Dalam
merespons problematika modernitas, Fazlur Rahman pernah mengungkapkan
kontribusi filsafat pada tataran intelektual: Bagaimana pun filsafat merupakan
sebuah kebutuhan intelektual yang abadi (a perennial intellectual need) dan
harus diizinkan untuk berkembang baik demi wacana filsafat sendiri maupun demi
disiplin-disiplin lain; karena ia menanamkan semangat kritis-analitis yang
sangat diperlukan dan melahirkan gagasan-gagasan baru yang menjadi alat
intelektual yang penting bagi ilmu-ilmu lain, tak terkecuali bagi agama dan
teologi. Karenanya, sebuah masyarakat yang mencampakkan kekayaan filsafatnya
berarti membiarkan dirinya dalam bahaya kelaparan akan ide-ide segar, ia telah
melakukan bunuh diri intelektual (intellectual suicide). Akan tetapi itu, bukan
tolok ukur satu-satunya.
Epistemologi
burhani sebenarnya hanya sebagai salah satu metode untuk menyibak hubungan
kausalitas (idrak al-sabab wal musabab). Terlepas dari nilai 'universal nya
epistemologi burhani, ia baru menyibak satu aspek tentang realitas yang
sesungguhnya. Pada titik inilah, dibutuhkan epistemologi yang lain
eksperimentatif (bayani) dan intuitif (irfani). Dalam membaca teks (quran yah
dan kaunijah), paradigma epistemology burhani harus berdialog dengan
menggunakan jalur lingkar hermeneu terhadap epistemologi bayani dan irfani
dalam satu gerak putar yang saling mengontrol, mengkritik, memperbaiki, dan
menyempurnakan kekurangan yang melekat pada masing-masing paradigma.
Dalam
temporer, hal itu pun mesti diperkaya dengan pendekatan lain, seperti
sosiologi, antropologi, kebudayaan, dan sejarah se Sebab sebagaimana ditegaskan
Jabiri, setiap epistemologi apa pun tidak ada yang bersifat universal mutlak.
Ia bersifat universal sejauh terkait dengan kondisi sosial yang melingkupinya,
sehingga kesemuanya diharapkan saling mengisi kekurangan satu sama lain.
Referensi : Santoso, Listiyono, dkk. 2012.
Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar