Keberadan
teknologi informasi, jaringan internet, dan pencepatan aliran informasi menjadi
dasar dari pergeseran paradigma, khususnya
dalam dunia pendidikan dan pengetahuan di era informasi mendatang. Bisa
dibayangkan pekerjaan seorang guru yang mengajar satu juta murid dalam waktu
yang bersamaan betapa cepatnya ilmu pengetahuan yang tersebar. Manusia dengan
mudahnya berkomunikasi dengan siapa saja, aspirasi rakyat bisa langsung
disampaikan dengan cara berinteraksi langsung dengan pimpinan Negara tanpa
perlu takut disensor, diciduk, dan diculik oleh aparat. Tampaknya semuanya
semakin mudah. Tentunya ada prasyarat yang menyebabkan hal-hal yang nampaknya
demikian mudah menjadi mungkin. Satu hal yang sangat dominan di dunia informasi
adalah bahwa keberhasilan seseorang ditentukan pada knowledge yang
dihasilkan oleh orang tersebut.
Kebutuhan akan
knowledge menjadi sedemikian besar sehingga pendidikan dan knowledge menjadi
suatu komoditi unggulan yang sangat diminati oleh banyak orang. Pengaturan
secara pusat dari sistem pendidikan akan gagal, kompetisi akan mendorong
terbentuknya berbagai bentuk aliran pendidikan (formal, informal,
terakreditasi, tersertifikasi, diakui, disamakan, diacuhkan, dibiarkan). Dengan
tujuan yang sangat sederhana, yaitu memberikan layanan knowledge bagi
masyarakat. Dengan tingginya kebutuhan/demand dari masyarakat untuk memperoleh
pendidikan/knowledge dengan kapasitas bangku yang sangat terbatas maka tekanan
pada kemampuan sistem pendidikan akan sangat terasa.
Keberadaan
teknologi informasi/internet, akan menambah tekanan yang ada menjadi tekanan
dan tantangan yang sangat luar biasa bagi sistem pendidikan di Indonesia saat
ini. Knowledge dapat diperoleh dengan mudah melalui berbagai website, diskusi
dimailing list, dan chatting. Pada sisi ekstrim, knowledge tidak lagi berpusat
pada guru/dosen, tidak lagi dieprlukan disekolah, tidak lagi diperlukan
perguruan tinggi. Knowledge bisa langsung diperoleh dari rakyat banyak. Di sini
pola pengajaran yang selama ini dianut akan memperoleh tantangan yang sangat
besar dari knowledge yang demikian banyak dan terbuka bagi siswa. Konsep learning
blended menjadi sangat dominan dimana guru/dosen akan banyak menjadi
fasilitator. Siswa/mahasiswa akan cendrung menjadi lebih pandai dari gurunya,
disini terjadi generation lap (kebalikan dari generation gap). Konsep
distributed knowledge yang bertumpu pada teknologi informasi akan berjalan
nyata untuk akhirnya akan membentuk sebuah collective wisdom dari masyarakat.
Kekuatan kumpulan masyarakat pandai bertumpu pada teknologi informasi akan mengungguli
pikiran seorang professor sendirian.
Proses pengakuan
akan langsung dilakukan langsung oleh masyarakat. Sertifikasi keahlian
dilakuakan langsung oleh masyarakat professional bahkan sertifikasi global
seperti MCP, MCSE, MCT dari Microsoft nialainya jauh lebih tinggi dari pada
ijazah ITB sekalipun untuk mencari pekerjaan didunia computer. Pengakuan
keahlian seseoarang akan dilakukan oleh masyarakat professional dari karya dan
bukan oleh dunia pendidikan tersebut. Jelas bahwa masyarakat (society) yang
akan melakuakan audit/sertifikasi pada seseorang untuk menyatakan bahwa orang
tersebut betul-betul ahli dibidangnya. Tekanan pada dunia pendidikan sangatalah
jelas. Semua pergeseran paraadigma ini merupakan tantangan yang sangat nyata
bagi dunia pendidikan dalam era informasi mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar