataan sesungguhnya dengan apa yang tampak. Itulah gambaran dari seorang tokoh pemikir sosiologi yang ternama, Erving Goffman (1922-1982), seorang "sosiolog mikro" yang paling berpengaruh di abad ke-20. Seperti yang sudah kita ketahui, sosiologi mikro tidak begitu memerhatikan struktur struktur sosial skala besar seperti negara dan ekonomi, dan sebaliknya meneliti kehidupan sosial yang dihadapi seseorang dengan lebih dekat dengan skala kecil, dan langsung berhadapan.

Dalam sebuah seri buku yang terbit pada tahun 1960-an, Goffman menunjukkan pada kita bagaimana masyarakat dapat dilihat secara terpisah melalui pertemuan tatap muka ketika manusia mencoba untuk memberikan kesan kepada orang lain. Dalam buku pertamanya yang dengan semangat diberi judul The Presentation of Self in Everyday Life (1956), dia mengamati kehidupan orang-orang di Pulau Hebrides dan mendokumentasikan begitu banyak cara orang memainkan peran mereka dan menampilkan diri mereka dengan cara yang berbeda-beda (panggung depan dan panggung belakang) bersamaan dengan ketika mereka mengalami perubahan situasi sosial, bekerja keras demi membentuk kesan mengenai diri mereka sendiri. Buku tersebut menjadi sejenis pedoman bagi kecakapan yang kita gunakan sehari-hari. Dalam yang berjudul Asylums (1961) -salah satu buku sosiologi paling laris- mengamati sisi belakang kehidupan dia orang-orang yang hidup di rumah sakit, tempat tawanan, penjara, dan yang ia sebut sebagai "institusi total" di saat mereka terputus dari rutinitas kehidupan normal. Sekali lagi, perhatiannya dicurahkan pada drama kehidupan hal ini yaitu bagaimana diri manusia merasakan malu dalam keadaan ekstrem seperti itu dan bagaimana mereka mengembalikan rasa akan jati diri mereka (banyak sekali yang diungkapkan oleh Goffman: buku pedoman yang bagus untuk karya-karyanya adalah buku karya Greg Smith yang berjudul Erving Goffman (2007).
Meskipun demikian, tidak ada hal yang baru dari Gambaran drama ini. Kebiasaan orang bersembunyi di balik topeng dan cadar yang ada dalam drama Yunani. Kebiasaan tersebut dilakukan dalam upacara-upacara adat. Biasanya dalam pesta bertopeng dan karnaval yang merupakan bagian dari upacara-upacara keagamaan yang dilakukan untuk berhubungan dengan arwah-arwah dan leluhur. Shakespeare sering kali menggunakan panggung itu sebagai kiasan hidup: "Seluruh dunia merupakan satu panggung dan semua pria dan wanita hanyalah pemainnya. Mereka memiliki pintu-pintu masuk dan keluar sendiri; dan seseorang dalam kehidupannya akan memainkan banyak bagian" Jacques dalam As You Like It, II, vii). Atau bahkan lebih dramatis: "Selain seperti bayangan yang terus berjalan, pemain yang payah, yang meninggal dan menggerutu atas waktunya selama berada dalam panggung dan kemudian tidak terdengar lagi; hidup adalah sebuah dongeng yang diceritakan oleh seorang idiot, yang banyak bersuara dan penuh akan kemarahan, dan tidak berarti apa-apa."



Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers



Tidak ada komentar:

Posting Komentar