Selasa, 27 Desember 2016

Fungsionalisme Struktural, Neofungsional, dan Teori Konflik

Hingga beberapa tahun yang lalu, fungsionalisme struktural adalah teori dominan dalam sosiologi. Teori konflik adalah penantang utamanya dan menjadi alternative menggantikan posisi dominan itu. Tetapi, perubahan dramatis bar" terjadi di tahun-tahun terakhir. Kedua teori itu telah ditaklukkan oleh kritikan hebat, sebaliknya serentetan teori alternatif telah berkembang dan semakin menarik perhatian dan mendapat pengikut yang banyak. Meski beberapa jenis fungsionalisme struktural masih ada, namun perhatian kita di sini hanya dipusatkan kepada fungsionalisme kemasyarakatan dan pada perhatiannya yang berskala luas, yakni perhatian pada antar hubungan di tingkat kemasyarakatan dan pengaruh imperatif dari struktur dan institusi sosial terhadap aktor. Fungsionalis struktural mengembangkan sederetan pemikiran mengenai sistem sosial, subsistem, antar hubungan subsistem dan sistem,keseimbangan, dan perubahan yang teratur.

Kita telah meneliti tiga karya fungsionalis struktural (Davis dan Moore, Parsons terkenal dan dan Merton). Karya Davis dan Moore, salah satu karya yang paling banyak mendapat kritik dalam sejarah sosiologi, meneliti stratifikasi sosial bagai sistem sosial dan berbagai fungsi positif yang dilaksanakannya. Kita membahas agak perinci teori struktural-fungsional Parsons dan pemikirannya tentang empat imperatif fungsional dari semua sistem tindakan-adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan latensi (AGIL). Juga dianalisis pendekatan struktural-fungsional Parsons tentang empat sistem tindakan-sistem sosial, sistem kultur, sistem kepribadian, dan organisme perilaku. Terakhir, kita menjelaskan pendekatan struktural fungsional Parsons mengenai dinamisme dan perubahan sosial-teori evolusionennya dan gagasannya tentang media pertukaran yang digeneralisasi. Upaya Merton mengembangkan "paradigma" untuk analisis fungsional adalah upaya tunggal paling penting dalam fungsionalisme struktural modern. Merton mulai mengkritik beberapa pemikiran fungsionalisme struktural yang lebih naif. la kemudian mencoba mengembangkan model analisis struktural-fungsional yang lebih memadai. Dalam satu hal, Merton mengakui pendapat para pendahulunya-perlunya memusatkan perhatian pada fenomena sosial berskala luas. Tetapi, Merton juga menyatakan bahwa di samping memusatkan perhatian pada fungsi positif, fungsionalisme struktural juga harus memusatkan perhatian pada masalah disfungsi dan nonfungsi. Dengan memberikan tambahan ini, Merton menyatakan bahwa peneliti harus memusatkan perhatiannya pada keseimbangan-bersih (net balance) dari fungsi dan disfungsi. Lebih jauh, ia mengatakan bahwa dalam melaksanakan analisis structural fungsional kita harus menghindarkan diri dari analisis global dan menspesifikasikan angkatan analisis kita. Merton pun menambahkan gagasan bahwa teoretisi struktural fungsional harus memusatkan perhatian tak hanya pada fungsi nyata (yang diharapkan) tetapi juga pada fungsi tersembunyi (tak diharapkan). Bagian ini diakhiri dengan diskusi tentang penerapan paradigma fungsional Merton kepada masalah hubungan struktur sosial dan kultur dengan anomi dan perilaku menyimpang selanjutnya, dibahas sejumlah kritik terhadap fungsionalisme struktural yang telah berhasil merusak kredibllitas dan popularitasnya.
Dibahas kritik yang menuduh fungsionalisme struktural adalah ahistoris,tak mampu menerangkan konflik dan perubahan, sangat konservatif terlalu sibuk dengan persoalan pemaksaan masyarakat terhadap aktor, mendukung legitimasi elite, bersifat teleologis, dan tautologis. Kritik terhadap fungsionalisme struktural menimbulkan upaya untuk meresponya-dan berkembanglah sebuah orientasi, yang dikenal sebagai neofungsionalism. Neofungsionalisme mencoba menopang fungsionalisme struktural dengan mentesiskannya dengan sederetan perspektifteoretis lain yang lebih luas. Sejumlah karya telah dibuat berdasarkan rubrik neofungsionalisme di akhir 1980-an dan awal 1990 an, dan sangat menarik perhatian. Tetapi, masa depannya masih dipertanyakan, terutama sejak pendirinya, leffrey Alexander, memberitahukan bahwa ia beralih keluar dari perspektif teoretisnya semula Bagian terakhir dari hal ini membahas alternatif utama terhadap fungsionalisme struktural, yakni teori konflik yang berkembang pada 1950-an dan 1990-an.
Karya yang paling terkenal dalam tradisi ini adalah karya Ralf Dahrendorf, yang meski dengan sengaja mengikuti tradisi Marxian, masih terlihat sebagai kebalikan fungsionalisme struktural. Dahrendorf lebih melihat pada perubahan daripada keseimbangan, lebih memusatkan perhatian pada konflik ketimbang ketertiban, lebih menekankan upaya meneliti bagaimana cara bagian-bagian masyarakat menyumbang terhadap perubahan ketimbang terhadap stabilitas, lebih menekankan pada konflik dan penggunaan kekerasan ketimbang pada paksaan normatif. Dahrendorf mengemukakan teori konflik berskala luas yang paralel dengan teori ketertiban berskala luas dari fungsionalis struktural. Perhatiannya pada otoritas, posisi, asosiasi yang dikoordinasi secara kepentingan, kelompok semu, kelompok kepentingan, dan kelompok konflik, mencerminkan orientasi fungsionalisme struktural. Teori Dahrendorf menghadapi masalah yang sama dengan yang dihadapi fungsionalisme struktural; ini mencerminkan kurangnya upaya dalam memasukkan teori Marxian. Dahrendorf juga dapat dikritik karena merasa lebih puas menawarkan alternatif bagi teori-teori ketertiban dan konflik, ketimbang mencoba mengintegrasikan keduanya secara teoretis ini ditutup dengan bahasan tentang upaya Collins untuk mengembangkan teori konflik yang lebih integratif, terutama teori yang mengintegrasikan perspektif mikro dan makro.


Referensi : Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media Grup


Tidak ada komentar:

Posting Komentar