Selasa, 13 Desember 2016

Pergeseran Paradigma Pendidikan Akibat Globalisasi

Keberadan teknologi informasi, jaringan internet, dan pencepatan aliran informasi menjadi dasar  dari pergeseran paradigma, khususnya dalam dunia pendidikan dan pengetahuan di era informasi mendatang. Bisa dibayangkan pekerjaan seorang guru yang mengajar satu juta murid dalam waktu yang bersamaan betapa cepatnya ilmu pengetahuan yang tersebar. Manusia dengan mudahnya berkomunikasi dengan siapa saja, aspirasi rakyat bisa langsung disampaikan dengan cara berinteraksi langsung dengan pimpinan Negara tanpa perlu takut disensor, diciduk, dan diculik oleh aparat. Tampaknya semuanya semakin mudah. Tentunya ada prasyarat yang menyebabkan hal-hal yang nampaknya demikian mudah menjadi mungkin. Satu hal yang sangat dominan di dunia informasi adalah bahwa keberhasilan seseorang ditentukan pada knowledge yang dihasilkan oleh orang tersebut.

Kebutuhan akan knowledge menjadi sedemikian besar sehingga pendidikan dan knowledge menjadi suatu komoditi unggulan yang sangat diminati oleh banyak orang. Pengaturan secara pusat dari sistem pendidikan akan gagal, kompetisi akan mendorong terbentuknya berbagai bentuk aliran pendidikan (formal, informal, terakreditasi, tersertifikasi, diakui, disamakan, diacuhkan, dibiarkan). Dengan tujuan yang sangat sederhana, yaitu memberikan layanan knowledge bagi masyarakat. Dengan tingginya kebutuhan/demand dari masyarakat untuk memperoleh pendidikan/knowledge dengan kapasitas bangku yang sangat terbatas maka tekanan pada kemampuan sistem pendidikan akan sangat terasa.
Keberadaan teknologi informasi/internet, akan menambah tekanan yang ada menjadi tekanan dan tantangan yang sangat luar biasa bagi sistem pendidikan di Indonesia saat ini. Knowledge dapat diperoleh dengan mudah melalui berbagai website, diskusi dimailing list, dan chatting. Pada sisi ekstrim, knowledge tidak lagi berpusat pada guru/dosen, tidak lagi dieprlukan disekolah, tidak lagi diperlukan perguruan tinggi. Knowledge bisa langsung diperoleh dari rakyat banyak. Di sini pola pengajaran yang selama ini dianut akan memperoleh tantangan yang sangat besar dari knowledge yang demikian banyak dan terbuka bagi siswa. Konsep learning blended menjadi sangat dominan dimana guru/dosen akan banyak menjadi fasilitator. Siswa/mahasiswa akan cendrung menjadi lebih pandai dari gurunya, disini terjadi generation lap (kebalikan dari generation gap). Konsep distributed knowledge yang bertumpu pada teknologi informasi akan berjalan nyata untuk akhirnya akan membentuk sebuah collective wisdom dari masyarakat. Kekuatan kumpulan masyarakat pandai bertumpu pada teknologi informasi akan mengungguli pikiran seorang professor sendirian.

Proses pengakuan akan langsung dilakukan langsung oleh masyarakat. Sertifikasi keahlian dilakuakan langsung oleh masyarakat professional bahkan sertifikasi global seperti MCP, MCSE, MCT dari Microsoft nialainya jauh lebih tinggi dari pada ijazah ITB sekalipun untuk mencari pekerjaan didunia computer. Pengakuan keahlian seseoarang akan dilakukan oleh masyarakat professional dari karya dan bukan oleh dunia pendidikan tersebut. Jelas bahwa masyarakat (society) yang akan melakuakan audit/sertifikasi pada seseorang untuk menyatakan bahwa orang tersebut betul-betul ahli dibidangnya. Tekanan pada dunia pendidikan sangatalah jelas. Semua pergeseran paraadigma ini merupakan tantangan yang sangat nyata bagi dunia pendidikan dalam era informasi mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar