Hingga
beberapa tahun yang lalu, fungsionalisme struktural adalah teori dominan dalam
sosiologi. Teori konflik adalah penantang utamanya dan menjadi alternative menggantikan
posisi dominan itu. Tetapi, perubahan dramatis bar" terjadi di tahun-tahun
terakhir. Kedua teori itu telah ditaklukkan oleh kritikan hebat, sebaliknya serentetan
teori alternatif telah berkembang dan semakin menarik perhatian dan mendapat
pengikut yang banyak. Meski beberapa jenis fungsionalisme struktural masih ada,
namun perhatian kita di sini hanya dipusatkan kepada fungsionalisme
kemasyarakatan dan pada perhatiannya yang berskala luas, yakni perhatian pada
antar hubungan di tingkat kemasyarakatan dan pengaruh imperatif dari struktur
dan institusi sosial terhadap aktor. Fungsionalis struktural mengembangkan
sederetan pemikiran mengenai sistem sosial, subsistem, antar
hubungan subsistem dan sistem,keseimbangan, dan perubahan
yang teratur.
Kita
telah meneliti tiga karya fungsionalis struktural (Davis dan Moore, Parsons terkenal
dan dan Merton). Karya Davis dan Moore, salah satu karya yang paling banyak
mendapat kritik dalam sejarah sosiologi, meneliti stratifikasi sosial bagai
sistem sosial dan berbagai fungsi positif yang dilaksanakannya. Kita membahas
agak perinci teori struktural-fungsional Parsons dan pemikirannya tentang empat
imperatif fungsional dari semua sistem tindakan-adaptasi, pencapaian tujuan,
integrasi, dan latensi (AGIL). Juga dianalisis pendekatan struktural-fungsional
Parsons tentang empat sistem tindakan-sistem sosial, sistem kultur, sistem kepribadian,
dan organisme perilaku. Terakhir, kita menjelaskan pendekatan struktural
fungsional Parsons mengenai dinamisme dan perubahan sosial-teori evolusionennya
dan gagasannya tentang media pertukaran yang digeneralisasi. Upaya Merton
mengembangkan "paradigma" untuk analisis fungsional adalah upaya
tunggal paling penting dalam fungsionalisme struktural modern. Merton mulai
mengkritik beberapa pemikiran fungsionalisme struktural yang lebih naif. la kemudian
mencoba mengembangkan model analisis struktural-fungsional yang lebih memadai.
Dalam satu hal, Merton mengakui pendapat para pendahulunya-perlunya memusatkan
perhatian pada fenomena sosial berskala luas. Tetapi, Merton juga menyatakan
bahwa di samping memusatkan perhatian pada fungsi positif, fungsionalisme
struktural juga harus memusatkan perhatian pada masalah disfungsi dan
nonfungsi. Dengan memberikan tambahan ini, Merton menyatakan bahwa peneliti
harus memusatkan perhatiannya pada keseimbangan-bersih (net balance) dari
fungsi dan disfungsi. Lebih jauh, ia mengatakan bahwa dalam melaksanakan
analisis structural fungsional kita harus menghindarkan diri dari analisis
global dan menspesifikasikan angkatan analisis kita. Merton pun menambahkan
gagasan bahwa teoretisi struktural fungsional harus memusatkan perhatian tak
hanya pada fungsi nyata (yang diharapkan) tetapi juga pada fungsi tersembunyi
(tak diharapkan). Bagian ini diakhiri dengan diskusi tentang penerapan
paradigma fungsional Merton kepada masalah hubungan struktur sosial dan kultur
dengan anomi dan perilaku menyimpang selanjutnya, dibahas sejumlah kritik
terhadap fungsionalisme struktural yang telah berhasil merusak kredibllitas dan
popularitasnya.
Dibahas
kritik yang menuduh fungsionalisme struktural adalah ahistoris,tak mampu
menerangkan konflik dan perubahan, sangat konservatif terlalu sibuk dengan
persoalan pemaksaan masyarakat terhadap aktor, mendukung legitimasi elite,
bersifat teleologis, dan tautologis. Kritik terhadap fungsionalisme struktural
menimbulkan upaya untuk meresponya-dan berkembanglah sebuah orientasi, yang
dikenal sebagai neofungsionalism. Neofungsionalisme mencoba menopang fungsionalisme
struktural dengan mentesiskannya dengan sederetan perspektifteoretis lain yang
lebih luas. Sejumlah karya telah dibuat berdasarkan rubrik neofungsionalisme di
akhir 1980-an dan awal 1990 an, dan sangat menarik perhatian. Tetapi, masa
depannya masih dipertanyakan, terutama sejak pendirinya, leffrey Alexander,
memberitahukan bahwa ia beralih keluar dari perspektif teoretisnya semula Bagian
terakhir dari hal
ini membahas alternatif utama terhadap fungsionalisme struktural, yakni teori
konflik yang berkembang pada 1950-an dan 1990-an.
Karya
yang paling terkenal dalam tradisi ini adalah karya Ralf Dahrendorf, yang meski
dengan sengaja mengikuti tradisi Marxian, masih terlihat sebagai kebalikan
fungsionalisme struktural. Dahrendorf lebih melihat pada perubahan daripada
keseimbangan, lebih memusatkan perhatian pada konflik ketimbang ketertiban,
lebih menekankan upaya meneliti bagaimana cara bagian-bagian masyarakat
menyumbang terhadap perubahan ketimbang terhadap stabilitas, lebih menekankan
pada konflik dan penggunaan kekerasan ketimbang pada paksaan normatif.
Dahrendorf mengemukakan teori konflik berskala luas yang paralel dengan teori
ketertiban berskala luas dari fungsionalis struktural. Perhatiannya pada
otoritas, posisi, asosiasi yang dikoordinasi secara kepentingan, kelompok semu,
kelompok kepentingan, dan kelompok konflik, mencerminkan orientasi
fungsionalisme struktural. Teori Dahrendorf menghadapi masalah yang sama dengan
yang dihadapi fungsionalisme struktural; ini mencerminkan kurangnya upaya dalam
memasukkan teori Marxian. Dahrendorf juga dapat dikritik karena merasa lebih
puas menawarkan alternatif bagi teori-teori ketertiban dan konflik, ketimbang
mencoba mengintegrasikan keduanya secara teoretis ini ditutup dengan bahasan
tentang upaya Collins untuk mengembangkan teori konflik yang lebih integratif,
terutama teori yang mengintegrasikan perspektif mikro dan makro.
Referensi : Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi
Modern. Jakarta: Prenada Media Grup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar