Selasa, 27 Desember 2016

Masyarakat Modern, Multikultural, dan Hibriditas

Sebuah ciri khas yang benar-benar menonjol dari dunia zaman sekarang adalah kesadaran yang semakin besar mengenai perbedaan-perbedaan yang dapat kita jumpai di dalamnya –ini merupakan sebuah dunia yang berdengung di tempat tujuh miliar orang di lebih dari 200 bangsa dengan bahasa dan nilai yang berbeda-beda sedang berjuang untuk memahami politik, agama, dan cara hidup yang berlainan. Ada sebuah suara hiruk-pikuk yang berusaha untuk dapat didengar dan gagasan multikuluralisme dapat membantu menangkapnya. Gagasan ini menyoroti mengenai perbedaan, antara kebudayaan-kebudayaan yang berbeda seperti India atau Zimbabwe, dan juga mengenali perbedaan luas di antara bahasa, agama, maupun gaya hidup di dalam sebuah negara. Indonesia dengan lebih dari 700 bahasa, Rusia dengan lebih dari 150 kebudayaan, dan Kanada dengan kelompok-kelompok migrasi level tertinggi. Kompleksitas perbedaan-perbedaan ini hanyalah sesuatu yang akan mulai kita perhatikan dengan serius di abad ke-21 ini.

Kelompok-kelompok masyarakat tampak semakin hibridis mencampuradukkan semua perbedaan ini meskipun demikian tidak ada kelompok masyarakat atau kesatuan bangsa, maupun ideologi politik yang sederhana. Dunia baru ini mengandung banyak arti, tetapi dunia sosial manusia semakin terhubung pada kosmopolitanisme, semacam keterbukaan dan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan tersebut (ihat bahasan Robert Holman mengenai arti-arti istilah ini dalam bukunya, Cosmopolitianism, 2009) Secara umum, mungkin masyarakat sekarang dapat dilihat sebagai masyarakat postmodern. Postmodemisme adalah sebuah pergeseran besar abad ke-20 dalam bidang arsitektur dan seni yang mengakui bahwa keterpaduan linier mereka, kesatupaduan atau kebenaran mutlak sudah mencapai akhirnya Gika mereka memang pernah ada). Kita hidup di dalam dunia yang semakin terpecah-pecah yang dibanjiri dengan keberagaman kompleksitas, di saat semua hal dapat kita lakukan, sebagaimana diungkapkan oleh filsuf Prancis, Jean-François Lyotard (1924-1998), adalah "bermain-main dengan kepingan". Istilah itu kemudian menjadi dunia yang berdengung pada tahun 1980-an dan membantu membentuk cara kita sekarang melihat kebudayaan sebagai hal yang terpecah-pecah.
Tantangan yang paling serius untuk semua kedudukan ini, tentu saja, dari berkembangnya fundamentalisme -pandangan yang menyatakan bahwa hanya ada satu cara dan biasanya memberikan otoritas sering kali berkaitan dengan agama) dari sebuah suara yang diletakkan entah di saat pada masa lalu. Di sini kita menjumpai banyak konflik pada dunia zaman sekarang.


Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the Basics. Jakarta: Rajawali Pers


Tidak ada komentar:

Posting Komentar