Sebuah
ciri khas yang benar-benar menonjol dari dunia zaman sekarang adalah kesadaran
yang semakin besar mengenai perbedaan-perbedaan yang dapat kita jumpai di
dalamnya –ini merupakan sebuah dunia yang berdengung di tempat tujuh miliar
orang di lebih dari 200 bangsa dengan bahasa dan nilai yang berbeda-beda sedang
berjuang untuk memahami politik, agama, dan cara hidup yang berlainan. Ada
sebuah suara hiruk-pikuk yang berusaha untuk dapat didengar dan gagasan
multikuluralisme dapat membantu menangkapnya. Gagasan ini menyoroti mengenai
perbedaan, antara kebudayaan-kebudayaan yang berbeda seperti India atau
Zimbabwe, dan juga mengenali perbedaan luas di antara bahasa, agama, maupun
gaya hidup di dalam sebuah negara. Indonesia dengan lebih dari 700 bahasa, Rusia
dengan lebih dari 150 kebudayaan, dan Kanada dengan kelompok-kelompok migrasi
level tertinggi. Kompleksitas perbedaan-perbedaan ini hanyalah sesuatu yang
akan mulai kita perhatikan dengan serius di abad ke-21 ini.
Kelompok-kelompok
masyarakat tampak semakin hibridis mencampuradukkan semua perbedaan ini
meskipun demikian tidak ada kelompok masyarakat atau kesatuan bangsa, maupun
ideologi politik yang sederhana. Dunia baru ini mengandung banyak arti, tetapi
dunia sosial manusia semakin terhubung pada kosmopolitanisme, semacam
keterbukaan dan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan tersebut (ihat bahasan
Robert Holman mengenai arti-arti istilah ini dalam bukunya, Cosmopolitianism,
2009) Secara umum, mungkin masyarakat sekarang dapat dilihat sebagai masyarakat
postmodern. Postmodemisme adalah sebuah pergeseran besar abad ke-20 dalam
bidang arsitektur dan seni yang mengakui bahwa keterpaduan linier mereka,
kesatupaduan atau kebenaran mutlak sudah mencapai akhirnya Gika mereka memang
pernah ada). Kita hidup di dalam dunia yang semakin terpecah-pecah yang
dibanjiri dengan keberagaman kompleksitas, di saat semua hal dapat kita
lakukan, sebagaimana diungkapkan oleh filsuf Prancis, Jean-François Lyotard
(1924-1998), adalah "bermain-main dengan kepingan". Istilah itu kemudian
menjadi dunia yang berdengung pada tahun 1980-an dan membantu membentuk cara
kita sekarang melihat kebudayaan sebagai hal yang terpecah-pecah.
Tantangan
yang paling serius untuk semua kedudukan ini, tentu saja, dari berkembangnya
fundamentalisme -pandangan yang menyatakan bahwa hanya ada satu cara dan
biasanya memberikan otoritas sering kali berkaitan dengan agama) dari sebuah
suara yang diletakkan entah di saat pada masa lalu. Di sini kita menjumpai
banyak konflik pada dunia zaman sekarang.
Referensi : Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the
Basics. Jakarta: Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar